by Pdt Iswanto
Perjumpaan dan perkenalan kali pertama saya dengan Pdt. TS Iskandar terjadi tahun 2007. Saat itu sebagai calon pdt saya ditempatkan di GKI Pengampon untuk menjalani proses Masa Persiapan Calon Pendeta (MPCP) dan pada bulan Oktober di tahun tersebut gereja mengadakan perayaan ulang tahun ke-70 GKI Pengampon, untuk itu pende ko ta2 yang pernah melayani di GKI Pengampon diundang untuk acara tersebut, salah satunya adalah Pdt. Ts Iskandar, yang berkenan hadir dari Bandung.
Daripada tidur di hotel. beliau lebih memilih untuk menginap di pastori sebelah gereja, yang saat itu menjadi tempat tinggal sementara saya.
Mulailah perkenalan & percakapan dengan beliau, dimana salah satunya beliau berkata “wis aku jadikan anak ya, bisa panggil aku papi !”.

Selesai acara, beliau tidak langsung balik tetapi masih tinggal beberapa hari di Cirebon, dan kemudian beliau mengajak saya untuk menemani beliau menginap di tempat kenalan/teman beliau alm. Bp Soewito Setiabudi di Villa Sangkan Urip – Linggarjati.
Pada tahun 2008, GKI Pengampon mengadakan retreat jemaat di Hotel Gunung Putri – Lembang dan saat itu beliau menyempatkan waktu untuk datang dan saat itulah foto bersama kami pertama kali diambil (dengan alm. Pak Ekotomo yang memotretnya)….
Pdt. TS Iskandar pernah membuat kejutan, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, tiba-tiba beliau menemui pacar saya (yang saat itu mengajar sebagai guru di BPK Penabur-Bogor).
Pacar saya (yang sekarang menjadi isteri saya) kaget, karena memang belum tahu dan belum kenal sebelumnya, hanya ayahnya berkata pada pacar saya, “sebuah berkat kalau kamu didatangi oleh pdt sepuh.”
Interaksi kami berjalan dan berlanjut…terkadang beliau ke Cirebon, dan saat saya dan keluarga ke Bandung, kami selalu menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Pdt. TS Iskandar.
Dalam pengalaman bersama, lebih seringnya beliau yang menyapa atau menanyakan kabar terlebih dahulu 🤭 walaupun dengan sapaan-sapaan singkat, seperti “apa kabar” “kepriben” atau “howdy”. Dari pengalaman bergaul dengan Pdt. Ts Iskandar saya belajar salah satunya adalah keakraban/kehangatan.
Ketika bertemu kemudian memeluk, dan cipika-cipiki.
Sesuatu yang dulu asing dalam masa kecil saya.
Menjelang akhir, salah satu wujud perhatiannya adalah memberikan saya jas beliau (ditambah stola, juga beberapa dasi 2 buah pin, bentuk kangguru dan bentuk burung merpati)

Awalnya beliau inginkan saya ambil langsung jas tersebut supaya juga bisa bertatap muka, tapi karena situasi pandemi maka akhirnya jas tersebut dikirimkan.

Dan sebelum papi berpulang, pada tanggal 10 Januari 2022 beliau masih menanyakan kabar saya, sedang saat itu saya sedang mau naik gunung Merbabu
[10/1 08.49] Ts Iskandar; pdt: Kepriben nang kabare ?
[10/1 12.58] Iswanto: Lagi munggah gunung merbabu pi
[10/1 13.22] Ts Iskandar; pdt: Yo wis ! Seneng2 wae yo? Ojo lali oleh2 nggo aku yo?
Sehari kemudian beliau mengabarkan kalau beliau sedang sakit dan masuk rumah sakit. Pada tanggal 12 Januari dari Merbabu saya tiba kembali di Cirebon dan siangnya saya dikabarkan oleh ibu Santi Budiono bahwa papi meninggal dunia.
Saya hadir untuk memberikan penghormatan terakhir, dan ke dalam genggaman jari-jarinya yang dingin dan kaku saya selipkan gantungan kunci Merbabu yang sudah saya persiapkan sebagai oleh-oleh untuknya.
Tinggalkan komentar