by Muslinang
Malam itu, kami, panitia inti Retreat Komisi Remaja, dihadapkan pada situasi ‘darurat’, dimana kami diminta oleh anggota Majelis Jemaat untuk menghentikan acara, karena tanpa sengaja, saya dan panitia telah melakukan kesalahan fatal, mengundang Pembicara tanpa terlebih dahulu minta persetujuan Majelis Jemaat, dan ternyata pembicara yang kami undang tidak memenuhi ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Majelis Jemaat.
Kami sudah mempersiapkan Retreat ini dengan sangat serius.
Ada puluhan remaja terlibat sebagai peserta Retreat.
Lokasi Retreat kami cukup jauh dari Bandung.
Dan kini kami harus menghentikannya ?
Malam itu kami hanya bisa berdoa dan berpikir keras …
Esok paginya, di saat kami masih kebingungan memikirkan kelanjutan acara retreat, kami dikejutkan oleh kehadiran Om Iskandar. Beliau muncul di lokasi pagi-pagi sekali sebelum acara dimulai.
Dengan penuh bijak, beliau menanyakan kejadian semalam; dan saat itu saya merasakan sekali kehadiran beliau sebagai sosok yang mengayomi dan menenangkan. Beliau tidak serta merta menghakimi kami yang saat itu sudah terlalu bingung dan diliputi rasa bersalah, tetapi beliau menjelaskan posisi dan kondisi yang terjadi dan segera memberi solusi antara lain dengan langsung mengisi kekosongan peran pembicara. Kemudian belaiupun memberi masukan untuk acara selanjutnya, sehingga retreat dapat tetap berjalan dengan lancar hingga hari terakhir.
Seusai acara retreat dan pada saat melakukan evaluasi bersama Majelis Jemaat, seingat saya beliau tidak fokus pada kesalahan yang kami lakukan (karena beliau menganggap kami telah dibuat mengerti akan kesalahan kami oleh penjelasan beliau sebelumnya). Beliau lebih menekankan pada pelajaran yang harus kami pahami supaya selanjutnya, kami bisa lebih baik.. Dari sikap dan kata-katanya, saya merasakan beliau percaya bahwa kami melakukan kesalahan itu karena faktor ketidakmengertian kami, dan kepercayaan yang beliau tunjukkan sangat berarti untuk kami.
Bagi saya pengalaman ini sangat berbekas dan hingga saat ini menjadi bekal yang telah berulang kali saya terapkan dalam keseharian saya dengan penuh keyakinan. Beliau dipakai Tuhan untuk mengajarkan dan mempersiapkan saya baik sebagai orangtua maupun sebagai dosen, bagaimana menghadapi dan membantu seorang muda yang melakukan kesalahan, karena faktor kurang pengalaman.
Dan dari apa yang dilakukan Om Iskandar kepada kami di Retreat Komisi Remaja itu, saya menemukan kuncinya : “Lakukan sungguh-sungguh dengan Kasih.”
Tinggalkan komentar