Bohong Berjamaah di Era Pandemi

by Roosmala

Melarang Opa bersosialisasi sebenarnya sama saja dengan menyiksa Opa.

Karena bagi Opa, bertemu orang, menjamu mereka, atau datang mengunjungi mereka adalah salah satu sumber kebahagiaannya. Demikian juga pergi berbelanja bahan-bahan untuk dimasak menjadi berbagai macam signature dish-nya adalah kegiatan harian rutin untuk Opa mengisi hari tuanya.
Tapi apa mau dikata, ketika pandemi Covid-19 melanda dunia, “di rumah saja” adalah harga mati bagi siapapun, termasuk bagi Opa.

Di awal-awal masa pandemi, papa sama tante Lili kewalahan, terutama karena Opa sendiri belum terlalu memahami seberapa berbahayanya virus Covid-19 itu. Sehingga susah sekali meminta beliau “di rumah saja”.  Mas Abdul juga kewalahan, karena kalau Opa mau pergi dan mas Abdul gak mau anterin (sesuai perintah tante Lili), mas Abdul diomelin. Pernah mas Abdul sembunyiin kunci mobil, disuruh cari sampai ketemu.

Sampai akhirnya, kita berkonspirasi, bikin skenario bohong berjamaah. Mas Abdul disuruh cabut accu mobil. Terus kalau Opa mau pergi, mas Abdul oke-in, tapi kan kalo accu dicabut, mobil ga jalan. Kita pikir, dengan begitu Opa akan diam. Ternyata ngga lho, setelah Opa engga ada, mama baru tau, kalo Opa tuh berusaha minta bantuan kesana kemari,. Om Herman dimintain tolong periksain mobil Opa, om Charlie, om Haryono dan tante Elly serta Pdt Wee dimintain tolong panggilin montir, tapi montirnya pulang lagi, setelah mas Abdul kasih tau bahwa mobilnya bukan rusak, tapi memang sengaja dicabut accunya, supaya Opa nggak bisa pergi-pergi.

Apa boleh buat, demi kebaikan bersama, kitapun jadi ngarang skenario berjamaah.

“Lagi pandemi … bengkel-bengkel pada tutup … gak ada montir … gak ada onderdil”

Banyak juga yang cerita, mereka sebenarnya pengen -seperti yang biasa mereka lakukan- mengunjungi Opa, tapi mereka ga berani datang, apalagi kalau aktivitas mereka mengharuskan mereka ketemu banyak orang, pasti kan, mereka takut bawa virus yang membahayakan Opa.

Belum lagi adanya PSBB dan PPKM juga membuat kita yang di Jakarta gak bisa leluasa ngunjungin Opa.  Sempat ada satu titik, dimana Opa sudah menyerah, mau ikut ke Jakarta, tapi saat itu jalan Jakarta-Bandung sudah terlanjur ditutup. Dan ketika jalur sudah dibuka kembali, Opa udah ilfil, udah gak mau lagi ikut ke Jakarta.

Kasian ya Opa, Mama jadi sedih, membayangkan, bagaimana awalnya Opa masih berjuang dengan segala cara untuk bisa keluar rumah, bertemu dengan orang-orang, ngobrol-ngobrol menghilangkan kebosanan, tapi akhirnya dipaksa oleh situasi dan kondisi pandemi, Opa terpaksa menyerah pasrah …

Untuk mahluk sosial yang sangat suka bersosialisasi seperti Opa, menghabiskan waktu “di rumah saja” itu pastinya berat sekali.

2 tahun pandemi telah merebut banyak sukacita Opa🥲

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai