by Linawati Sutrisno
Saya mngenal Pdt TS Iskandar alm sudah lama sekali, sejak suami (Wie Tjan) masih hidup. Saya selalu panggil beliau dengan sebutan boksu. Boksu itu orangnya ramah, senang menolong yang kekurangan, penuh kasih.
Boksu juga senang sekali masak. Sebelum pandemi, kalau saya ke pasar Cihapit, sering berjumpa dengan beliau sedang belanja bahan-bahan untuk dimasaknya.
Makanan hasil masakan boksu enak. Kalau boksu ulang tahun, waah di meja penuh makanan. Kalau semua tamu sudah kenyang, terachir saya yang disuruh bereskan dan bagikan makanan yang biasanya tersisa banyak sekali. Dessert yang tidak pernah ketinggalan adalah pudding coklat yang di kasih strawberry.
Boksu sangat mengasihi warga Dorkas, kalau beliau jalan-jalan ke Lembang, selalu beli tahu untuk diantar ke Dorkas. Kalau ada acara Natalan Dorkas, boksu selalu tanya ke saya : “Lien saya masak apa ya ?”
Kalau saya ulang tahun, dikasih pudding dalam pyrex besar, atasnya ada hiasan dari pudding juga. Kadang dikasih macaroni schotel yang enak sekali.
Kalau boksu yang ulang tahun, saya bawa lumpia.
Boksu suka bercanda. Kalau saya tanya: “boksu sehat ?”, maka dijawabnya : “sehat !! apalagi setelah makan lumpia”
Sebelum pandemi boksu sering mampir kerumah saya,
Waktu awal-awal pandemipun, boksu kadang masih mampir.
Sepertinya bosan di rumah terus menerus, jadi memaksa supir mengantarkannya sesekali makan di luar. Pulangnya boksu mampir ke rumah membawakan makanan yang tadi dimakannya bersama supirnya.
Belakangan ini boksu sudah hampir tidak pernah keluar rumah.
Sering WA, katanya ga bisa tidur, sehingga malam-malam jam 1.00 masih kirim WA “good night”…. Saya jawab “good morning” paginya.
Yaah saya merasa kehilangan dengan dipanggil pulangnya boksu, tetapi saya bersyukur dia pulang ke pangkuan Bapa dengan tidak menderita. Amin.

Tinggalkan komentar