by Roosmala
Pudding
Standardnya: pudding coklat + vla + compote strawberry
Yang gak standard : dikasih hiasan lonceng buat momen Natal atau hiasan bunga mawar untuk dikirim/dibawa ke acara ulang tahun atau saat menengok orang sakit.

Rummikub
Kata Ade, Rummikub adalah gabungan 2 games: Rummy dan Mahjong.
Opa pinter main dan suka mengajak/mengajari tamu-tamu (baik tamunya, tamu anak-anaknya, bahkan tamu cucu-cucunya) ikut bermain Rummikub bersamanya. Di kala Opa sedang sendirian, tidak jarang Opa seolah-olah bermain dengan 3 lawan main, tapi sebenarnya Opa melawan dirinya sendiri.


Kain Mimbar

Mulai dari pembuatan pola gambar, pemasangan payet/renda/pita dan berbagai aksesoris lainnya dikerjakan dengan tangan oleh Opa dan belakangan dibantu oleh mas Aan.
Liturgi
Di kalangan sesama rekan pendeta, Opa dikenal sebagai ahli Liturgi (bidang studi yang dipilih Opa ketika di Australia khususnya berkenaan dengan Tata Ibadah Gerejawi).
Salah satu hasilnya adalah Buku Liturgi, yang menjadi panduan di berbagai gereja.

Wisma Manula Dorkas
Dipicu oleh adanya sumbangan dana dari seorang jemaat, yang diberikan langsung kepada Opa, dengan pesan “boleh dimanfaatkan untuk apa saja”, Opa tergerak untuk mendirikan Wisma Manula Dorkas.
Kata Opa, dari pengalamannya saat melakukan kunjungan pastoral ke jemaat, dia melihat banyak keluarga muda kesulitan untuk melayani dan mendampingi orqng tua mereka, terutama karena kesibukan pekerjaan. Di sisi lain, Opa juga prihatin melihat orang-orang tua yang kesepian sendiri di rumah.
Oleh karena itu, Opa semangat melakukan berbagai usaha, sehingga dengan bantuan berbagai pihak (GKI Maulana Yusuf dan juga jemaat dari GKI-GKI di Bandung), akhirnya Tuhan mengabulkan mimpi Opa untuk mendirikan WM Dorkas.
Di WM Dorkas, para lansia bisa mengisi hari-hari masa tuanya dengan berbagai kegiatan positif, di samping mereka tidak kesepian, karena ada teman-teman sebaya yang dengan mudah dapat mereka jangkau.

Nama para donatur Wisma Manula Dorkas diabadikan di depan setiap
Pintu Kamar. Opa menjadi donatur untuk memotivasi calon-calon donatur lainnya.



Harian Pikiran Rakyat & Majalah Pelita
Menurut beberapa mahasiswa angkatan tahun 70-80 an,
Opa adalah pengasuh Ruang Renungan Agama Kristen di Harian Pikiran Rakyat, yang tulisannya sering mereka baca.
Sayang tidak ada dokumentasi resmi, karena kantor Harian Pikiran Rakyat pernah kebakaran dan semua arsip masa lalu ikut hangus musnah.
Nah kalo di Majalah Pelita, Opa pernah mengelola kolom “Tanya Jawab”. Disitu Opa memakai nama samaran: “OrSaMuHa” kependekan dari “Orang Samaria Yang Murah Hati.
Adapun di kemudian hari nama samaran Opa itu dipakai oleh yayasan milik GKI Guntur, untuk membantu mereka yang tidak msmpu membayar biaya pengobatan.
Rumah Duka Bumi Baru
Waktu Opa meninggal, sebelum disemayamkan di GKI Maulana Yusuf, jenazahnya dimandikan dan sempat diinapkan semalam di RD Bumi Baru.
Semua biaya saat di Bumi Baru sampai ke kremasi, digratiskan oleh pihak Bumi Baru, dan menurut om Hendri Halim, sebagai ketua Dewan Pengawas di Bumi Baru, hal itu dilakukan sebagai rasa hormat mereka kepada Opa, karena Opa merupakan salah satu penggagas awal berdirinya rumah duka Bumi Baru, yang berdiri pada tahun 1969.
Salah satu yang selalu diingatkan Opa, adalah agar Bumi Baru jangan hanya melayani orang-orang kaya, tetapi harus dapat terjangkau juga oleh orang yang tidak mampu.
“Supaya orang miskin juga punya kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir yang layak kepada keluarganya yang meninggal” itulah mimpi Opa bagi Bumi Baru.
Untuk itu, sampai sekarang Bumi Baru punya pelayanan diakonia, yang memberikan pelayanan gratis berupa peti + perlengkapannya dan juga menyediakan ruangan duka bagi jemaat kurang mampu, yang membawa surat keterangan dari gereja dan domisilinya.

Nama tersebut diambil dari GKI Guntur yang sudah punya Komisi Kedukaan bernama Bumi Baru.
Mobil Jenazah pertama adalah sumbangan dari Astra International untuk GKI Taman Cibunut, kemudian dipergunakan oleh Bumi Baru dengan sewa.
Sinterklaas dan Zwarte Piet
Dari tulisan-tulisan jemaat lama Opa, Edo dan Ade akan nemuin cukup banyak cerita tentang Opa dan kedua tokoh di atas. Untuk generasi kalian, mungkin budaya Sinterklaas di lingkungan greja adalah sesuatu yang aneh, dan tidak alkitabiah. Nah, tanpa bermaksud membela Opa, mama merasa perlu menjelaskan bahwa di era sebelum tahun 1980-an, adalah hal umum, gereja-gereja di Indonesia menjadikan tradisi Sinterklaas sebagai bagian awal dari rangkaian Natal, tepatnya kedatangan Sinterklaas diperingati setiap tanggal 5 Desember.
Mama tidak tahu persis alasannya, tapi kemungkinan besar tradisi / budaya itu adalah bawaan dari apa yang lazim berlangsung di negara Belanda. Yang pasti mama masih ingat, zaman mama kecil, mama juga punya pengalaman,setiap tamggal 4 Desember malam, untuk menyambut kedatangan Sinterklaas, mama menyiapkan sepiring cookies buat Sinterklaas dan memasukkan sejumput rumput ke dalam sepatu, untuk kuda yang ditunggangi Sinterklaas. Selain itu mama juga akan menulis surat berisi permintaan hadiah kepada Sinterklaas. Keesokan harinya, di gereja atau kadang di sekolah, Sinterklaas akan datang dikawal dengan 1 atau lebih Zwarte Piet, yang membawa karung dan sapu lidi, yang selalu membuat kami, anak-anak merasa takut, karena sesuai doktrin yang dijejalkan orang tua kami, Zwarte Piet akan memasukkan anak-anak yang nakal, ke dalam karung, untuk kemudian dibawa ke Spanyol. Ih … serem kan … sementara Sinterklaas adalah tokoh baik yang akan memberikan kami hadiah sesuai dengan yang kami minta melalui surat kemarin.
Secara garis besar seperti itulah yang terjadi di gereja-gereja setiap tanggal 5 Desember.
Nah, dalam kenangan cukup banyak jemaat lama, event Sinterklaas ternyata meninggalkan kesan yang lumayan berkesan. Ada yang ingat bagaimana mereka dminta menjadi Sinterklaas atau Zwarte Piet oleh Opa, ada yang ingat bahkan Opa sendiripun pernah. berperan sebagai Sinterklaas, ada yang masih terkagum-kagum menceritakan bagaimana bagusnya kostum Sinterklaas buatan Opa, bahkan mereka berani mengclaimnya sebagai kostum Sinterklaas terindah di era itu.
Sementara ada juga yang mengingat event Sinterklaas tersebut sebagai kenangan masa kecil yang berkesan, dimana saat itu mereka sebagai anak kecil terpesona oleh kebaikan Sinterklaas, sekaligus was-was dimasukkan ke dalam karung oleh Zwarte Piet.
Yah, Sinterklaas memang bukan tokoh Alkitab, cerita tentang Sinterklaaspun tidak ada hubungannya dengan ke Kristenan, tapi realitanya cukup banyak orang yang mengenal Opa, mengkaitkan Opa dengan kenangan tentang cerita seputar Sinterklaas ……
Tinggalkan komentar