by Verayanthi Sibuea
Saat saya merantau ke Bandung karena kuliah, orang tua minta saya untuk mengikuti kelas katekisasi secepatnya. Sayapun mendaftarkan diri mengikuti kelas katekisasi di Gereja Maulana Yusuf, yang dipimpin oleh pdt Iskandar. Awalnya saya bingung karena tidak ada teman yang saya kenal.
Saya juga sering berpikir yang diajarkan di kelas katekisasi cocok atau tidak ya dengan hal yang saya tahu mengenai kekristenan.
Jujur sejak kecil sampai remaja orang tua hanya meminta anaknya ke sekolah minggu, kemudian sesudah lewat remaja, ikut ibadah umum di gereja. Tidak ada yang menyuruh saya ikut pelayanan.
Sementara di kelas katekisasi, pdt Iskandar dengan kelembutannya dalam mengajar selalu mengarahkan supaya kami ada juga pelayanan.
Saya mengikuti kelas katekisasi secara rutin saja. Sayapun terus memperhatikan dan mendengarkan apa yang diajarkan pdt Iskandar. Di kelas beliau sering menanyakan murid-murid katekisasinya apakah sudah dipikirkan pelayanan yang cocok, termasuk sering bertanya ke saya. Tapi saya hanya diam dan tersenyum.
Pdt Iskandar menyebutkan satu persatu pelayanan yang ada di GKI Maulana Yusuf (d/h GKI Dago). Ada pelayanan di Sekolah Minggu, pemuda, pemusik atau paduan suara. Saya bilang ke pdt. Iskandar ; “maaf untuk paduan suara saya sudah ikut di kampus di Universitas Parahyangan. Jadi takut benturan waktu latihan.”Lalu pdt Iskandar mengusulkan agar saya coba melayani di Sekolah Minggu. Beliau menjelaskan ada persiapan di setiap hari Kamis malam dan Sekolah Minggu di hari Minggu jam 9 pagi. Saya belum mengiyakan tawaran pdt. Iskandar, ya masih bingung alias galau. Kelas katekisasi terus berjalan selama 9 bulan tanpa ada perubahan hati saya untuk melayani.
Dan tibalah waktunya saya di sidi dan membuat saya dan keluarga senang karena kalau di suku saya sebagai orang Batak, moment sidi adalah moment yang terpenting karena anak dianggap sudah mandiri dan harus bertanggung jawab sendiri terhadap kehidupan termasuk kehidupan imannya.
Selesai Sidipun saya masih belum berpikir untuk melayani, sampai akhirnya suatu saat di hari Minggu saya diperkenalkan pdt Iskandar ke salah seorang Guru Sekolah Minggu dan beliau juga meminta saya untuk datang ke kelas persiapan di hari Kamis malam.
Sejak saat itulah saya mulai mengikuti arahan pdt Iskandar untuk melayani sebagai Guru Sekolah Minggu, walaupun awalnya saya masih ragu, apakah ini pelayanan yang cocok untuk saya, karena saya kan tidak terlalu menyukai anak-anak. Saya membayangkan bagaimana menghadapi anak-anak jika mereka menangis, bagaimana jika saat saya bercerita mereka tidak mau medengarkan dll. Tapi dengan masukan dari pdt Iskandar, saya tidak patah semangat. Sehingga satu saat (maaf saya lupa tanggal hanya ingat tahun 1988), baru saya merasakan sapaan Tuhan seolah menjadi manusia baru dan bersemangat dalam melayani di Sekolah Minggu.
Saya tidak pernah menduga, ternyata Sekolah Minggu menjadi pelayanan saya sampai saat ini. Tidak terasa sudah lebih dari 30 tahun dan saya masih melayani di Sekolah Minggu.
Saya bersyukur pernah menjadi murid katekisasi pdt Iskandar yang dengan sabar memperkenalkan dan juga mengajak saya melayani.
Terima kasih Om Is (panggilan saya kepada pdt. Iskandar) sudah memberikan pembekalan arti pelayanan ke saya secara khusus. Sekarang memang saya sudah tidak bisa bertemu dengan Om Is secara fisik karena Om Is sudah ada di rumah Bapa. Tapi semuanya sangat berarti dalam kehidupan saya.
Salam
Verayanthi Sibuea – Aktifis GSM GKI Kayu Putih
Tinggalkan komentar