Kesan di Perjumpaan Pertama

by Robby I. Chandra

i bulan Mei 1982, sekumpulan aktifis dan Pendeta yang sangat berpengaruh berkumpul di wisma Binawarga, Cipayung.  Sebagai seorang Pendeta yang sangat Yunior, saya terkagum-kagum melihat Pendeta Eka Darmaputra membahas suatu hal dengan sangat tajam.  Juga seingat saya, hadir Pendeta Benyamin Maleakhi, ibu Swatami Sutedja dan berbagai Pendeta berpengalaman lainnya.

Dalam pertemuan ini, tiba-tiba di penghujung diskusi, seorang Pendeta yang saya belum terlalu kenal, mengangkat tangan.

Ia menyarikan percakapan dan menawarkan dua pilihan serta sari masalah yang dihadapi. Saya terkesan dengan gaya bahasa dan mimik wajahnya.  Ia menampilkan diri seadanya. Saya bertanya pada seorang rekan: “Siapa itu?”  Jawabnya, “Oom Tjin Tjwan.”

Seusai diskusi, di waktu makan siang, para peserta duduk atau berdiri berkelompok. Saya mendekat kepada beberapa kakak kelas seperti Pendeta Kuntadi Sumadikarya, pak Paul Suradji, dan sebagainya. Ketika berjalan ke belakang, saya berpapasan dengan boksu Tjin Tjwan. Ia tersenyum dan bercakap-cakap sejenak, padahal saya adalah Pendeta baru yang belum dikenal banyak orang. Heran juga saya, orang sepandai dan setajam dia mau mempehatikan kami.

Sekembali saya dari Amerika dan melayani di Binawarga, beberapa kali kami berjumpa terutama ketika saya melayani di sekitar Bandung, khususnya Maulana Yusuf. Konsisten dan membekas di ingatan saya bagaimana beliau tidak memasang jarak antara senior dan Yunior. Saya tidak ingat kapan beliau memasuki masa emeritus, namun sekitar tahun 2015 saya melayani di GKI Kebon Jati dan seusai pelayanan saya sengaja mencari dua rekan senior di Bandung yang mengesankan saya. Oom Tjin Tjwan sebagai teman ngobrol dan pak Sasabone yang selalu memberikan nasehat hangat pada saya.

Terakhir, pertemuan dengan Oom Tjin Tjwan, kami ngobrol banyak dan saya terkesan bagaimana beliau menjalani hidup sendiri dengan teguh. Ia tidak banyak berubah dalam daya pikir, percakapan, dan kesediaan berbagi cerita juga. Baru kemudian saya menyadari mengapa saya nyaman dengan beliau. Sama seperti ibu saya, Oom Tjin Tjwan dilahirkan di kota Malang yang memang penuh dengan orang-orang yang ramah, bicara seadanya, dan penuh kehangatan.  

Sepulangnya saya ke Jakarta, kami masih sering mengirimkan pesan melalui WA atau melalui teman saya yang ada di Bandung.  

Minggu lalu, di tengah kesibukan saya merawat istri yang sedang sakit, saya melirik WA group Pendeta emeritus GKI SW Jabar, dan saya terkejut melihat nama dan berita kepulangannya.  Saya hanya bisa terdiam sehari penuh, mengingat kalau ke Bandung sudah tidak ada lagi orang-orang yang menyambut saya dengan hangat seperti pdt Jimmy Setiawan, pak Sasabone, dan Oom Tjin Tjwan.  Generasi berganti, mereka sudah mengakhiri perjuangan pelayanannya dan meninggalkan inspirasi akan kesetiaan mereka bagi kami dan generasi selanjutnya. Selamat jalan hamba-Nya yang setia———————-

Robby I Chandra

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai