by Timotheus Rachmat
Pendeta Timotius Iskandar, yang biasanya kami panggil dengan Oom Tjin Tjwan, kami kenal sejak lama sekali. Nama marga kami adalah Tjioe, semua berasal dari kota Malang di Jawa Timur. Mungkin keluarga kakek buyut kami bersaudara.
Keluarga saya pindah dari Malang ke Surabaya, lalu ke Jakarta dan kemudian menetap di Bandung.
Sekitar tahun 1970an saya bertemu lagi dengan Pendeta Iskandar, yang ditempatkan sebagai Pendeta untuk melayani umat di Bandung.
Beliau dan istrinya sering datang kerumah keluarga kami, dan ngobrol-ngobrol dengan orangtua saya dalam bahasa gado-gado, Indonesia, Belanda, campur Jawa..
Pendeta Iskandar itu daya ingatnya luar biasa, dia ingat tanggal lahir saya, dan istri saya . Tiap kali kami ulang tahun tidak lupa ditelpon diberi ucapan selamat.
Pendeta Iskandar sering banget membuat surprise, tanpa pemberitahuan sebelumnya, tahu-tahu dia sudah muncul didepan pagar rumah, sambil bawa makanan buatannya, dan masakan itu beneran enak, ini bukan omong kosong.
Rasa makanannya itu pas sekali, membuktikan bahwa masakan itu dibuat dengan “rasa”, bukan sembarang asal jadi.Salah satu yang sangat saya suka adalah Acar Ketimun yang kelihatannya simple, tapi Acar buatannya begitu enaknya, sampai saya sering makan itu hanya dengan nasi saja.
Kenangan pertemuan terakhir dengan beliau adalah saat Pendeta Iskandar datang kerumah saya kira-kira pada bulan Juli 2021 diantar oleh supirnya, jalannya dibantu dengan tongkat. Kontak telpon terakhir yaitu pada tanggal 15 November 2021, hari ulang tahun beliau dan pada Tahun Baru 2022.
Sekarang Pendeta Iskandar sudah menyelesaikan tugasnya dengan sempurna sebagai anggota Team Sukses Tuhan Yesus, setia membimbing dan menjaga domba2Nya, dan bersatu dengan istrinya dan mereka semua yang dikasihinya, hidup dalam damai dirumah Bapa Surgawi.

Tinggalkan komentar