by Pdt. Daud Solichin S Th.
Saya mengalami masa remaja yang berwarna-warni, kaya pengalaman dan rasa. Sebagian besar masa remaja, saya habiskan di beberapa lokasi, di GKI Juanda (sebelum ada GKI Maulana Yusuf), di sekolah, dan di jalanan (ikut kelompok anak-anak remaja yang gemar bermotor ria tanpa helm)..
Waktu yang tersisa saya habiskan untuk membantu mami (yang sudah menjadi orang tua tunggal) berjualan kue- kue dan lotek di pasar.
Masa remaja saya bisa dikatakan sebagai masa kegelisahan dan pemberontakan dari hati yang dipenuhi pertanyaan seperti ;”mengapa orang-orang yang hidupnya tidak benar, yang berbuat jahat dan tidak adil diberikan usia panjang dan harta mereka berlimpah, sedangkan orang yang hidupnya benar justru hidup sengsara, susah menjadi kaya dan disisihkan.“
Pertanyaan ini merupakan refleksi dari realitas meninggalnya papi tahun 1979 setelah sakit (stroke) selama kurang lebih 7 tahun.
Masa dimana nilai ulangan-ulangan di sekolah dikasih C saja sudah cukup buat saya (walau ada beberapa nilai keilmuan lain yang cukup bagus juga). Karena fokus saya bukan pada study, tapi pada pertanyaan “mengapa” itu.
Kegelisahan ini mulai mendapatkan “way out” ketika Oom Is (panggilan saya kepada Pdt. T.S. Iskandar) memasuki ruang pikir dan hati.
Pertanyaan yang mengganggu saya, rupanya dipahami oleh Oom Is dan beliau menganjurkan saya untuk mendaftar dan masuk sekolah teologi. Waktu itu saya memahami bahwa sekolah teologi adalah sekolah untuk belajar Alkitab dan tidak ada kelanjutannya dengan kependetaan.
Kemudian saya mengikuti katekisasi yang dibimbing beliau dan Ms.Shirley Benn (OFM), juga kelompok “sel group” yang didampingi beberapa pemuda sebagai pemimpin kelompok.
Setelah katekisasi selesai saya mendaftarkan diri dan diterima menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Theologia (STT) Duta Wacana, sekarang Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta.(*)
Tamat dari STT Duta Wacana, saya langsung menjadi bagian dari kader pendeta Sinode Wilayah GKI Jabar (waktu itu) sampai ditahbiskan menjadi Pendeta GKI 22 November 1993 di GKI Sukabumi.
Dari cerita di atas, Oom Is adalah salah seorang yang mempengaruhi saya untuk mengubah haluan kehidupan saya.
Saya tidak tahu dorongan apa yang membuat Oom Is mau melibatkan dirinya dengan saya yang “gelisah” pada masa remaja.
Tapi saya sangat merasakan ada ruang dalam dirinya untuk saya…
Beliau juga yang menjemput dan menghantar saya ke poll bus Bandung Express (waktu itu masih di jalan Riau) untuk berangkat pertama kali ke Yogya masuk asrama dan kuliah di STT Duta Wacana.
Akhirul Kalam.
Saat belajar teologi itulah saya mengenal pengajaran “theodicy” (Allah yang baik “mengizinkan” penderitaan sebagai dampak kejahatan).
Pengetahuan itu menjadi jawaban atas kegelisahan perenungan saya di masa remaja dulu.
Mengucap syukur pada orang-orang yang telah mengisi ruang kehidupan adalah sebuah kelegaan, karena hidup ini tidak bisa diselenggarakan seorang diri. Ada orang-orang yang Tuhan tempatkan dalam kehidupan kita untuk mempengaruhi dan dapat saja mereka “membelokkan” arah kehidupan kita dan untuk saya orang itu adalah Oom Is
Terima kasih Oom Is.. terima kasih untuk keluarga alm. Oom Is (Tante Louisa, Lily dan Devy yang juga ikut mengambil peran dalam kebersamaan sejak saya remaja sampai kita sama-sama “menua”.)
Tuhan Yesus, Kepala Gereja dan umat-Nya…Sang Pemberi dan Pemelihara kehidupan selalu menyertai kita sekarang sampai selama-lamanya. Terpujilah Dia.
(Pdt.Daud Solichin. M.Min)
(*) kutipan dari Buku Acara Kebaktian Peneguhan Pdt. Daud Solichin S,Th. Untuk Pelayanan di Jemaat GKI Jabar. Jl. Sunter Indah Raya L2/3. Jakarta Utara.
Tinggalkan komentar