by Topson Olopan Siagian
Katekisasi
Pertama kali bertemu dengan Pdt. Timotius Setiawan Iskandar atau yang lebih dikenal dengan singkatan Pdt. T.S. Iskandar atau Om Is sebagai panggilan akrab, adalah saat mengikuti pelajaran Katekisasi. Pertemuan Katekisasi pada zaman itu dilaksanakan di Jl. Geusanulun 9A. Waktu itu tempat ibadah masih di Aula SMAK Dago bernama GKI Juanda.
Sebagai seorang yang pendiam, selama mengikuti Katekisasi, setiap pelajaran saya ikuti dengan tidak banyak bertanya. Soalnya tidak tahu apa yang mau ditanyakan. Mungkin juga usia saya saat itu sudah saya anggap tua untuk mengikuti Katekisasi. Namun, menjelang dua atau tiga bulan sebelum dilakukan ibadah untuk sidi, hubungan mulai terasa cair.
Saya merasakan bahwa Pdt. Iskandar adalah orang yang serius, disiplin, terbuka, memberi perhatian kepada para katekisan, dan juga tegas dalam bertindak. Di sisi lain Om Is juga humoris garing (kadang kami para ketekisan tidak tahu apakah sedang serius atau sedang melontarkan humor, karena hampir tidak tampak bedanya).
Suatu saat sebelum jam pelajaran katekisasi dimulai, saya ditanya kenapa saya sipit. Dengan sengaja bermaksud humor, saya katakan : “waktu itu saya lahir sore-sore Om, saat melihat matahai terbenam.” Eh, Om Is tidak ketawa euy. Langsung saya jadi salah tingkah (takutnya Om Is serius dengan pertanyaan Itu).
Aku dan pacarku
Pdt. Iskandar tampaknya sangat memperhatikan kami (saya dan pacar saat itu). Karena Om Is adalah pendeta yang selalu melakukan perlawatan kepada para jemaatnya, maka tanpa pemberitahuan Om Is bisa tiba-tiba muncul ke tempat kos saya. Tentu saja tidak selalu bertemu dengan saya di tempat kos. Maklum datangnya tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan. Tapi memang juga karena pada saat itu belum ada telepon genggam. Telepon rumahpun tidak dimiliki oleh semua tempat kos, sehingga agak sulit jika Om Is ingin memberitahukan lebih dahulu. Tiap kali muncul pasti Om Is membawakan sesuatu untuk dimakan.
Perhatian Om Is terhadap pasangan muda cukup tinggi. Jika Om Is mengetahui bahwa anggota jemaatnya mempunyai pasangan, dan pasangannya juga dikenal oleh Om Is, yang saya ketahui, beliau akan mengunjungi kedua orang tersebut di rumah atau tempat kos mereka. Om Is kayaknya “memeriksa” kehidupan orang yang diperhatikannya.
Pada tahun 1992 kami menikah di Jakarta. Lalu kami kembali ke Bandung. Selama pengantin baru, agak banyak kali beliau mengunjungi rumah kontrakan kami. Saat baru beberapa hari pernikahan kami, pagi-pagi, tiba-tiba Om Is muncul di kontrakan kami, dan memeriksa kamar tidur kami. Untung saat itu kamar dalam keadaan rapi. Selimut sudah terlipat baik. Setelah lihat sana-sini, lalu kami diminta duduk dulu. Saya sebagai orang Batak, tentu punya bayangan yang agak traumatis, kalau diajak duduk begitu oleh orang tua, maka pasti langsung berpikir ada sesuatu yang serius nih untuk dibicarakan. Namun, saya keliru, setelah kami duduk, ternyata Om Is mengajak kami berdoa dan beliau berdoa untuk kami.
Pada waktu istri hamil, Om Is sering membawakan makanan. Kalau ditanya, selalu mengatakan kebetulan lagi jalan-jalan mencari makanan, maka sekalian membelikan untuk bayi dalam kandungan. Tapi kan saya dan istri tahu rasa makanan yang dibawa oleh Om Is. Dari rasa yang kami cicipi, kami merasa pasti makanan itu dimasak di rumah Om Is. Karena saat itu antara rumah Om Is dengan kontrakan kami tidak terlalu jauh, Om Is sering datang dan berdoa untuk bayi dalam kandungan istri. Betapa Om Is memperhatikan kami. Itu yang kami rasakan hingga saat ini.
Pada waktu kelahiran anak pertama kami, sesudah beberapa hari pulang dari Rumah sakit, sore-sore Om Is berkunjung ke rumah kami, kali ini tanpa membawa apa-apa. Hanya berdoa untuk anak kami, lalu pulang.
Hangout
Salah satu kegemaran Om Is adalah hangout (istilah masa kini). Setiap Rabu dan Sabtu, kami para pemuda selalu ada Persekutuan Doa dan Persekutuan Pemuda di gereja. Kadang-kadang Om Is datang dan kalau beliau datang biasanya akan mengajak salah satu dari kami, kalau ditanya ke mana, maka dijawab jalan-jalan dengan beliau. Saat pertama diajak, dalam hati ada perasaan agak sungkan. Tapi karena beliau mempunyai tujuan, biasanya akan diminta terus agar ikut.
Dalam perjalanan, beliau mengajak saya berbincang-bincang tentang hal yang ringan-ringan hingga yang lumayan memerlukan jawaban jujur, bukan basa basi. Lalu mengakhiri perjalanan hari itu, Om Is mengajak makan di rumah makan kesukaannya. Melalui perjalanan-perjalanan hangout ini saya pribadi merasa ada mentor yang selalu siap membantu bila saya ada pergumulan untuk dibicarakan.
Pengalaman khusus bersama Om Is adalah, setiap kali berkeliling kota, ternyata beliau agak suka ngebut (entah sengaja apa tidak), dan hal itu membuat saya agak “jantungan”, ah deg-degan kayaknya. Jadi tiap kali beliau mulai ngebut, maka secara otomatis dari mulut saya keluar desisan seolah ikut melakukan pengereman.
Awalnya saya tidak terlalu perhatikan desisan saya. Otomatis saja keluar, mungkin mengimbangi rasa deg-degan di hati saya. Akhirnya jadi kebiasaan, tiap kali saya pergi bersama Om Is, dan Om Is mulai ngebut maka saya akan mendesis seolah supaya direm.
Suatu kali beliau tersenyum dan mengatakan : “Saya senang dengan rem tambahanmu.” Ternyata Om Is memperhatikan desisan saya dan beliau sengaja ngebut untuk menggoda saya 😀
Selamat jalan Om Is.
Tinggalkan komentar