Gitarnya Kurang Gede !

by Mariam Gunawan

Saat mengenang sosok Pak Iskandar, yang selalu saya ingat adalah “Saya itu dipanggil pelayanan oleh Tuhan, lapor pertama ke Pak Is “ Lalu Pak Is bimbing saya sampai di sidi..

Waktu itu tahun 1978 saya masih SMP, dan kegiatan yang sering saya ikuti adalah kegiatan yang diadakan oleh Komisi Remaja.

Suatu hari  Komisi Anak mengadakan Retreat dan membutuhkan kakak2 pendamping. Nah, saya bergabung dalam acara itu sebagai Kakak pendamping. Kegiatan itu luar biasa, dan melalui retreat Sekolah Minggu itu saya merasa terpanggil, sangat bersemangat ingin bergabung untuk terjun dalam pelayanan di Sekolah Minggu.

Sepulang dari kegiatan retret itu, kami berkumpul di Lyceum (tempat yg dipakai untuk kebaktian GKI Juanda), dan saya melihat Pak Is sedang berdiri di depan gerbang.

Segera saya menghampiri dan dengan menggebu2 saya bercerita ke Pak Is mengenai pengalaman saya saat mengikuti Retreat itu.

Ternyata Pak Is merespon cerita saya yang menggebu2 itu dengan sangat santai.. “ Mey, yang penting bukan saat kamu dipanggil dengan cara yang luar biasa, tapi yang terpenting adalah bagaimana nanti kamu menjawab dan mengisi panggilan itu dengan setia”

Wah … Perkataan Pak Is itu saya ingat terus sampai sekarang, karena setiap saya ingat kata2 itu, saya semakin dikuatkan untuk tetap setia dalam pelayanan Anak.

Sejak pulang dari retret Sekolah Minggu itu, saya terjun dalam Pelayanan di Sekolah Minggu. Saat itu Geusanulun adalah tempat kami melakukan persiapan Sekolah Minggu dan melakukan berbagai kegiatan..

Setiap GSM membuat aktifitas, Pak Is senang bergabung, apalagi kegiatan membuat aktifitas dan menghias telur paskah.. hahaha..

Telur yg dihias Pak Iskandar adalah yang paliiing indah..

Sekitar 40 tahun kemudian, saat saya sudah berkeluarga dan pindah cukup jauh dari pusat kota, suatu hari Pak Is menelpon saya, menanyakan apakah saya ada di rumah… ternyata Pak Is mau main ke rumah saya.

Siang itu kami ngobrol, bercerita tentang Wisma Manula Dorkas, bercerita tentang burung2 LoveBird dan yang membuat saya sangat tersentuh adalah Pak Is membuat sup merah dan membawakannya untuk saya.…  

Pak Is sempat mengunjungi kami 2x, dan tentunya sangat berkesan bagi kami..

Jadi, saat kebaktian Penghiburan, di mana saya berkesempatan untuk mengiringi cucu-cucu Pak Is bernyanyi, saya menitikkan airmata, mengenang perjalanan pelayanan saya sejak awal di Sekolah Minggu, dan terlintas senyum pak Is saat melihat saya menggendong gitar yang selalu saya gunakan untuk mengiringi anak-anak Sekolah Minggu bernyanyi : “itu gitarnya Mey kurang gede..!”

Maksudnya badan saya yang kecil, ketutupan gitar 😀😀.

Pak Iskandar sudah tidak bersama-sama dengan kita, tapi benih yang ditabur tidak pernah sia-sia.

Pak Is, selamat jalan, kami selalu mengenangmu. ..

Mengiringi cucu-cucu Pak Is bernyanyi di kebaktian tutup peti
Latihan

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai