9 Hal Yang Kami Kenang Dari Si Oom

by Josua Wirjawan Santoso

ami sering memanggilnya “Oom Tjioe” (Singkatan dari Oom Tjioe Tjin Tjwan), itulah panggilan akrab yang biasa kami gunakan, untuk memanggil Pdt. Iskandar. Banyak kenangan manis dan Indah dari Oom, dalam hidup saya dan Lanny. Kami tidak mengerti, mengapa kami memanggil beliau dengan sebutan “Oom”? tetapi Oom bagi kami adalah sebagai layaknya orang tua, sahabat, teman, penasihat, mentor, sekaligus tentunya Pendeta kami, yang sangat kami cintai dan kami kasihi.

Ada beberapa peristiwa yang tidak dapat kami lupakan saat hidup bersama dengan Oom, antara lain, sebagai berikut:

I. “Mempertemukan/mempersatukan kami”

Oom banyak andil untuk “mempertemukan/mempersatukan” saya dan Lanny. Ketika itu kami masih berpacaran. Ya namanya pacaran, pasti ada pasang surutnya dalam hubungan kami.

Suatu ketika, hubungan kami sedang tidak terlalu baik. Mendekati perayaan Natal ketika itu, kami berdua mendapatkan tugas dari gereja untuk mengantarkan makanan, dan kami harus berkumpul di rumah Oom di Geusanulun, Bandung. Dan tanpa sepengetahuan kami, waktu itu Oom ternyata dengan sengaja mengatur agar saya dan Lanny, ditunjuk untuk bertugas dalam satu tim, sehingga kami harus berboncengan dengan motor untuk menjalankan tugas tersebut. Oom kadang punya feeling yang sangat tajam dan tepat. Sejak peristiwa itu, hubungan kami berdua, menjadi lebih dekat dan lebih hangat, dan tentunya terus nyambung, sampai sekarang.

II. Memberkati Penikahan kami.

Selain membantu “menjodohkan kami berdua”, Oom juga yang memberkati pernikahan kami berdua, yang dilakukan di GKI Juanda/Maulana Yusuf (Pos Bahureksa). Selain Kebaktian Pemberkatan Nikah kami yang dilakukan oleh Oom, Pengakuan Sidi kami berdua, juga dilakukan oleh Oom.

III. Atestasi pindah ke Jakarta

Tahun 1977, karena pekerjaan saya dipindahkan ke Kantor Pusat di Jakarta. Awalnya saya pindah sendiri dan indekos di daerah Grogol (Jakarta Barat, karena dekat dengan kantor saya, di daerah jalan Kopi, di Kota (dekat Pasar Pagi Jakarta) di Jakarta Barat. Tahun 1978, setelah saya dan Lanny menikah. Kami berdua tinggal di rumah kontrakan yang terletak di daerah Rawamangun (Jakarta Timur). Karena dari Rawamangun lebih dekat ke Salemba (Kampus Kedokteran Gigi UI, waktu itu ada di Kampus UI Salemba). Lanny masih harus menyelesaikan kuliahnya di UI, setelah kami pindah dari Bandung. Walaupun kami sudah berdomisili di Jakarta, tapi tidak ada niat kami untuk pindah ke anggotaan gereja. Sampai tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya, kami mendapatkan Surat Atestasi Pindah ke GKI Layur di Rawamangun (Saat itu Pdt di GKI Layur adalah Pdt. John Panuluh). Saya dan Lanny terkejut dan sedikit merasa “aneh”, kok kita seperti dipaksa pindah ke GKI Layur, padahal kami masih ingin berjemaat di GKI Maulana Yusuf/GKI Juanda saat itu. Awalnya kami heran serta “jengkel” juga sama Oom. Masalahnya Oom ngak pernah ngomong-ngomong sebelumnya, kalau mau dibuatkan Surat Atestasi Pindah. Saya sampai telpon Oom, “Oom kenapa saya kok dipaksa pindah, kenapa?” Lalu Oom jawab dengan tenangnya, begini: “Saya senang Wirjawan dan Lanny tetap di GKI Maulana Yusuf/GKI Juanda, tetapi karena kalian berdua sudah tinggal di Jakarta, sebaiknya kalian berjemaat di gereja yang dekat dengan tempat di mana kalian berdua tinggal. Karena domba harus dekat dengan gembalanya. Kalau ada apa-apa jadi mudah dan ada yang menolong.” Mendengar hal itu, kami berdua jadi mengerti, sadar dan terharu, serta lunturlah kejengkelan kami. Memang benar, pandangan Oom, bahwa domba harus dekat dengan gembalanya. Kami jadi lebih merasakan betapa Oom itu sayang dan sangat mengasihi kami berdua. Sampai-sampai memikirkan agar kami memiliki seorang gembala baru yang dekat dengan tempat tinggal kami” Terima kasih Oom.

IV. Oom hadir ketika Mamah saya meninggal.

Masih teringat, ketika mamah saya sakit dan di rawat di RS Kebonjati Bandung, saat itu tensinya terus menurun, mamah masih sadar dan sempat berpesan, “kalau sudah tidak dapat lagi kondisinya dipertahankan, beliau berpesan ingin meninggal di rumah saja dan tidak mau meninggal di RS. Kebonjati Bandung.”

Singkat kata, papah akhirnya membawa mamah pulang ke rumah, sesuai dengan permintaan dan keinginannya. Saat-saat menjelang meninggalnya mamah, Oom datang ke rumah, mendoakan kami sekeluarga, terutama ayah saya yang akan ditinggalkan oleh istrinya. Berbagai upaya sebelum mamah menghembuskan napasnya, oleh para juru rawat diupayakan untuk melakukan tekan-tekan di daerah jantungnya, agar napasnya bisa tetap bertahan. Nah, saat-saat seperti itu, Oom justru menasihatkan agar keluarga bersiap menerima kenyataan, bahwa mamah akan kembali pada pemilik kehidupannya, yaitu Yesus Kristus. Dan menasihati kami, agar merelakan mamah meninggal dengan tenang dan damai. Akhirnya papah memutuskan untuk menghentikan segala upaya untuk memperpanjang napas mamah. Dan tidak lama setelah itu, dengan tenang mamah menghembuskan napasnya yang terkahir. Oom, selalu hadir, ditengah-tengah keluarga saya, keluarga besar orang tua saya dan keluarga besar Lanny di Bandung, terutama pada saat kami mengalami kedukaan dan butuh penghiburan. Oom, selalu berpikir secara kritis dan realistis, dan ngomong apa adanya, walaupun kadang “menyengat” ha,ha,ha. Oom, selalu dekat dengan jemaat/dombanya. Oom termasuk Pendeta yang sangat rajin melakukan pelawatan/Bezoek pada jemaatnya. Menurut kami, Oom ini merupakan seorang gembala yang tipenya bisa ngemong, pandai bergaul dan dekat dengan dombanya/jemaatnya. Figur gembala seperti Oom ini, kami lihat sudah sangat kurang dan langka dalam kehidupan bergereja sekarang ini. Padahal pelawatan, dekat dengan jemaat dan mengenal para jemaatnya/dombanya sangat penting dan sangat menguatkan kehidupan jemaatnya. Figur gembala seperti Oom ini, membuat banyak jemaat yang berjemaat di GKI Maulana Yusuf betah, dan terus menjadi jemaat di gereja tersebut, secara turun temurun.

V. Sinterklas

Gara-gara Oom, saya pernah merasakan dan mempunyai pengalaman yang unik, yaitu: menjadi Sinterklas. Ketika itu saya masih kuliah dan duduk di Tingkat 2. Saya memang aktif di Komisi Pemuda Juanda, saya pernah menjadi Ketua Komisi Pemuda di GKI Juanda. Tidak pernah mimpi atau berangan-angan bahwa suatu ketika saya bisa menjadi Sinterklas. Saya kurang tahu, mengapa Oom menunjuk saya, menjadi Sinterklas. Mungkin ketika itu badan saya agak “besar”

(relative “gemuk” dan lumayan tinggi). Saya pikir postur tubuh saya cocok untuk jadi Sinterklas, menurut pandangannya. Oom ini, luar biasa sekali mendandani saya, mulai dari “makeup” wajah, serta pakaian Sinterklas, semuanya Oom yang melakukannya. Adapun semua perlengkapan Sinterklas dan Pit Hitam (pakaian, topi dengan segala perlengkapannya dan pernak- perniknya, serta “dandanan”/make up nya, semuanya dipikirkan, disiapkan, serta dikerjakan oleh Oom). Saya ditemani oleh 2 orang Piet Hitam yang membawa karung dan sapu lidi. Lucu juga kalau mengingat peristiwa tersebut. Oom, memang sangat berbakat dan berjiwa seni. Jarang ada Pendeta seperti Oom yang punya kemampuan juga sebagai “seniman”.

VI. Rumah Oom selalu terbuka untuk kegiatan gereja.

Ketika itu, gereja GKI Juanda belum mempunyai gedung gereja yang tetap. Kami bergereja di Aula SMAK Lyceum. Sehingga untuk melakukan kegiatan sehari-hari di luar hari Minggu, seperti melakukan pertemuan-pertemuan Majelis, Komisi- komisi, PA/Bible Study dan kegiatan gereja lainnya, sering kami lakukan di rumah Oom. Kami tidak tahu bagaimana Oom dan Tante, me-manage/mengatur kesibukan tersebut. Karena, setiap kami melakukan pertemuan, selalu disediakan minuman dan snack-snack, serta gorengan-gorengan, seperti pisang goreng dsbnya. Tante (Mamih Lily dan Davy, senangan masak dan sering membuat kudapan. Kalau beliau membuat sesuatu dan kami sedang mengadakan pertemuan di ruang meeting di rumah Oom, tentu kami mendapatkan makanan & kudapan tersebut). Di depan rumah Oom, ada ruangan yang berukuran +/- 3-4 M X 10 M. Dan di ruangan itulah biasanya pertemuan-pertemuan tersebut diadakan. Kami sangat merasakan kehangatan Oom dan Tante, melayani dan menyambut kami di rumah mereka. Sehingga bila kami sedang melakukan banyak kesibukan di rumah Oom, rasanya seperti kami sedang berada di rumah sendiri. Pada saat-saat seperti itu, kami sering bertemu dengan Lily dan Devy yang masih kecil-kecil, lucu-lucu dan sangat baik. Kami tidak tahu secara pasti selisih usia kami dengan Lily dan Davy, tetapi ketika mereka masih sekolah di kelas-kelas akhir SD dan awal SMP. Kami berdua sudah kuliah.

VII. Khotbah si Oom

Seorang pendeta baik atau tidaknya sering kali dinilai dan dilihat dari bagaimana cara beliau membawakan dan menyampaikan khotbahnya. Oom merupakan seorang pendeta yang selalu mempersiapkan khotbahnya dengan baik dan teliti. Saya dapat melihat hal itu dari khotbahnya yang selalu dituliskan dengan lengkap di kertas atau buku yang selalu dibawa ketika beliau khotbah. Khotbahnya cukup panjang dan lengkap, biasanya lebih dari 20 menit. Oom jarang sekali khotbah pendek dan jika khotbah cukup serius dan jarang “melucu”.

Beliau kalau khotbah, saya perhatikan toga hitamnya itu selalu “rapi dan neces”. Toganya selalu dipersiapkan dan biasanya, sebelum dipakai untuk khotbah, dirapihkan dengan baik dan diseterika serta digantung agar tidak kucal-kucal. Saya lihat persiapannya untuk khotbah sangat baik. Oom banyak membaca buku-buku referensi yang dapat mendukung isi khotbahnya. Perpustakaan buku Oom cukup lengkap dan tersusun secara rapih. Kami sering bertemu dan bercakap-cakap di ruang perpustakaan Oom yang sekaligus menjadi ruang kerja Oom juga. Kami sering juga berdiskusi tentang buku di situ. Buku Oom banyak sekali. Oom, punya hobby membaca. Dan hobby Oom sangat menginspirasi saya, sehingga saya juga sangat menyukai buku dan membaca buku-buku seperti Oom, sampai sekarang. Ketika Oom pensiun dan pindah rumah, buku- buku Oom banyak diberikan pada orang-orang dekatnya dan teman-temannya. Termasuk saya juga ditawari kalau mau ambil buku-buku yang diperlukan dan disukainya. Sayang saat itu, saya sudah pindah ke Jakarta dan waktu itu saya masih tinggal di rumah kontrakan, dan rumah kami tidak terlalu besar, sehingga saya tidak mengambil buku-buku yang Oom tawarkan. Sayang sekali kotbah- kotbah Oom yang selalu dipersiapkan dengan sangat baik dan bagus, tidak pernah dibuatkan menjadi sebuah buku, kumpulan dari khotbah-khotbah Oom.

VIII. Oom menguatkan keluarga mertua.

Papi Lanny, meninggal ketika Mami mertua masih sangat muda, berumur +/- 42 tahun dan keempat anaknya relative masih kecil-kecil. Lanny, sebagai anak tertua, ketika Papi meninggal berumur sekitar 15-16 tahun dan masih duduk di Kelas 1 SMP. Jadi kami bisa merasakan betapa Mami cukup sedih dan pastinya stress, ditinggalkan oleh Papi yang meninggal dengan sangat mendadak. Untuk membesarkan 4 anaknya, Mami kerja keras dengan menerima jahitan.

Mami mertua selalu bilang, beliau menjadi bisa sangat kuat karena Oom dan tante yang sering datang ke rumah Mami, untuk memberikan kekuatan dan penghiburan. Sungguh, kunjungan dan pelawatan yang dilakukan oleh Oom dan Tante tersebut sangat berarti dan sangat menguatkan Mami dan anak-anaknya. Sehingga sampai saat ini Mami dapat hidup dengan damai. Mami saat ini sudah berumur hampir 94 tahun. Hubungan baik Mami dan kami sekeluarga dengan Oom terus berlanjut, kami masih sering telpon,WA, video call,dan terakhir pada saat Hut Oom terakhir sebelum Oom meninggal, kami sempat mengucapkan selamat melalui video call.

Ketika Mami saya tanya, punya kenangan apa tentang Oom Tjioe ?”, Mami bilang  “Oom Tjioe orang yang sangat baik, Mami merasa “Kepok Tangan” pada Oom Tjioe.” (Kepok Tangan kiasan dalam Bahasa Jawa yang artinya berhutang bud)i, terhadap pelayanan, perhatian dan kasih sayang dari Oom terhadap Mami dan keluarganya yang diberikan oleh Oom, selama hidup Oom..

IX. Terima kasih Oom Tjioe.

Sekelumit cerita dan pengalaman yang kami tulis di atas tersebut merupakan serpihan kecil/singkat tentang Oom. Berbicara dan mengenang Oom ini, seperti kami sedang membaca dan melihat kembali sebuah film dokumenter “kilas balik” yang sangat indah serta berkesan dan selalu mengingatkan kami pada saat kami masih bergaul akrab dengan Oom, saat Oom masih hidup. Bagi kami Oom, masih hidup di dalam hati dan pikiran/ingatan kami yang tidak akan dapat dilupakan, selamanya. Oom selalu hadir dalam hidup keluarga kami, keluarga besar papah dan mamah saya, juga keluarga besar Papi dan Mami Lanny. Beliau sangat berarti bagi kami dan keluarga besar kami.

Last but not the least, Oom sebagai gembala jemaat, tidak pernah membeda-bedakan jemaatnya, kaya-miskin, tua -muda, dari manapun jemaat berasal, semuanya dilayani dengan baik, penuh perhatian dan sungguh-sungguh, tanpa ada perbedaan. Semuanya dilayani sama baiknya.

Terima kasih Tuhan, kami boleh diberikan kesempatan untuk berkenalan, bergaul akrab dengan Oom dan mendapatkan pelayanan, serta didikan rohani dari Oom, sebagai hambaMu dan Gembala kami yang begitu baik & setia.

“We love you Oom Tjioe, terima kasih tak terhingga kami ucapkan untukmu Oom, sampai bertemu di surga kelak Oom.”

Dituliskan kenangan ini oleh kami (Anak didik Oom Tjioe):

 Josua Wirjawan Santoso & Lanny W. Santoso

Jakarta, Minggu 30 Januari 2022.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai