by Lanny Zakaria
Saat mendengar berita duka itu, berbeda dengan jemaat-jemaat lain yangbergegas melayat untuk memberikan penghormatan terakhir padanya, saya malah memutuskan tidak hadir melayat. Rasanya tidak sanggup melihat dengan mata kepala saya sendiri, boksu terbujur kaku di peti.
Tetapi mendengar kata-kata sambutan Davy dan Andito (melaui zoom), saya merasa sangat bersyukur, Tuhan berkenan menjemput boksu dengan cara yang sedemikian indah.
Didampingi oleh Davy yang pas datang berkunjung dari Jakarta, masih memegang HP dan WA-an dengan Lili. Hal yang membuat saya yakin boksu pergi tidak dalam keadaan kesakitan, karena pada dasarnya saya kenal boksu itu orang yang gak tahan sakit. Sakit sedikit saja pasti mengeluh.
Makanya waktu pagi itu kami membaca WA nya : “Aku sakit perut!” … kami yang sudah hafal tabiat boksu tidak sedikitpun mengira, bahwa beberapa jam setelah itu, Tuhan akan menjemputnya.
Bahkan ada yang menanggapi keluhan boksu dengan bercanda: “Mau saya belikan babi panggang om, biar sakit perutnya sembuh ?”
Ya, boksu memang sangat dekat di hati kami, bahkan kami, para jemaat lama sering dianggap “mengkultuskan” boksu (panggilan untuk Pdt Em. TS. Iskandar)
Padahal tidak seperti itu. Kami kadang juga kesal kok sama boksu.
Tetapi di samping segala kekurangan yang dimiliki boksu, ada satu kelebihan boksu, yang kalau saya boleh jujur, bisa saya katakan “belum ada tandingannya”, yaitu dalam hal ketulusannya berempati.
Di antara sekian banyak kenangan, saya akan menceritakan dukungan yang boksu berikan kepada kami dari kelompok UI (Usia Indah)
Saya bisa bilang dukungan itu bukan cuma 100% tapi 200 atau mungkin 300%.
Kejadiannya terjadi menjelang perayaan 50 tahun berdirinya GKI Maulana Yusuf.
Sebelumnya kami sudah mendapat persetujuan dari majelis jemaat untuk mengadakan acara tersendiri, yang akan kami selenggarakan di siang hari, dengan pertimbangan agar banyak anggota UI bisa hadir. Dengan pertimbangan tertentu, budget untuk acara kami dikurangi.
Tentu saja kami kecewa, dan bingung. Maka mengadulah kami kepada boksu.
Yang membuat kami respek kepada boksu, mendengar laporan kami, dia tidak memanas-manasi kami, bahkan dengan bijak dia bilang, dimana-mana akan selalu ada gap antar generasi tua dan generasi muda. Itu adalah hal biasa yang tidak bisa dihindarkan (boksu bahkan memberi contoh, sewaktu beliau menjadi pendeta di Cirebonpun –artinya boksu masih muda–, gap antar generasi itu sudah ada).
Ketimbang membiarkan kami larut dalam kekecewaan, kesedihan ataupun kemarahan yang tidak perlu, boksu memilih untuk mengucapkan kalimat ini : “Sudah Lan, aku bantu bikinkan acara voor de ouderen”
Dan benar, boksu langsung turun tangan, dari mulai menyiapkan naskah drama, memilihkan lagu-lagu sampai menyiapkan kostum dan ornamen yang dibutuhkan untuk mendukung acara tersebut, semua disiapkan sendiri oleh boksu, selesainya juga sudah last minute, karena kerjaannya makan waktu banget … waktu proses pengerjaan, kami sempat datang ke rumah boksu dan melihat kertas-kertas aneka warna berantakan di meja dan di lantai, tapi pada waktunya … beressss 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻. Boksu juga datang untuk memonitor latihan drama.
Puji Tuhan, niat baik acara Mengenang 50 tahun GKI Maulana Yusuf untuk kelompok UI berjalan dengan baik dan meriah.
Pada akhir tarian para penari menghampiri para sepuh, seraya memberikan bunga kertas, bnuatan Boksu.
Itu salah satu kenangan yang sangat berkesan buat saya.
Boksu juga berperan dalam kehidupan pribadi saya.
Orang-orang yang mengenal saya, pasti tau, saya adalah orang yang banyak mengalami kegagalan, termasuk dalam membina Rumah Tangga, saya gagal.
Saya selalu terharu, mengenang saat-saat itu … dimana saya sedang dalam kondisi sangat terpuruk, boksu datang ke rumah saya dan menanyakan kebenaran berita yang didengarnya. Dan saya menceritakan semua yang terjadi. Saya tau, dibanding orang-orang lain, boksu pasti yang paling kecewa, karena dia adalah pendeta yang memberkati pernikahan kami. Tapi walaupun kecewa, tidak ada kata-kata maupun nada suara menghakimi keluar dari mulut boksu.
“Sudah Lan, sekarang kamu jangan menengok ke belakang, lihat ke depan !!!”
Kata-kata klise … namun penuh empati, membuat hati saya terasa begitu hangat, membuat saya berani menatap masa depan, yang saat itu tampak gelap sekali.
Ya, itulah boksu, kata-katanya kadang nyelekit dan bikin orang sakit hati karena diucapkan sekenanya, tanpa disaring terlebih dahulu.
Tapi pada saat dibutuhkan, dari mulut yang sama, bisa juga keluar kata-kata yang penuh hikmat.. menyejukkan hati yang panas, atau menghangatkan hati yang beku.
Kami juga kadang kesal sama boksu, kalau dimintain tolong, sering menolak, dengan bilang : “wes aku ga ikut-ikutan. Aku wes tua .. “ Tapi pada situasi darurat, tanpa perlu kami minta, boksu mau turun tangan .. all out membantu menyelesaikan masalah.
Satu lagi yang kerap membuat kami kesal, saat boksu menolak niat baik kami untuk mengunjunginya. Bahkan pernah sampai bilang : “kalau kalian maksa datang, aku ga bukain pintu” Bagaimana kami tidak kesal coba, niat baik ditanggapi seperti itu. Sampai ada yang bilang : “yah udahlah, kan bukan kita yang ga mau nengok, tapi memang boksu yang ga mau ditengok”
Waktu saya ceritakan ini kepada Roosmala (mantu boksu), Roos tertawa dan bilang di keluarga juga boksu ulahnya sama.
“Papi emang suka ca-per (cari perhatian) ci Lan. Udah balik jadi kaya anak kecil lagi.
Kalo kita bilang mau dateng, pasti dibilang gak usah, papi lagi cape, ga mau terima banyak tamu dan banyak alasan lain.
Tapi kalau pada harinya kami datang, biasanya udah disambut dengan nasi goreng atau bubur. Artinya kan papi senang dan yakin kita tetap akan datang”
Hmmm … seingat saya, dari masih muda juga boksu memang gayanya begitu … gak apa dah, jadi trade mark yang berkesan buat semua.
One of a kind, special !!
Selamat Jalan Boksu.
Maaf saya tidak hadir untuk memberikan penghormatan terakhir secara langsung, tapi sampai kapanpun, saya akan selalu mengenang boksu sebagai orang yang layak saya hormati.

Para penari pada acara 50 tahun GKI Maulana Yusuf dengan bunga-bunga kertas di leher
dan kepala hasil karya boksu.
Tinggalkan komentar