by Pdt Em. Melanthon Bombong
Dari perkenalan kami yang terbatas, saya terkesan atas dua bentuk perhatian mendiang Pdt. T.D. Iskandar.
Hal pertama yang mengesankan saya adalah perhatian beliau kepada teman-teman atau saudara. Sebelum keberangkatan saya untuk studi di Belanda pada tahun 1992 beliau datang ke rumah kami di Jl. Sabang guna mengantarkan oleh-oleh untuk beberapa orang di Belanda. Barangnya berupa beberapa bungkus jahe yg dipak rapih sekali, sesuai jumlah orang yg dikirimi, lengkap dengan nama dan alamat mereka. Bukan main. Rupanya “obat” ini untuk kawan-kawan dekat yang memerlukan di sana; baik orang Indonesia maupun oom en tante Belanda. Dan benar: betapa senangnya mereka menerima jahe beliau. “Oooo … dari Pdt. Tjin Tjwan! Aduh terima kasih banyak.”
Hal kedua, saya terkesan akan perhatian beliau yang sangat baik kepada soal-soal liturgi dan pernak-pernik ibadah. Beliau sangat paham, bahkan mungkin apal dengan baik istilah-istilah, simbol-simbol, ataupun warna-warna liturgi sesuai tahun gerejawi. Suatu hal yang selama saya menjadi pendeta selalu harus melihat catatan baru bisa ingat. Tidak pernah apal kapan kain mimbar harus diganti warnanya. Misalnya pada hari-hari Adventus warna kain mimbar harus ungu, Natal warna putih, Pentakosa merah dst.
Pada suatu kesempatan pak Iskandar melayankan kebaktian di Jemaat Taman Cibunut Bandung, rupanya sempat melihat kain mimbar tidak sesuai dengan tahun gerejawi. Beliau lalu memberitahu saya tentang hal itu sehingga kami mengganti dulu kain mimbar sebelum kebaktian dimulai. Pak Iskandar begitu detil perhatiannya terhadap pernak-pernik liturgi gereja. Hal itu sungguh memberikan kesan kuat bagi saya melalui beliau, betapa warna warni dalam tahun gerejawi amat penting dan menjadi perhatian gereja berabad-abad lamanya. Saya lupa judulnya tetapi saya pernah membaca buku beliau yang memuat penjelasan unsur dan simbol-simbol liturgi.
Saya semakin terkesan sewaktu mendengar dari seseorang bahwa ada kain mimbar di jemaat yang dilayani beliau, GKI Juanda (yang kemudian menjadi GKI Maulana Yusuf) Bandung, dibuat oleh beliau.
Saya ingat dalam satu konven pendeta Klasis Bandung di GKI Ayudia, pak Iskandar hadir. Sudah lama sekali beliau tidak hadir dalam acara konven karena usia namun hari itu hadir meski pun jalannya sudah melambat dan memakai tongkat.
Pdt. Yosafat menjelaskan detil liturgi dan pernak-perniknya secara teknis. Liturgi itu akan dipergunakan GKI Klasis Bandung dan Cipasar dalam suatu masa raya gerejawi, Minggu Adventus atau Prapaskah (saya lupa yg mana). Setelah penjelasan selesai, mendiang bertanya: “Saya merasa kita semakin mirip Gereja Katolik ya?” Wah beliau peka sekali mengenai detil teknis dan perbedaan liturgi ala Protestan/GKI dan Katolik. Meski sama-sama memakai lilin, simbol-simbol, dan warna, rupanya beliau amat sensitif terhadap perbedaan pemaknaannya.
Tinggalkan komentar