by David Gemilang
Masa kecil saya di era tahun 70an,
Saya percaya bahwa masing-masing anak memiliki memori masa kecil bersama orang tuanya, memori pribadi ini yang ingin saya bagikan dalam cerita berikut, yang bagi saya terasa unik dan melekat dalam kenangan indah masa kecil bersama papi.
Ketika SD saya lebih suka bermain atau menggambar daripada belajar, sehingga sampai perlu dibantu mami untuk mempelajari hafalan ataupun hitung-hitungan. Papi disela kesibukannya, selalu mencari-cari peran lain yang bisa dia kerjakan untuk membantu saya.
Selain membantu mengerjakan tugas prakarya, salah satu yang sampai kini meninggalkan kesan mendalam bagi saya adalah apa yang dilakukan papi ketika saya mulai belajar ilmu bumi. Papi membuatkan saya peta buta dalam ukuran besar, hampir sebesar yang dimiliki sekolah. Pulau Sumatera, jawa, Kalimantan dst. .. Lengkap.
Ketika itu saya belum mengenal yang namanya “skala” – Saya lihat papi membuat peta dalam ukuran besar dengan cara membuat kotak-kotak pada peta asli yang kecil – kemudian pada lembaran karton besar juga dibuatnya kotak-kotak dalam ukuran yang lebih besar.
Selanjutnya gambar dari peta asli disalin ulang kotak demi kotak – sehingga akhirnya jadilah peta buta dalam ukuran besar.
Di kemudian hari ketika saya mengingat lagi tentang hal ini , saya berpikir, apa yang dilakukan papi untuk saya, effortnya terlalu besar. Tidak sedemikiannya saya menggemari ilmu bumi – dan juga kenyataannya anak-anak lain bisa belajar dengan peta buta ukuran kecil – yang dijiplak dengan kertas tipis dari peta aslinya. Bahkan mereka mendapat nilai lebih baik dalam ilmu bumi daripada saya..
Pada akhirnya saya mengerti – bahwa proses pengerjaannyalah yang lebih memberi kepuasan bagi papi – terlepas dari hasilnya.
Masa kecil juga diwarnai dengan kegiatan menjelang paskah yang selalu ditunggu-tunggu.
Apakah itu ?
Menghias telur ..
Di masa kini – Paskah tidak lagi terlalu diramaikan dengan kegiatan menghias telur. Kalaupun ada, hiasan dan hasilnya (di mata saya) tampak kurang menarik. Mungkin karena pengalaman masa kecil yang “belum tertandingi” – setiap Paskah – selalu papi membuat puluhan telur yang dihias menjadi boneka manusia, dengan berbagai kostum.
Ada penari Bali – dengan hiasan kepala dari manik-manik yang bisa bergoyang, ada pasangan pengantin Jawa, lengkap dengan konde dan blangkon, gadis Cina dengan baju Cheongsam lengkap dengan kipas dan masih banyak lagi. Semuanya buatan tangan dan dikerjakan secara detil.
Telur yang dipakai adalah telur yang kulitnya berwarna putih, dilubangi bagian atas dan bawahnya – sehingga isinya bisa dikeluarkan.
Kulit telur kosong itu kemudian menjadi kepala boneka, tentunya ada hiasan kepala, topi, rambut, menutupi lubang di ubun-ubun telur, dan kemudian bagian bawah telur itu direkatkan pada tabung plastik bekas tempat obat – yang kemudian menjadi badan boneka itu, tidak ada tangan dan organ tubuh lain, semacam patung sedada.
Biasanya saya lebih banyak menonton sambil mengagumi dan secara tidak langsung “mempelajari” ide dan prosesnya.
Sebagai anak kecil – jam 9 malam saya sudah harus tidur – dan ketika bangun esok harinya sudah ada beberapa boneka baru – yang rupanya dikerjakan semalaman.
Seorang seniman memang seringkali lupa akan waktu ketika sedang asik ..
Biasanya boneka-boneka telur dijajarkan di atas piano … sampai penuh beberapa shaf, saya perkirakan kurang lebih mestinya ada 20an boneka.
Ketika hari Paskah berlalu, boneka-boneka telur juga pergi satu demi satu..
Sepertinya dibagi-bagikan kepada para sahabat, yang tentunya senang mendapat kejutan telur paskah buatan papi.
Momen berikutnya tentu adalah Natal ..
Yang saya ingat – di masa 70 an Papi seringkali terlibat aktif dalam dekorasi Natal, mulai dari hiasan gedung gereja sampai pada dekorasi panggung untuk acara Natal.
Biasanya dikerjakan di pastori gereja, dengan dibantu para pemuda pemudi aktivis, yang seingat saya mengerjakannya dengan penuh sukacita.
Bagi saya, dan mungkin juga dirasakan teman lain yang pernah terlibat – salah satu yang membuat Natal menjadi berkesan adalah ketika kita ikut serta berjerih payah mengupayakan yang terbaik – sangat berbeda ketika kemudian kita pindah ke kota lain sebagai orang asing, dan hadir pada hari Natal hanya sebagai pengunjung biasa. Itu yang saya rasakan sendiri.
Salah satu memori yang masih teringat jelas adalah ketika kebaktian malam Natal, yang biasa dimulai pk 11 malam, waktu itu kita masih bergereja di aula Lyceum yang cukup besar, papi hari itu bertugas khotbah – namun dia juga menyiapkan kejutan kecil berupa bintang Natal yang bergerak memimpin orang Majus menuju kandang Betlehem.
Jadi skenarionya – ketika narasi khotbah mengatakan .. “dan orang2 Majus datang dari timur mengikuti bintang menuju Yerusalem ” .. kira-kira seperti itu .. masuklah 3 orang Majus yang diperankan para remaja dengan kostum Majus membawa mas,
kemenyan dan mur – seperti mengikuti bintang yang tergantung pada jalur kawat kira-kira setinggi 3 meter, mulai dari barisan belakang yang bergerak ditarik dengan tali menuju sekitar mimbar di depan. Ruangan gereja digelapkan sehingga bintang itu sendiri yang bercahaya.
Saya masih ingat bau kemenyan dari dupa yang mengeluarkan asap dan tercium ketika sang majus lewat …
Alkisah, rupanya petugas yang dititipkan menarik tali bintang itu menemui masalah, sehingga bintangnya macet, berhenti.. tidak bergerak maju
Sehingga 3 majus itu pun terhenti langkahnya.
Dari kursi duduk saya di barisan samping depan – saya melihat papi turun mimbar dalam kegelapan – dan membantu menarik bintang itu sehingga orang majus tidak kehilangan arah sampai ke kandang Betlehem….
Betul-betul menegangkan ..
Selain dekorasi Natal untuk acara gereja, kenangan lain yang berkesan adalah pengalaman selama beberapa tahun “bertemu” sinterklas dan zwarte piet.
Mungkin baiknya saya bercerita sedikit tentang budaya masa itu, dimana sebagian orang tua berkiblat pada pendidikan Belanda, sehingga tradisi sinterklas menjadi sesuatu yang umum diadakan setiap bulan Desember.
Pada masa itu – anak-anak boleh menuliskan permintaan dan apabila anak-anak ini patuh dan jadi anak yang baik, maka sinterklas akan membawakan kado permintaan mereka.
Tapi sinterklas juga hadir bersama piet yang berkulit hitam, dan siap memukul dengan sapu lidi untuk anak yang bandel, malas belajar, suka berbohong, bahkan juga membawa karung – siapa yang nakal akan masuk karung dan dibawa ke spanyol. Entah mengapa, orang tua tega “membohongi” anak-anaknya dengan cerita tersebut, karena jaman kini sudah tidak mungkin dilakukan – memukul anak dengan sapu lidi – dan menakut-nakuti anak dengan ancaman, kalau mereka nakal, mkan mereka akan dimasukkan ke dalam karung dan selanjutnya dibawa ke Spanyol .
Namun faktanya itulah yang lazim dilakukan pada jaman itu dan untuk sebagian anak ini cukup berhasil membuat mereka patuh.. di samping juga mungkin menjadi kegemaran dan tradisi para orang tua untuk ngerjain anak-anaknya.
Tiba pada suatu ketika – papi membuat kostum sinterklas dan piet hitam .. Sebagai anak kecil – saya jadi mengerti bahwa sinterklas itu bohongan dan tidak datang dari Spanyol ..
Kostum sinterklas, jubah panjang berwarna merah, melapisi baju putih berhiaskan renda dan pita emas.. tongkat yang dibawa juga tongkat berwarna emas dengan kepala melingkar seperti bentuk tanda tanya.
Sinterklas memakai topi runcing tinggi, dengan lambang salib.
Pada awalnya hanya ada 2 zwarte piet, kemudian menjadi 4 ketika beberapa tahun kemudian papi melengkapi kostum tsb.
Zwarte piet memakai kaus lengan panjang dan kaus celana berwarna hitam – juga sarung tangan hitam
Jadi hanya wajahnya yang diwarnai hitam
Setau saya – bahannya adalah tablet norit yang digiling halus – kemudian dicampur semacam krim vaseline untuk kemudian dibalurkan ke wajahnya.
Cukup menderita nampaknya para Piet ..
Sinterklas selalu dipilih yang berbadan tinggi besar, perut ditambahkan bantalan supaya lebih gemuk, make up bedak putih dan pipi kemerahan seperti orang bule – dan rambut palsu serta jenggot palsu warna putih silver.
Dari yang bisa saya ingat .. om Gerry Kasih yang paling sering memerankan Sinterklas, kemudian ko Tiong (Josua Wirjawan Santoso) dan .. papi sendiri..
Sementara Zwarte Piet – biasa diperankan pada pemuda aktivis saat itu.
Rombongan “sirkus” ini selalu marak dan seru, karena menarik perhatian di jalan2 kota Bandung.
Yang saya ingat, rombongan ini berangkat ke tujuan / gedung pertemuan dengan mobil VW Combi besar…
Pernah juga salah satu tetangga kami di Geusanulun punya mobil cabriolet (atap terbuka), papi berhasil meminjam mobil tersebut – sehingga makin seru dan menarik ketika sinterklas mengendarai mobil atap terbuka.
Biasanya saya mengikuti dengan mobil lain di belakangnya – ikut dengan panitia (kakak-kakak aktivis pemuda) – mobil ini membawa perlengkapan dan kado-kado, mengikuti di belakang rombongan sirkus yang biasanya berkeliling kota dulu sebelum tiba di tujuan.
Sekali dua kali – tidak sengaja bertemu juga dengan rombongan “sinterklas lain”
Peta buta, telur paskah, bintang Betlehem, kostum sinterklas .. hanya beberapa dari banyak memori yang melekat tentang papi dan tangannya yang terampil berkarya.
Saya tidak merasa diajari membuat topeng dari cetakan tanah liat, tetapi karena saya menyaksikan dan memahami prosesnya, di kemudian hari saya pun berkesempatan meniru proses kerja yang sama dan menghasilkan dekorasi kelinci Paskah berukuran besar.




Dekorasi utk photobooth GKI Cipinang Elok
Drama Natal / Paskah yang kerap menghadirkan serdadu Romawi dengan kostum lengkap – juga kemudian memberi inspirasi bagi saya, bagaimana membuat topi / ketopong / helmet.


Saya dan Roosmala memerankan karakter Mr. Carl Frederiksen dan Ellie dari Film Animasi UP, lengkap dengan helmet buatan sendiri pada acara trip ke Disneyland
Ya, dalam berbagai “live event” perjalanan hidup saya, ada banyak kreativitas yang tidak lahir murni dari saya sendiri – tetapi dari pengalaman melihat papi berkarya.
Saya mensyukuri hal ini karena masa kecil yang berwarna – kemudian juga boleh ikut mewarnai kelanjutan hidup saya.
Salah satu yang masuk dalam rencana, sekaligus mengisi kesibukan masa pensiun saya adalah .. menghias telur menjelang paskah nanti.
Kiranya ini menjadi tradisi, ritual pengingat sekaligus kenang-kenangan, bahwa saya pernah mengalaminya dan mau meneruskannya
Tinggalkan komentar