by Lili Tandian
Perkenalanku dengan “Oom Boksu” -demikian aku memanggil beliau- terjadi ketika aku pindah ke Bandung dan berjemaat di GKI Juanda pada tahun 1982. Pada saat itu beliau mengunjungiku untuk sekedar berkenalan, bercerita tentang keluarga dan jemaat yang dilayaninya. Rupanya itulah caranya mendekati seorang anggota jemaat yang baru, sesuatu yang mungkin sudah jarang dilakukan oleh para Pendeta saat ini.
Dengan berjalannya waktu, aku mendapat kesan ternyata Pdt. Iskandar seorang yang sangat memperhatikan kebutuhan dan kehidupan “domba-domba” yang Tuhan percayakan kepadanya. Pada saat seseorang membutuhkan bantuan, beliau tidak segan-segan mencarikan jalan keluar. Perhatiannya bagi jemaat yang berusia lanjut kerap dinyatakan dengan melakukan kunjungan khusus, dan tak jarang juga membawa sesuatu. Bagi orang yang tidak mengenalnya secara pribadi, kadang ada kesan beliau seorang yang keras karena gaya bicaranya yang beraksen Jawa terdengar keras bagi telinga orang Jawa Barat. Tetapi di balik ketegasannya, ada kelembutan hati yang kerap terlihat dari tindakannya. Pdt. Iskandar telah berhasil menjadi sosok seorang bapak bagi setiap anggota jemaat. Seorang bapak yang kadang harus berkata keras untuk sesuatu yang perlu ditegur, tetapi tetap mencerminkan kasih.
Untuk waktu yang cukup lama, Pdt. Iskandar merupakan pendeta tunggal di GKI Juanda, sampai datang Albertus Patty sebagai calon pendeta di jemaat itu di tahun 1986. Cara Pdt. Iskandar mempersiapkan calon pendeta muda itu cukup unik. Beliau memberikan jabatan Ketua Majelis Jemaat (yang seharusnya dijabat oleh seorang Pendeta) kepada TTK Albertus Patty, yang pada saat itu masih berstatus Tua-tua Khusus. Hal ini sesuatu yang tidak lazim dilakukan pada waktu itu. Tetapi dengan berbuat seperti itu, Pdt. Iskandar memberikan kesempatan besar bagi penerusnya untuk belajar dan berkarya secara luas, sambil tentunya memberikan pengarahan bila diperlukan. Suatu metode pembelajaran yang baik, dan terbukti dari hasilnya.
Pada saat Pdt. Iskandar memasuki masa Emeritus, beliau benar-benar menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan jemaat kepada penerusnya. Akan tetapi beliau tidak pernah meninggalkan anggota jemaat yang pernah dilayaninya. Beliau kerap masih mengunjungi anggota jemaat sekedar untuk menjaga tali silaturahmi, sambil membawa makanan buatannya. Rupanya beliau cukup peka untuk mengunjungi orang-orang yang perlu dikunjungi.
Bukan hanya anggota jemaat, GKI Maulana Yusuf sebagai Gerejapun mendapat perhatiannya. Kebutuhan yang kelihatannya kecil, ternyata masih mendapat perhatiannya. Kain mimbar, kantong persembahan dan pernak pernik lainnya yang dibutuhkan jemaat selalu disediakan olehnya, dan itu hasil karyanya sendiri. Bagi saya ini sesuatu yang luar biasa, yang jarang dilakukan oleh orang lain. Kasih dan perhatiannya kepada Jemaat Tuhan dan anggota jemaat ternyata tidak pernah luntur, walaupun sudah memasuki masa Emeritus.
Yang paling berkesan, pada saat Oom Boksu dikunjungi dalam suatu perlawatan, beliau selalu menyediakan makanan layaknya menjamu tamu kehormatan. Rupanya hobbi masaknya disalurkan pada saat menerima kunjungan. Beliau juga selalu menanyakan keadaan orang-orang yang mengunjunginya dan mendoakan mereka satu persatu, bukannya minta didoakan oleh orang yang mengunjunginya. Sifat kebapakannya yang memperhatikan anak-anaknya sangat nyata dalam momen-momen seperti itu.
Oom Boksu yang penuh perhatian ternyata pernah 2 kali membuat kejutan dalam hidupku. Suatu kenangan yang tidak akan pernah terlupakan. Peristiwa pertama terjadi di pesta pernikahanku 7 Desember 1985. Di tengah-tengah resepsi pernikahan, Oom Boksu hadir dengan kostum Sinterklaas didampingi oleh 2 orang Zwarte Piet. Sisipan acara yang tak terduga ini merupakan surprise bagi keluarga dan para undangan.
Peristiwa yang kedua, ketika Oom Boksu hadir di Bumi Baru sewaktu suami tercinta dipanggil oleh Tuhan pada tanggal 4 Maret 2019, padahal pada waktu itu kondisi Oom Boksu sudah lemah dan sulit untuk berjalan. Kehadirannya untuk memastikan bahwa aku dapat menerima kenyataan pahit itu, dan terlihat jelas di wajahnya ada kelegaan ketika kukatakan bahwa Wisuka telah menyelesaikan tugasnya sebagai orang tua, kedua anak kami telah menikah dan Tuhan telah memberikan yang terbaik. Kalaupun pada saat itu Oom Boksu tidak hadir, semua orang akan memakluminya. Tapi itulah hati seorang bapak yang selalu memperhatikan orang lain.
Pada tahun-tahun terakhir hidupnya Oom Boksu sering mengatakan bahwa ia telah lelah dan ingin segera pulang. Akhirnya Tuhan menjawab kerinduan hatinya pada tanggal 12 Januari 2022. Oom Boksu telah berbahagia bersama Bapa Surgawi sesuai dengan kerinduan hatinya. Selamat berbahagia Oom Boksu, Tuhan pasti menyertai anak, mantu dan cucu yang Oom tinggalkan. Kita bersyukur bisa mengenal Oom Boksu, dan belajar banyak tentang bagaimana mengisi hidup dengan kasih dan perhatian dari Oom.
Tinggalkan komentar