Tuhan Tidak Pernah Berhutang ?

by Roosmala

Dari sekian banyak kisah yang diceritakan Opa pada mama, ada satu yang buat mama berkesan, beberapa kali diulang dengan ekspresi dan nada yang konsisten,tidak pernah berubah. Tetap penuh semangat dan tetap penuh ketakjuban, yaitu cerita tentang pergumulannya saat papa mau kuliah. Dengan hitungan manusia, rasanya cukup berat bagi Opa untuk bisa membiayai papa sekolah di sekolah swasta.

Di satu sisi sempat terpikir, agar sesuai dengan penghasilannya sebagai pendeta, sebaiknya Opa realistis. Papa ambil sekolah yang cepat selesai, supaya bisa langsung cari uang. Kalau mau dikatakan secara gamblang mungkin begini bunyinya “Anak pendeta, harusnya tahu diri, gak usahlah ngotot mau sekolah tinggi-tinggi. D3 juga sudah cukup”.

Di sisi lain, Opa galau, setelah tanpa sengaja memergoki Oma sedang menangis. Rupanya Oma belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan, bahwa cita-citanya untuk melihat anak kesayangannya bisa menjadi sarjana, harus kandas karena status “anak pendeta” yang disandang sang anak.

Di tengah kegalauan itu, Opa mendapat giliran kotbah di sebuah GKI di Jakarta, dan seperti biasa Opa mempersiapkan kotbah dengan sebaik mungkin.

Sesampainya di Jakarta untuk akomodasi, Opa dikasih menginap di rumah salah satu anggota majelis jemaat greja tersebut.

Seperti umumnya yang terjadi pada pertemuan pertama, mereka saling bertanya dan saling bercerita tentang keluarga masing-masing. Sepintas Opa sempat bercerita tentang keluarganya, termasuk tentang papa yang baru lulus SMA, tapi masih belum ada kepastian akan melanjutkan kemana, karena terbentur masalah biaya.

Tanpa pernah Opa duga, dari sekilas pintas cerita tsb, majelis jemaat yang baru saja dikenalnya itu, memberitahu Opa, bahwa ada sebuah yayasan yang memberikan beasiswa. Dia menjadi penghubung bagi Opa dan yayasan tersebut.  Sungguh tidak pernah terpikirkan oleh Opa, lewat jalan berliku itulah, Tuhan bekerja, sehingga papa akhirnya berhasil memenuhi harapan Oma, menjadi seorang sarjana. Dan dengan modal pendidikan itu, papa berhasil “jadi orang” (Ade jangan bingung …. ini istilah orang-orang zaman dulu, “jadi orang” itu artinya “hidup mapan”).

Papa kerap merasa risih/gerah, kalau Opa lagi mengulang cerita itu, karena kesannya Opa pamer-pamer prestasi anak (a.k.a. dirinya).

Ge-er ya si papa, karena kenyataannya ternyata gak seperti itu.

Lagipula kalaupun Opa pamer, sebenernya ga salah-salah amat juga kan ya ? Semua orang tua pasti berharap dan mendoakan yang terbaik bagi anak-anaknya, dan kalau Tuhan mengabulkan doa dan harapan mereka, kemudian mereka menceritakan kebaikan Tuhan itu kepada orang lain, dimana coba salahnya ?

Bahkan salah seorang sahabat Opa bercerita kepada mama, bahwa sharing Opa tentang beasiswa itu sangat menginspirasi, membukakan matanya, bahwa bagi seorang pelayan Tuhan, kesempatan untuk mengalami dan menikmati berkat Tuhan (baik dalam bentuk materi, maupun dalam bentuk-bentuk lainnya) tidak perlu dikejar, karena hal itu akan datang dengan sendirinya, dengan cara-cara ajaib yang seringkali bahkan tidak pernah terlintas di pikiran.

Saat mendengar cerita tersebut, tiba-tiba mama teringat akan sebuah ungkapan yang tidak asing di antara orang Kristen : “Tuhan tidak pernah berhutang” dan dalam hati mama berkata … jauh sebelum ungkapan tersebut populer, orang ini sudah melihat kenyataanya melalui kesaksian hidup Opa.

Ya, bener banget, Tuhan memang tidak pernah berhutang..

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai