Beliau Tidak Mau Diistimewakan

by Jeffrey Samosir

Ketika kakak, adik, dan saya mulai sekolah Bandung tahun 1985, kami menjadi simpatisan di GKI Juanda. Tak lama kemudian, orang tua menyarankan agar kami pindah keanggotaan dari gereja asal dan menjadi anggota GKI Juanda, sekarang GKI Maulana Yusuf. Itulah awal saya mengenal Pdt. Iskandar. Intens mengikuti kegiatan ekstra di kampus, saya tidak aktif di gereja. Pengenalan saya atas Pdt. Iskandar utamanya melalui kebaktian minggu. Mendengar kotbahnya yang tegas dengan penjelasan terstruktur dan runtut selalu memberi hal baru. Bagi saya seorang mahasiswa pengajarannya terasa berat, saat yang sama menimbulkan rasa ingin tahu.

Mengenalnya melalui keseharian, orang segera tahu bahwa Pdt. Iskandar adalah seorang yang terbuka dan hangat. Saya dan keluarga adalah satu dari sekian banyak yang menikmati keramahtamahan Om Is, panggilan akrab kami kepadanya. Dijamu makan di rumahnya bak tamu spesial. Caranya menyambut dan melayani kita yang masa itu masih muda sungguh menyentuh dan tak terlupakan. Om Is benar-benar mau repot untuk berelasi dan mengenal mendalam yang dilayaninya.

Saat saya pertama kali menjadi penatua, Om Is berkunjung ke tempat saya dan memberi saya sebuah buku yang belakangan saya sadari sebagai sesuatu yang saya cari dan perlukan dalam melaksanakan tugas pelayanan.

Om Is kadang mampir di kantor saya untuk sekadar ngobrol atau memberikan oleh-oleh perjalanannya dari luar kota. Dalam kesempatan-kesempatan itu, Om Is menanyakan perkembangan anak-anak kami serta keadaan keluarga termasuk orang tua saya yang dia dengar menjalani perawatan. Sekali-sekali kami juga membicarakan kehidupan dan dinamika gereja khususnya GKI Maulana Yusuf. Tanpa terasa, pembicaraan santai itu mengisi dan memperkaya perspektif saya. Status emeritus tidak membatasi perhatiannya pada pembangunan gereja-Nya. Sebelum pulang, Om Is selalu mengajak berdoa atas hal-hal yang kami obrolkan.

Terjadi berulang-ulang, saya sadari bahwa kunjungan Om Is bukanlah kebetulan. Kedatangannya adalah cara Tuhan menyatakan penyertaan-Nya dalam kehidupan dan pergumulan saya.

Om Is adalah orang yang tidak mau diistimewakan. Dengan semua pelayanannya, kita merasa perlu memberi perhatian dan menunjukkan penghormatan khusus baginya. Namun, gesturnya seolah mengatakan: “Saya tidak memerlukannya, layanilah mereka. Teruskan yang saya contohkan dalam melayani umat-Nya.”

Menerima pelayanan mimbar maupun pelayanan keseharian darinya menyadarkan kita bahwa beliau  selalu melakukan pelayanan dengan kesungguhan dan persiapan yang serius. Tidak boleh anggap enteng. Melayani siapapun di kesempatan manapun harus dengan sungguh-sunguh dan semangat yang terbaik.

Bersyukur kepada Tuhan mengalami keajaiban kasih-Nya melalui pelayanan dan kehidupan Pdt. Em. T.S. Iskandar. Terima kasih Om Is telah memberikan kepada kami bukan saja Kabar Baik dari Allah tetapi juga hidupmu. Semuanya memperlengkapi kami untuk menatalayankan kasih-Nya. Terpujilah Allah.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai