by Sujarwo
Mencari Tempat Kos
Setelah memutuskan untuk mengambil kuliah Magister Manajemen pada kelas Eksekutif (kuliah pada hari Sabtu-Minggu) di Universitas Padjadjaran Bandung pada tahun 2003, maka langkah saya berikutnya adalah mencari tempat untuk kos.
Menjadi kebiasaan saya untuk membangun silaturahmi jika saya pergi ke mana saja, terutama ke luar kota, agar ada kerabat/kenalan yang menjadi tujuan, sehingga pikiran dan perasaan menjadi tenang karena tidak merasa sendirian di tempat baru/asing. Di Bandung, keluarga Pdt. Budiono menjadi tujuan utama saya.
Sejak mereka masih di Malang, mereka selalu memberikan sambutan hangat jika saya bertandang ke rumah mereka.
Ketika saya menceritakan sedang mencari kos, Pdt Budiono menawarkan bantuan untuk mencarikan informasi di antara para jemaat GKI Maulana Yusuf yang tinggal di sekitar kampus dan menyediakan kamar untuk kos. Saya pulang ke Sukabumi setelah urusan administrasi selesai sambil menunggu informasi dari Pdt. Budiono perihal kos.
Beberapa hari kemudian Pdt. Budiono menelepon saya dan menginformasikan bahwa ada yang bersedia menyediakan kamar untuk saya di sekitar kampus. Namun demikian, beliau ingin berkenalan dulu dengan saya.
Hari Sabtu berikutnya saya segera bergegas ke Bandung untuk merespon permintaan tersebut.
Pendeta Emiritus yang Penuh Kasih
Inilah pertemuan pertama saya dengan Pdt. (Em) Timotius Setiawan Iskandar di rumah beliau di Jl. Ciung—belakang Telkom Bandung.
Beliau menerima saya layaknya seorang bapak yang menyambut anaknya yang baru muncul setelah dewasa (seperti Irawan yang baru muncul di hadapan Arjuna menjelang perang Bharatayudha). Banyak pertanyaan yang diajukan beliau menyangkut latar belakang, pekerjaann, pelayanan, dan terutama keluarga saya. Sepertinya beliau sedang menjajaki apakah saya cukup pantas menerima uluran kasih beliau. Tanpa beban saya menceritakan dan menjawab semua yang ditanyakan beliau.
Menjadi Anggota Keluarga
Akhirnya saya diterima tinggal di rumah beliau, tapi tidak sebagai anak kos, karena pada dasarnya beliau memang tidak menyewakan kamar kos. Beliau menerima saya lebih karena ingin menolong saya yang membutuhkan tempat tinggal selama kuliah di Bandung sesuai pengantar dan penjelasan yang disampaikan Pdt. Budiono kepada beliau. Diharapkan saya juga bisa menjadi kawan beliau berbincang jika kebetulan saya ada di Bandung nantinya. Saya hanya dihimbau untuk menyediakan perlengkapan pribadi sendiri. Keharuan begitu menyergap dan menguasai saya sehingga saya hanya melongo saja mendengar hospitality yang ditawarkan dan didemonstrasikan beliau.
.
Hari pertama perkuliahan, saya datang ke Bandung pada Jumat sore supaya kehadiran saya tidak terlalu mengganggu Pak Iskandar seandainya beliau hendak beristirahat lebih dini. Beliau menyampaikan beberapa instruksi yang menjadi pedoman bagi saya untuk berperilaku di rumah itu, antara lain: saya tidak perlu berpusing-pusing turut mengurusi kebersihan atau hal-hal lain menyangkut kesejahteraan di rumah itu. Beliau tidak secara khusus akan menyediakan makan bagi saya, tetapi apabila pada waktu makan saya ada di rumah dan kebetulan beliau juga tidak sedang keluar rumah, maka kami akan makan bersama.
Pada kenyataannya nantinya saya tidak pernah dibiarkan melewatkan sarapan dan makan malam di rumah. Wajib! Beliau juga berpesan agar saya tidak perlu repot-repot membawakan oleh-oleh atau makanan dari luar. Saya diberi kunci-kunci cadangan untuk saya pergunakan mengakses rumah berkat tersebut agar tidak saling menimbulkan ketergantungan dan saling tunggu.
Diangkat Anak
Sejak itu setiap Jumat malam atau Sabtu pagi saya datang ke Bandung, kuliah sepanjang hari Sabtu dan Minggu, lalu Minggu sorenya pulang ke Sukabumi. Waktu berbincang saya, meskipun agak sempit, saya gunakan semaksimal mungkin untuk mengobrol dengan Bapak (begitu saya memanggil beliau setelah pada suatu kesempatan beliau mengangkat saya sebagai anak, di samping anak-anak angkat beliau yang lain). Obrolan kami berkisar pada seputar pelayanan, gereja, suasana kenangan Kota Malang, serta keluarga. Namun kadang-kadang juga peristiwa politik maupun olah raga yang lagi viral. Bagaimanapun juga, tema keluarga menjadi tema yang paling diminati beliau, sehingga saya banyak bercerita tentang keluarga muda saya serta bagaimana pengalaman baru dikaruniai seorang anak. Bapak sangat menaruh perhatian pada penyelenggaraan rumah tangga anak-anaknya.

Suatu kali Bapak menyodori saya sebuah buku kecil yang banyak bertuliskan tulisan orang-orang yang pernah mengunjungi beliau. Mereka diminta menuliskan apa saja yang berkesan, demikian pula dengan saya. Di buku itu saya menuliskan sebaris sajak tentang respons saya atas kebaikan dan penerimaan beliau yang berkenan menolong, menampung dan mengangkat saya sebagai anak.

“semua anak adalah putra bagi orangtua yang penuh kasih, tapi tidak semua orangtua adalah bapak bagi anak yang membutuhkan kasih ……. Bapak adalah BAPAK itu.”
Rupanya beliau berkenan atas ungkapan perasaan dan respons saya itu, dan rupanya Bapak mempunyai banyak anak angkat dari latar belakang yang memiliki kisah perjumpaan yang berbeda-beda dengan beliau. Salah satunya adalah Edwin Daryono, rekan kerja saya di BCA. Ia menjadi anak angkat beliau ketika kuliah di Bandung dan berjemaat di GKI Maulana Yusuf, jauh sebelum bekerja di BCA. Jadi dari segi silsilah anak angkat, Edwin adalah abang angkat saya. “Koh Edwin?” hehehehe ……. wagu banget! Namun ternyata hal itu secara tak langsung menyambung kembali komunikasi saya dengan Edwin yang tak lagi intens karena kami kini bertugas di tempat yang berlainan di BCA.
Konfirmasi Lapangan
Pada suatu pagi, di pertengahan Januari tahun 2004, secara mengejutkan Bapak memberitahu kami kalau beliau sudah sampai di Sukabumi dan bermaksud mengunjungi rumah kami. Dengan penuh sukacita, tetapi tetap dengan diselimuti keheranan yang besar, kami menyambut Bapak dan berupaya menjamu beliau sebisa-bisanya dengan menyuguhkan masakan dari dapur sendiri (kekikukannya serasa menjadi peserta MasterChef yang ditunggui Gordon Ramsay). Dalam percakapan, saya menanyakan keperluan beliau ke Sukabumi sehingga berkenan menyempatkan diri mampir ke rumah kami. Kami terbengong ketika Bapak menjelaskan bahwa beliau memang sengaja ke Sukabumi untuk mengunjungi kami, sehingga bisa mengenali kebiasaan dan keseharian kami. Ini adalah cara dan upaya beliau mengenal secara langsung kehidupan rumah tangga anak-anaknya, melakukan konfirmasi lapangan langsung dengan mendatangi keluarga mereka. Hal itu merupakan wujud kepedulian beliau terhadap anak-anaknya serta keluarganya, dan untuk meyakinkan diri sendiri bahwa anak-anaknya mempunyai relasi yang baik dengan Tuhan dan sesama dalam kehidupan sehari-hari. Kami sangat bersukacita dan merasa diberkati dengan kedatangan Bapak ke rumah kami.
Di lain waktu kami sekeluarga pergi ke Bandung karena ada kawan kami yang menikah. Kami menginap di rumah Bapak. Anak kami yang sedang lincah-lincahnya bergerak ke sana kemari, pegang ini dan itu, rupanya membuat Bapak sedikit gelisah sehingga mengingatkan kami untuk menjaga Minerva—anak kami itu—dengan lebih ketat. Hal ini sangat bisa dimaklumi, karena di setiap sudut dan sisi rumah beliau terdapat benda-benda dan pernik kecil yang indah, kerajinan tangan, yang dikumpulkan beliau dalam waktu yang lama sebagai oleh-oleh/suvenir ketika berpergian, baik di dalam maupun ke luar negeri. Dari situ kami tahu bahwa Bapak sudah tidak terlalu telaten lagi dengan anak kecil, tepatnya balita yang sudah mulai aktif ke sana-kemari sendiri. Setelah itu kami senantiasa menjaga dengan lebih ketat anak kami jika berkunjung ke rumah beliau, baik ketika bertepatan dengan waktu kuliah maupun ketika melakukan silaturahmi wajib karena kami kebetulan sedang di Bandung, agar tidak menimbulkan kegelisahan yang tidak perlu bagi beliau.
Tetap Aktif di Masa Emiritasi
Meskipun berstatus emeritus, bukan berarti Bapak mempunyai waktu yang sangat longgar untuk diisi dengan istirahat saja. Beliau justru mempunyai banyak kesibukan. Tidak semua orang dalam usia aktif bisa bergerak dan menggeluti begitu banyak hal seperti beliau dalam usia emiritus. Bapak banyak mengalokasikan waktu-waktu tertentunya untuk berkunjung, mengurusi keseharian, dan menyediakan fasilitas-fasilitas tertentu bagi Panti Werda Dorkas, dan tentunya pelayanan rohani untuk menjaga dan menumbuhkan spiritualitas warga penghuninya.
Koki yang Andal
Memasak menjadi salah satu kegiatan utamanya di masa emeritus. Tak jarang beliau memasak untuk keperluan konsumsi kegiatan tertentu di gereja, tetapi juga tak jarang beliau memasak bagi keluarga-keluarga tertentu, dan tentunya yang tetap menjadi perhatian utama beliau adalah Panti Werda Dorkas.
Bapak selalu memasak dalam ukuran dan porsi yang besar, karena jarang diperuntukkan bagi perorangan, tetapi lebih ditujukan bagi orang banyak atau keluarga. Sup merah adalah masakan favorit beliau yang sangat digemari oleh semua orang, bahkan anak kecil sekali pun, hingga ada yang membuat testimoni: “jangan pernah bercerita tentang enaknya sebuah makanan jika belum merasakan sup merahnya Opa Tjioe.” (Nama Tionghoa Bapak adalah Tjioe Tjin Tjwan).
Namun demikian, sekali dua Bapak juga pernah mengajak saya makan di luaran. Kami makan di restoran pilihan beliau untuk merayakan ulang tahun saya. Juga ketika beliau ingin menjamu istri dan anak saya yang ikut ke Bandung untuk mengunjungi beliau, berbareng dengan saya yang berangkat kuliah. Bapak juga pernah mengajak saya makan di warung tenda pinggir jalan yang menyediakan masakan Jawa Timur untuk memanjakan kerinduan saya mengecap rasa masakan-masakan khas Jawa Timur di warung itu. Bukan tempatnya, tetapi rasa dan kualitaslah yang penting bagi beliau.
Craftsman yang Kreatif dan Hebat
Di samping memasak, ternyata Bapak mempunyai passion dan sangat kompeten berkreasi melalui kerajinan tangan dan jahit-menjahit. Beliau piawai, terampil dan kreatif membuat perangkat dan perlengkapan ibadah, terutama menciptakan corak, motif, dan hiasan pada perangkat ibadah itu. Stola, kantong persembahan, dan kain mimbar senantiasa tersaji agung dan indah, melebihi simbol yang biasa ditampilkan dalam gereja. Beliau begitu tekun secara customized menjahit sendiri dengan tangan hiasan maupun ragam hias yang mewarnai perangkat-perangkat ibadah tersebut.
Meskipun ada beberapa yang merupakan permintaan/pesanan gereja atau pendeta tertentu, tetapi beliau lebih sering dan lebih senang membuatnya untuk tujuan yang digagas beliau sendiri, tanpa sepengetahuan dan beban ekspektasi dari penerimanya. Sering kali gereja atau pendeta yang menerimanya sangat terkejut dengan pemberian itu, karena tidak pernah berpikir untuk memiliki perangkat seindah yang diberikan beliau kepada mereka. Meskipun dibuat secara sederhana, manual, dan homemade, tetapi kesan agung, indah, kreatif, dan mewah tampak jelas pada hasil karya Bapak.
Berkurangnya Komunikasi
Setelah lulus dari kuliah saya benar-benar jarang ke Bandung dan menjumpai Bapak, sehingga komunikasi dengan beliau pun menjadi jarang. Saya sekeluarga pindah ke Jakarta. Bapak pindah ke rumah dr Andito dan istri (Ci Lily, yang adalah putri sulung Bapak) di Ciumbuluit. Tidak lama setelah Bapak pindah, dr Andito sekeluarga pindah tugas ke Jakarta, sehingga sehati-hatinya praktis Bapak tinggal sendiri ditemank mas Aan, asistennya yang setia.
Saya sekeluarga sempat mengunjungi beliau di rumah itu. Rumah asri dan penuh kenangan di Jalan Ciung rupanya telah dijual. Saya juga bersyukur sesekali masih bisa ketemu Bapak di Jakarta, ketika beliau berkunjung ke keluarga Ci Lily di Jakarta dan bergereja di GKI Pondok Indah. Bapak sangat bersyukur dan memberkati saya ketika mendapati saya melayani sebagai Penatua Jemaat di GKI Pondok Indah. Beliau menyampaikan pesan agar saya tetap setia melayani di bidang apa pun sesuai dengan kemampuan dan kompetensi yang telah banyak Tuhan karuniakan kepada saya. Saya mengamini amanat beliau.
Bapak Berpulang
Saya tetap menjaga komunikasi dengan Bapak melalui WA. Meskipun sering hanya sekadar beruluk salam dan menyampaikan kabar sukacita, tetapi kadang-kadang juga saling berkirim gambar atau video indah yang penuh makna. Bahkan tak jarang pula saling berkirim humor yang sama-sama kami mengerti, terima, dan tertawakan. Terus terang saya kaget dan merasakan kehilangan yang mendalam ketika mendapat kabar dari Pdt. Albertus Patty bahwa Bapak meninggal dunia pada tanggal 12 Januari 2022 sore. Tidak saya dengar kabar atau berita bahwa Bapak sakit atau dirawat di rumah sakit, seolah-olah beliau tiba-tiba dipanggil menghadap ke hadirat Tuhan.
Namun rasa penasaran itu terjawab ketika mendengar cerita dan kesaksian dari Koh Davy pada ibadah tutup peti, 13 Januari 2022, dan penjelasan dari dr. Andito pada ibadah pelepasan jenazah Bapak, 14 Januari 2022, sejenak sebelum diberangkatkan ke krematorium.
Mengikhlaskan Kepergian Bapak
Bapak adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Beliau adalah pemenang dalam pertandingan yang dijalani dalam hidupnya. Bapak telah menanam banyak benih kebaikan yang terus tumbuh dan berkembang. Meskipun tanpa suara riuh, benih itu jelas membekas dan terpatri di dalam hati sanubari anak-anak (baik anak kandung maupun anak angkatnya) serta orang-orang yang pernah merasakan kasih beliau. Tuhan sangat berkenan atas hidup Bapak sehinggga dimampukan menjadi berkat bagi banyak orang serta mendatangkan kemuliaan Tuhan di segenap perjalanan hidup beliau.
“Selamat berbahagia di sisi Tuhan yang Bapak layani seumur hidupmu, Bapak …. Sampai berjumpa kembali nanti di surga sana dalam persekutuan yang benar dengan Allah Tri Tunggal.”
Tinggalkan komentar