Boksu

by Kristian R.H.H.

Pendeta (E.M) T.S Iskandar, terbiasa dipanggil oleh orang orang dekat dan mengasihinya dengan sebutan BOKSU. Bagiku, beliau tidak sekedar sosok pemimpin gereja, melainkan juga sebagai “bapak atau pembina mental spiritual” yang sederhana, tetapi sikap dan ucapannya berkualitas sangat baik dan yakin seringkali dihayati mendalam oleh banyak orang yang belajar, mendengar dan berdiskusi dengan beliau. Ucapan beliau merupakan peredam amarah dan selalu ada spirit untuk mengingatkan tentang prioritas akan harapan, iman dan kasih, dalam hidup. Wajar, bila boksu tidak selalu bisa menghafal kental nama tiap tiap individu, karena begitu banyaknya orang yang dilayani, didampingi beliau atau berkomunikasi dengan berbagai tingkat dan lapisan masyarakat di masa hidupnya.

Bagiku, yang mengenal (tahu dan mengikuti kebaktian) sejak tahun 1984, saat kuliah dan mengikuti ibadah di LYCEUM, SMAK DAGO, JL. Ir H. Djuanda, Bandung, beliau tidak pandai bercanda lepas, terutama saat berkhotbah, tetapi sering dan banyak sekali pendapat beliau yang selaras dengan FIRMAN TUHAN untuk mudah direnungkan, diperdalam dan sebisa mungkin dipraktekkan dalam hidup sehari hari, dalam pemaparannya. “Banyak domba dombanya yang mengingat boksu sebagai gembala yang luar biasa”, terutama bagi mereka yang sejak remaja, dewasa, hingga lansia, sudah mengenalnya.

Aku, terkesan dan ingat bagaimana boksu melalui mimbar khotbah berpesan dan merancang serta memikirkan terwujudnya jemaat yang mandiri. Yaitu GKI jln. Maulana Yusuf yang bagi anak muda berkuliah, melihat koyak lusuhnya LYCEUM, awalnya ragu menjadi semangat turut berdoa pada Tuhan agar terjadi…..

Dan terbukti terjadilah. Ucapan beliau mampu membangunkan energi anak muda (anggota maupun simpatisan) untuk terlibat dalam kegiatan Mulia tersebut.

Nasehatnya kuat, mendalam dan berwibawa saat disampaikan dengan tenang, terstruktur. Bila ada lupa dan ingat, atau terkesan diam (disangka banyak orang ketus), bagiku ya begitulah sosok bapak yang menyenangkan dan menghibur. Aku bisa tertawa dengan kasih, saat melihat dan mendengar apa pun ucapannya dan gerak gerik sikap boksu di masa tua beliau. Tahun tahun terakhir, saat aku dan sahabat berkunjung ke Ciumbuleuit, beliau tetap setia hening di teras belakang dengan buku harian, karya BILLY GRAHAM dan agenda kunjungan di dekatnya. Diam diam aku bergumam di hati “ Ohh… Boksu baca buku itu, oneday aku mau baca juga dehhh buku itu..he..he..he”. 2018, aku (Krist R.H.H), pak Yakobus Setyoko, pak Charlie Lukman, pak Lukman dan bu Sandy Suryana, bu Lilyana W, serta bu Lucy Aylinawaty mengunjungi boksu lagi di siang hari dan beliau berpesan, “ Kalian semua sibuk, tetapi sebaiknya sesekali persekutuan, saya beri nama PHILADELPHIA ya ”.

Tidak ada satupun diantara kami yang mendebat. Diam dan … puji Tuhan, saat ini kami terus terkoneksi dan bertambah tambah individu dalam komunikasi yang kebetulan saja di eranya digital ada WAG (Whatsapp Group), BLESSING, kelompok komunikasi yang tidak harus selalu sepakat, tetapi semua diskusi, obrolan, canda tawa bahkan kritikan mempererat persekutuan tersebut. PHILADELPHIA (Kasih Sayang Persaudaraan), kata yang dipilihkan oleh boksu.

“Dear boksu….selalu doakan kami yaaa. Saat ini PHILADELPHIA sudah punya WAG BLESSING loh, kami masih pada sibuk sibuk ini itu, tetapi masih terhubung kok, boksu”.

Boksu bahagia bersama Tuhan Yesus. AMIN.

Bandung, Rabu, 2 Februari, 2022.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai