“Ayah” Over-Protective

by Novy M. Takarina

Figur ayah yang tak pernah kumiliki sejak usia 4 tahun, papiku meninggalkan keluarga kami 7 bersaudara demi perempuan lain, seolah kutemukan kembali di dalam diri Om Is (panggilanku untuk Pdt. TS. Iskandar alm).

Pernah sekali waktu saya, Topson (pacar saya) dan teman-teman kostnya yang 2 orang wanita kakak adik ikut KKR di Gelora Saparua.

Pulangnya sudah malam, mau balik ke tempat kost, ada rasa tidak enak, karena waktu itu saya kost di rumah tante Flora, kalau malam gerbangnya sudah dikunci. Akhirnya saya menginap di kamar teman-teman kost Topson yang 2 orang kakak adik itu.

Ternyata hari itu Om Is bertamu ke rumah tante Flora, dan mengetahui kalau saya tidak di rumah. Besoknya ketemu di gereja, habis saya dimarahi, “alasan apapun pokoknya tidak boleh tidak pulang.”

Juli 1989. Keluarga besar Topson, mengetahui bahwa kami berpacaran. Mereka tidak setuju karena saya bukan orang Batak. Tentu saja saya sampaikan masalah ini pada Om Is. Sebagai figur ayah, dia menegur Topson.

“Kalau kamu gak serius sama Novy, lepasin! Itu ada orang yang nanyain ke saya, mau sama Novy.” ucapnya tegas sambil menampar pelan pipi Topson. “Novy sudah dibuang keluarganya ! Ikut Tuhan sudah susah, pacaran sama kamu jadi lebih susah ! Kalian sudah sama-sama dewasa, bisa ambil keputusan sendiri”  Saat itu, di dalam diri Om Is aku melihat bentuk proteksi seorang ayah yang siap berdiri membelaku.

Tetapi “ayah” yang overprotective ini kadang bisa juga berlagak cuek.

Suatu sore, tanpa memberitahu terlebih dahulu, tiba-tiba dia sudah ada di depan rumahku.

“Mana anakmu …Saya mau berdoa buat dia.” sambil langsung berjalan menuju box tempat anakku sedang bermain sendiri.

Usai berdoa, tanpa basa-basi, tanpa duduk untuk minum, Om Is langsung berjalan menuju pintu keluar.

Waktu aku bilang : “Topson belum pulang, Om”, dengan cuek dijawabnya : “Aku kemari mau berdoa buat anakmu, bukan mau ketemu Topson.”

Waktu kami tinggal di jalan Gagak, acap kali juga tiba-tiba Om Is mengetuk pintu menyodorkan bungkusan makanan. “Saya masak kebanyakan.”

Lalu langsung pulang tanpa sempat masuk ke rumah.

Begitulah Om Is,  kadang lucu, kadang mengharukan.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai