by Dr Rini W. Ngantung
Dengan haru dan bersemangat saya ingin menuangkan kenangan kepada Pak Is, tapi kemudian bingung juga aspek apa yang saya ingin tuliskan.
Saya putuskan akan menuliskan kesan yang paling lekat dalam hati dan ingatanku saja.
Tanggal 17 Juli 1994 suamiku dipanggil pulang kerumah Bapa Surgawi, konon hanya orang baik yang dipanggil muda, Puji Tuhan …. tapi ini merupakan ujian berat bagi saya dan anak-anak yang masih kecil. Pak Is dan Ibu sering menemani bukan untuk menghibur dengan kata-kata yang menguatkan dan doa saja tetapi juga dengan menemani menangis bersama, bahkan saya sering melihat ibu menangis lebih lama dari saya sambil sesekali memegangi erat tangan Pak Is.
Belarasa ini benar-benar memberikan perasaan yang nyaman , bahwa menangis dalam duka adalah wajar, menumbuhkan pengertian tentang kedaulatan Allah, sekaligus mengingatkan Kuasa Kasih dan SetiaNya.
Pak Is menolong saya mengelola abu setelah setelah kremasi, tulang yang besar harus digerus menjadi halus, seperti yang dilakukan ibundanya terhadap abu ayahanda. Beliau berjanji akan menyediakan wadah abu yang sudah halus untuk dilarung ke laut. Rencana pelarungan tanggal 26 Agustus 1994 tepat pada hari ulang tahun almarhum. Tanggal 17 Agustus 1994 setelah apel Hari Kemerdekaan saya menepati instruksinya, menghaluskan sisa tulang belulang, dan melaporkan tugas sudah selesai.
Keesokan harinya pak Is dan Ibu datang, membawa benda bulat terbungkus kain putih, “untuk wadah abu”, kata Pak Is sambil menyerahkannya kepadaku.
Saya tertegun kagum; kain putih pembungkus bersulam indah, dihiasi payet-payet, diberi renda pada tepinya, membungkus tempayan tanah liat yang pada dindingnya berlubang-lubang dengan ukuran seragam, bulatan berdiameter 3 cm, saya tidak bisa berkata-kata.
Tidak mampu meski hanya untuk mengucapkan : “Terima kasih!”
Membayangkan bagaimana beliau membuat lubang-lubang ini, tentu dengan sangat hati hati dan teliti menatah setiap lubang, risiko pecah sangat besar. Menyulam dan menempelkan hiasan payet-payet , mengagumkan !
Pak Is membantu saya menuangkan abu ke dalam tempayan, menutup pembungkus dengan menarik tali di sekeliling penutupnya. Lalu Pak Is memberitahu bagaimana nanti cara melarungnya. Tempayan diturunkan dengan tali ke dalam laut, abu akan keluar melalui lubang tempayan, menerobos kain pembungkus dan kemudian tersebar oleh aliran air laut.
Keharuan dan rasa terima kasih hanya terungkap dalam tangisan, saat inipun Pak Is dan Ibu menemani saya menangis….
Pak Is tidak membuat kami menangis berlama-lama, beliau langsung mengajak berdoa, mendoakan banyak hal seakan maklum saya memang sedang sangat banyak membutuhkan doa. Setelah doanya selesai, sambil memeluk erat beliau berpesan : “Jangan ngomong sama abu ya!”
Saya mengerti Pak Is ingin mengingatkan saya kalau saya sedih, sebaiknya saya mengucapkan doa kepada Tuhan saja.
Selain kenangan tersebut, saya juga masih ingat, kebaikan-kebaikan beliau yang lain. Sesekali mampir ke rumah bersama ibu. Kedatangannya selalu dengan membawa buah tangan, masakan dari dapurnya, bubur ayam istimewa yang segera mendapat nama dari anak-anakku: “Bubur Opa”. Oleh-oleh dari Malang : kue Pia dan yang teristimewa adalah daster hadiah dari bu Is yang khas, daster bersulam indah yang nyaman dipakai serta awet.
Saat kunjungan, kami berbincang tentang keseharian kehidupan. Bukan melulu yang rohaniah, walaupun setiap kunjungan selalu diakhiri dengan doa oleh beliau,.
Kedua anakku dibaptis oleh beliau di Gereja Lyceum.
Selamat menikmati Surga Pak Is, bersama ibu dan jemaat yang telah anda layani dengan giat dan penuh kasih. Setiap kami merasa menjadi jemaat yang paling anda kasihi.

Tinggalkan komentar