by Pdt Iswanto
Ketika itu, 28 Oktober 2018, saya dapat undangan melalui WA dari Pdt. TS Iskandar yang berbunyi demikian: “nak Wanto. tgl. 15 Nov. sy ultah ke 86th. klo smpt ke sini ya ? Mungkin ini terakhir karena badan mkn lemes, susah jln n duduk lama. hri ini absen ga ke pasamuan krn ga enak badan. wis tùo. wis mambu lemah atau awu?”
(hari ini absen tidak beribadah di tengah jemaat karena tidak enak badan. sudah tua. sudah berbau tanah atau abu ?)
Mendapati pesan WA timbul dorongan untuk hadir memenuhi undangan tersebut, karenanya saya berangkat ke Bandung sesuai dengan waktu yang tertera dalam undangan itu…ketika saya di sana bertemu dengan undangan lain, salah salah satunya ibu Shanti Budiono (Mei Yung) . Beliau menjelaskan pada saya memang seperti itu kalau pdt. Ts Iskandar mengundang kenalan/kerabat yang lain, mengesankan bahwa mungkin itu *pesta terakhir* yang bisa dirayakan.
Di lain kesempatan, pada pertemuan terakhir kami tanggal 13 Desember 2021, saya bertanya kepada beliau, kenapa tahun tersebut tidak dirayakan pesta ulang tahun beliau. Beliau menjawab dengan lugas sesuai dengan gayanya, “nanti kalau dirayakan (ulang tahun) pasti orang-orang akan mendoakan supaya panjang umur, ndak mau aku, makanya tidak dirayakan!”.
Itu dia pengalaman bersama pdt. TS Iskandar yang semuanya bersinggungan dengan kematian.
Saya merenungkan mengapa dalam interaksi dengan beliau tema kematian itu sering disinggung oleh pdt. TS Iskandar, dan kemudian menyimpulkan 2 hal :
1. Kematian adalah keniscayaan dan harus dihadapi dengan kesiapan diri.
Kesadaran bahwa semua yang memiliki awal pasti juga akan memiliki akhir, yang lahir pasti juga akan meninggal adalah kenyataan manusia. Hanya saja kenyataan tersebut kadang dilupakan, ditakuti bahkan dihindari oleh manusia….banyak orang tidak siap untuk hidup dan lebih banyak lagi yang tidak siap untuk mati. Ibarat sudah kenyang dengan kehidupan pdt. TS Iskandar sudah menyiapkan diri menghadapi kematian, tak perlu ditakuti tak usah dihindari. Dan ibarat perjalanan panjang yang akan dilalui, mensyaratkan persiapan diri maka beliau telah mempersiapkan diri untuk hal tersebut.
2. Mempersiapkan orang-orang yang beliau kasihi untuk tetap tegar.
Salah satu pukulan berat dalam kehidupan adalah kehilangan. Emosi-emosi negatif seperti kecemasan, ketakutan, kecewa bahkan depresi dapat menghinggapi orang yang kehilangan. Kita telah menyaksikan bagaimana orang yang kehilangan harta, jabatan, kedudukan bisa menjadi sangat lemah melanjutkan kehidupan apalagi kehilangan orang yang dikasihi dan mengasihi kita.
Dalam beberapa kali kesempatan Tuhan Yesus menyampaikan pada murid-murid-Nya bahwa Dia akan mengalami penderitaan & kematian, penyampaian di awal sebelum peristiwa itu terjadi tentu salah satu alasannya adalah dalam rangka menyiapkan murid-murid-Nya supaya memiliki ketegaran hati.
Saya rasa itu juga yang dilakukan oleh pdt. TS Iskandar. Dengan menyinggung persoalan kematian beliau hendak menunjukkan bahwa beliau siap menghadapi kenyataan tersebut sekaligus menyiapkan orang-orang yang dikasihinya supaya tetap tegar menghadapi perpisahan & kehilangan. Karena selain sebagai pendeta, beliau juga dikenal sebagai sutradara, yang tentunya sedikit banyak dapat membuat kisah kehidupan berakhir dengan indah.
Tulisan ini, selain kenangan juga bentuk ungkapan terima kasih kepada Pdt. TS Iskandar karena beliau mengajarkan kepada kita kesiapan menghadapi hal yang paling menakutkan yaitu maut, sekaligus menyiapkan orang-orang yang dikasihi beliau supaya tetap tegar.
Terima kasih Pi….walau tetap ada rasa pedih, tetapi kami telah engkau siapkan menghadapi hal tersebut; sehingga rasa sakit karena kehilangan dan perpisahan tersebut tidak sebesar yang harus kami tanggung & sampai bertemu kembali dalam kekekalan.
Tinggalkan komentar