by Susana Zakaria
Hingga pertengahan tahun 1981, Jakub dan saya tinggal di Bandung. Sejak kami menikah hingga kami pindah ke Jakarta, Pdt T.S. Iskandar, yang kami sapa dgn kata2 Dominee/Boksu Tjioe, memegang peranan penting dalam kehidupan keluarga kami.
Pernikahan kami yang dilangsungkan di GKI Kebonjati pada tgl 21 Januari 1967, diberkati oleh Pdt. Iskandar.
Ketiga anak kami, sewaktu masih bayi, dibaptis oleh beliau.
Demikian pula waktu saya harus angkat sumpah jabatan Notaris di Bandung, Pdt. Iskandar yang mendampingi saya.
Beliau adalah seseorang yang sangat baik budinya, tenang, ramah, rendah hati dan mudah diajak bicara dan yang oleh Tuhan diberi talenta pula dalam bidang kuliner dan kerajinan tangan.
50 thn setelah pernikahan kami diberkati oleh Pdt. Iskandar, kami pergi ke Bandung untuk mohon agar beliau sudi hadir pada pesta ulang tahun pernikahan emas kami, yang akan dilangsungkan pada tgl 15 Juli 2017 di Jakarta. Alangkah senangnya kami ketika beliau benar bisa hadir pada pesta itu dengan didampingi oleh cucu laki-lakinya.

Setelah itu kami masih sempat beberapa kali mengunjungi Pdt Iskandar di Bandung.
Pernah beliau nyeletuk, bahwa yang teringat sekali olehnya dari pemberkatan pernikahan kami di GKI Kebonjati ialah, bahwa saya waktu itu memakai kerudung pengantin yang sangat indah.
Dari perkataan itu tampak beliau punya cita rasa yang tinggi dalam bidang mode. Kerudung pengantin itu memang berasal dari Europa, hadiah pernikahan dari kakak perempuan saya yang waktu itu tinggal di Jerman.
Terakhir kami ke Bandung untuk mengunjungi Pdt Iskandar, ialah sebelum pandemi Covid 19 mulai merebak.
Kami sempat makan bertiga di restoran Puri Bambu, yang terletak di jalan Sindangsirna, dekat Karangsetra.

“Terimakasih Boksu Tjioe untuk semua kebaikan dan pertolongan yang kami sekeluarga boleh terima dari Boksu. Terimakasih Tuhan telah memberkati kami dengan menghadirkan Pdt T.S. Iskandar dalam kehidupan kami. Amin,”
Tinggalkan komentar