by Muslinang
Beberapa hari setelah Om Iskandar berpulang, saya menerima WA dari Roosmala (menantu Om Iskandar) yang meminta kesediaan saya untuk ikut menuliskan kesan-kesan saya tentang Om Iskandar.
“Boleh seputar Artaban, boleh juga cerita yang lain.” begitu message yang saya terima.
“Artaban ??” Apa dan siapakah Artaban yang dimaksud ?
Terus terang saya tidak ingat, tapi tidak perlu waktu terlalu lama untuk merecall memory saya, begitu Roosmala mengirimkan foto cuplikan naskah drama tersebut (katanya ketemu waktu bongkar-bongkar lemari Om Is), saya langsung ingat !!! Artaban !!! yes Artaban, bagaimana bisa saya lupa nama itu …
dan saya katakan pada Roosmala : “Wah !!! Cerita ini menyegarkan saya di siang ini.”
“ORANG MAJUS KE EMPAT” itulah judul drama yang akan dipentaskan di GKI Juanda, di masa saya masih seorang pemuda. Om Iskandar selaku produser, merangkap sutradara dan penulis naskah meminta saya menjadi pemeran Artaban, yang merupakan tokoh utama dalam drama tersebut.
Tentu saja saya dengan senang hati menerima tawaran itu, karena dari naskah cerita yang diketik sendiri oleh Om Iskandar, saya dapat menangkap alur cerita yang jelas dan sangat menyentuh.

Semangat dan keseriusan Om Is saat memimpin latihan demi latihan dengan cepat menular kepada kami para pemain. Hal ini membuat saya selalu berusaha bersungguh-sungguh dalam setiap latihan, dan menghafal naskah bagian saya, walaupun seingat saya naskahnya cukup panjang.
Terselip kenangan kebersamaan tak terlupakan , ketika di suatu petang menjelang latihan terakhir, Om Is mengatakan kami harus mengukur badan untuk keperluan pembuatan kostum yang akan kami pakai saat pementasan nanti, dan kemudian dalam suasana akrab dan menyenangkan, kami berjalan kaki bersama menuju rumah sang penjahit … Ya begitulah, walaupun latihan-latihan membuat kami lelah, tapi kedekatan yang beliau tunjukkan membuat kami tidak canggung berinteraksi dengan beliau. karena beliau tidak pernah memposisikan diri lebih tinggi daripada kami. Saya juga melihat beliau melakukan semuanya sepenuh hati, bukan hanya demi kesempurnaan pertunjukan dramanya, tetapi lebih daripada itu juga untuk menyampaikan pesan indah dari drama tersebut.
Dipicu oleh kenangan seputar Artaban, membuat saya bersemangat menulis tentang Om Iskandar, dan saya memilih “Gembala Berjiwa Seni” sebagai judul tulisan saya,
Saya mengenal Om Iskandar sebagai pendeta jemaat yang sangat jelas betul karakter gembala-nya. Di balik gaya bicara dan suaranya yang sering terdengar cukup tegas dan terkadang terkesan kurang dekat dengan pendengarnya (mungkin karena biasa berkotbah), sebenarnya beliau adalah seorang yang sangat memperhatikan setiap anggota jemaat dengan cukup mendalam. Ini benar-benar nampak dan saya rasakan saat saya terlibat kegiatan bersama beliau maupun dalam pembicaraan mengenai hal-hal pribadi antara beliau dan saya. Saat itu saya merasakan seorang yang sedang memusatkan perhatian buat saya dalam urusan yang sedang saya hadapi, tidak sekedar menemani saya sebagai Pendeta yang sedang bertugas.
Ada dua komentar atau nasehat yang berkesan buat saya dari Om Iskandar, terkait perannya sebagai gembala yang baik bagi kami para pemuda gereja saat itu.
Hal pertama beliau sampaikan pada saat membahas rencana kegiatan kunjungan Paduan Suara Komisi Pemuda ke Pemuda HKBP Jakarta. Acara ini tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit dibandingkan acara internal rutin, dan seringkali menjadi bahan diskusi panjang. Namun saya tidak menduga beliau justru mendukung rencana tersebut dengan alasan (tidak persis kata-katanya): “Alangkah baiknya bila para pemuda menemukan pasangan hidup di lingkungan gereja….”
Hal kedua, komentar beliau ketika seorang pemuda merasa kecewa terhadap sejarah orangtuanya yang dianggap tidak baik : “Ya, itu yang terjadi dengan orangtuamu, kamu tidak berhak menghakimi. Tanggungjawabmu adalah fokuskan dirimu untuk tidak melakukan hal yang sama untuk keluarga kamu nanti”. Nasehat yang akhirnya membuat sang pemuda tidak lagi merasa kepahitan dengan orangtuanya, tetapi mampu mendoakan dan mengasihi hingga orangtuanya dipanggil Tuhan. Beliau adalah Gembala yang mampu membawa jemaatnya tidak terlarut dalam masalah, tetapi menuntun kepada pemikiran yang positif dan membangun.
Untuk urusan seni, beliau adalah salah satu masternya. Saya menyaksikan seorang pendeta yang tidak hanya bicara hal-hal rohani, namun juga memiliki cita rasa seni yang tinggi dan sangat aktif terlibat dalam kegiatan seni. Seperti pada pementasan drama “Orang Majus ke Empat” itu, Om Is pun ikut terjun langsung, merancang dan menyiapkan dekor untuk panggung
Kegiatan Sinterklaas adalah salah satu contoh lain tentang kesungguhan hati beliau dalam melakukan sesuatu bersama orang lain. Beliau terjun langsung mulai dari perencanan, perekrutan tim (beliau sebagai Sinterklaas, dan secara langsung merekrut saya dan teman saya menjadi Piet Hitam), persiapan detil (penyiapan kostum dan asesoris), penjadwalan hingga pelaksanaan kunjungan (kendaraan, dsb). Ini dilakukan ditengah kesibukan utama beliau yang tidak ditinggalkan sebagai hamba Tuhan menjelang Natal.
Soal masak-memasak sudah bukan hal asing buat beliau yang bukan hanya dikenal senang masak, tapi juga jago masak, dan senang membuat masakan buat orang lain. Kami, saya, istri dan ibu saya pernah diundang beliau ke rumah Jl. Ciumbuleuit untuk ngobrol dan menikmati makan malam yang sengaja disiapkan beliau. Saya menjadi mengerti bahwa orang akan sangat puas menikmati masakan, bila dimasak oleh seseorang yang memasak dengan sepenuh hati untuk kepuasan yang memakannya, bukan karena kewajiban atau rutinitas semata.
Di saat kami masih bisa bertemu sebelum pandemi y.l., beliau tidak jarang ‘menyapa’ saya lebih dulu.
Hal lain menarik lainnya adalah sosok beliau yang sejauh saya amati menunjukkan sikap bijak seorang Hamba Tuhan senior yang sudah tidak menjabat Pendeta. Beliau tetap rajin mengikuti kebaktian menyatu bersama jemaat biasa, bahkan melakukan pelayanan sebagai jemaat biasa, antara lain menyediakan makanan yang dimasak sendiri untuk acara kebersamaan di Bahureksa. Saya selalu mengambil pelajaran dari sikap beliau, bahwa beliau konsisten menjalankan apa yang menjadi bagian yang ditunjukkan Tuhan buat beliau.
Ya, Om Iskandar telah meninggalkan teladan yang baik, mengakhiri pertandingan dengan baik, melakukan segala sesuatu untuk Tuhan dengan penuh kasih kepada Tuhan dan manusia.
Terimakasih Tuhan, atas berkatMu untuk kami melalui Om Iskandar !
Nang Januari 2022
Tinggalkan komentar