by Gabriella Theofanie
Opa Tjan itu adalah Opa sepupu saya. Kedua Opa saya sendiri sudah tidak ada saat saya lahir, jadi saya bersyukur bisa mendapat sedikit gambaran tentang seorang Opa dari Opa Tjan.
Waktu kecil, saya dan kakak-kakak saya sempat beberapa kali ikut sepupu saya berlibur ke Bandung, menginap dan main dirumah Opa.
Salah satu mainan khas Opa itu adalah Rummikub. Setiap kali lihat atau main permainan itu, kami yang pernah diajarkan Opa cara bermainnya pasti langsung teringat Opa. Walaupun Opa sudah tua, tapi ilmu Rummikubnya jangan diremehkan. Keren pokoknya.
Hal lain yang mengingatkan saya akan Opa sudah pasti masakannya, karena dari dulu Opa sudah terkenal jago masak dan masakannya selalu enak.
Kalau sepupu saya atau orang tuanya menjenguk Opa, biasanya kami pasti
kecipratan berkat masakan Opa, karena katanya Opa selalu bikin masakan dalam porsi besar. Wah kami sih ga pernah nolak, karena makanan-makanan hasil masakan Opa dijamin pasti lezat. Pinjam istilah kakak saya, katanya : “ini sih bener2 hasil masakan orang yang bisa masak” ha3x … sop merah, bistik lidah, sambal goreng udang, macaroni … semua enak, tapi buat saya dan kakak perempuan saya, di antara semua masakan Opa, juaranya tetap sop merah.
Kakak saya waktu hamil ngidamnya juga “sop merah Opa”. Waktu Opa dikasih tau, spontan jawabnya : “ya, nanti dibikinin” .. ha .. ha .. sayang kakak saya tinggalnya jauh di Seattle. Terpaksa dia bikin sendiri, katanya untung di salah satu pertemuan dengan Opa, dia sudah sempat minta resepnya dari Opa,
Tapi saya berani bertaruh, resep boleh sama, tapi rasa ga mungkin deh bisa nandingin kelezatan sop merah buatan Opa.
Satu lagi yang saya ingat tentang Opa, kalau ada yang minta tolong, Opa akan serius menanggapinya. Contohnya, waktu kami bertemu di dalam salah satu acara keluarga, Opa nanyain apakah kakak laki-laki saya sudah punya pasangan. Saat itu mami saya separuh bercanda, minta tolong Opa untuk cariin pacar untuk kakak saya. Wah benar saja, ketika selanjutnya kami bertemu di acara pernikahan ko Edo (cucu Opa), kakak saya dipanggil dan diperkenalkan dengan seorang anak perempuan, yang kebetulan orangtuanya adalah jemaat Opa di Bandung
ha .. ha .. ha.
Tinggalkan komentar