by Lydiana
Sebagai istri alm Chris, saya mengenal keluarga Pdt Iskandar sejak kami belum menikah.
Kami biasa menyapa Pdt Iskandar dengan panggilan Oom Tjiu. Beliau juga kadang-kadang memanggil dengan nama lama kami.
Andai Chris masih ada, tentu dia punya cerita yang jauh lebih banyak tentang Oom. Kami berhutang budi pada Oom, tapi terus terang saya sudah banyak lupa dan juga saya tidak pandai menuangkan pengalaman saya dalam tulisan.
Tapi saya mengingat Oom Tjioe adalah sosok penuh perhatian kepada kami, baik dalam suka maupun duka.
Waktu kami menikah di kota kelahiran kami di Sukabumi, pada hari Sabtu tanggal 17 Juli 1976, beliau rela datang untuk memberkati kami di GKI Sukabumi.
Di Bandung, kami diajak aktif pelayanan di gereja Lyceum Dago.
Ada saatnya saya atau Chris sakit, Oom dan Tante perhatian melawat sambil membawakan makanan.

Tahun 1984, kami sempat pindah domisili ke Wonosobo.
Oom pernah menengok kami ke Wonosobo, dan bermalam di rumah kami.
Tahun 1993 kami kembali ke Bandung dan Chris ikut aktif juga di gereja yang sudah pindah ke jalan Maulana Yusuf 20.
Tahun 1996 kami diberkati Tuhan mempunyai rumah sendiri di jalan Sukagalih, dan Oom memimpin pengucapan syukur di rumah baru kami.
Saya pernah diajak Oom ke rumahnya di jalan Ciung untuk belajar membuat puding coklat.
Sampai kami beranak mantu cucu, Oom tetap banyak perhatian
Demikian pula saat Chris sakit jantung dan harus bypass di tahun 2010, maupun saat Chris kena Cancer paru di tahun 2017, lagi-lagi Oom ambil bagian. Dengan penuh perhatian, Oom selalu melawat , mendoakan, membacakan firman dan juga suka bawa makanan.
Berkat doa-doa Oom dan semua yang mengasihi Chris dan tentunya juga berkat anugerah Tuhan yang Pengasih, walaupun dalam kondisi sakit, Chris masih bisa aktif bekerja dan juga masih bisa aktif melayani di Dorkas.
Saat kondisi kesehatan Chris mulai menurun dan sejak Desember 2019 Chris keluar masuk RS Immanuel, Oom dan teman-teman gereja rajin melawat, menghibur dan menguatkan Chris dan juga saya sebagai istri yang mendampingi Chris.
Oom pernah menanyakan Chris pengen makan apa.
Chris minta dibuatkan nasi goreng, Oom memenuhi permintaan Chris, dan segera membawakan nasi goreng ke RS sewadah besar sampai kami yang menunggu juga kebagian, semua ikut makan nasi goreng buatan Oom, sungguh kami terharu.
Pada saat Chris kritis di bulan Februari 2020, Oom adalah pendeta pertama yang kami hubungi. Saat itu beliau sedang di Jakarta digantikan Pdt.Budiono.
Pendeta-pendeta yang lain juga datang.
Setelah Oom balik ke Bandung, Oom sempat datang melawat. Oom sedih karena saat itu tampaknya Chris sudah lelah dan tidak merespon Oom.
Ketika akhirnya Chris pulang ke rumah Bapa, Oom datang bersama Lili dan memberi sepatah dua patah kata sambutan.
Setelah Chris meninggal, saya dan Oom masih suka kontak via WA. Beliau menanyakan siapa yang menemani saya di rumah.
Terakhir saya kontak kirim ucapan selamat Natal 2021
Sampai akhirnya tanggal 12 Jan 2022 kami dikejutkan kabar Pdt Iskandar meninggal.
Oom sdh dibebaskan dari tugas/tugas duniawi dan sudah bahagia bersama Tuhan di surga.
Terima kasih kepada keluarga alm Pdt Iskandar yang memberi kehormatan kepada saya untuk untuk berbagi pengalaman tentang hubungan kami dengan beliau.
Selamat jalan Oom. Terimakasih untuk semua perhatian Oom kepada keluarga kami.
Tinggalkan komentar