Kesopanan dan Kejujuran

Dear Edo dan Ade,

Akhirnya … terjawab nih …

Selama ini kan kalian kerap kepo :
“Mas Aan koq ngomongnya sopan banget,”
“Mas Aan kalau ngomong/tulis WA bahasanya bagus banget.”

Ternyata oh ternyata ….  “kesopanan” yang kerap jadi perbincangan di antara kita itu merupakan bagian dari didikan Opa kepada mas Aan.

Dari tulisan mas Aan yang mengungkapkan bahwa Opa juga mengajarkan kejujuran padanya, mama jadi ingat Opa pernah lho, kecewa sekali sama mas Aan.

Kejadiannya setelah tahun 2018 mas Aan sempat pamit pulang kampung untuk beternak lele dan kambing (setelah 16 tahun bekerja sama Opa)

Waktu mama ke Bandung Opa bilang : “Papi sangat sayang sama Aan. Ga menduga ternyata kok Aan mencuri”

Singkat cerita, beberapa bulan sebelum mas Aan pulang kampung, Opa menghibahkan sofa lama (kalian ingat kan, sofa berwarna biru) dihibahkan Opa kepada mas Aan, untuk dikirim ke kampung.

Nah setelah mas Aan tidak bekerja,  Opa menemukan realita bahwa bantal-bantal yang dulu ada bersama sofa yang sudah diberikan kepada mas Aan, tidak ada. Opa tanya pada mas Sakiyo, dan mendapat jawaban, bahwa bantal-bantalnya dikirim mas Aan ke kampung bersama sofa.

Sekalipun bantal sofa bukanlah barang berharga, namun tetap, bagi Opa itu artinya mas Aan mencuri, karena Opa merasa tidak pernah memberikannya kepada mas Aan.

Mama dan tante Lili sudah berusaha menjelaskan kepada Opa, bahwa kemungkinan ada miskom antara Opa dan mas Aan.

Bisa aja kan ya, waktu Opa bilang “sofa boleh buat Aan”, mas Aan mengira bantal ikut dikasih juga.

Lagipula, faktanya Opa juga sudah tidak memerlukannya, ya udah relain aja.

Tapi itulah Opa. Tidak perduli barang mahal atau murah, Opa tetap tidak bisa menerima, kenapa mas Aan ambil barang tanpa izin.

Saat itu mama merasa kasihan sama Opa, karena mama tau Opa sangat sayang sama mas Aan.

Dikecewakan oleh orang yang kita sayang, pastinya lebih menyakitkan daripada dikecewakan oleh sembarang orang, bener ga ?

Maka saat 2 tahun yang lalu, mas Aan bilang mau kerja sama mama (Opa udah punya asisten baru, jadi ga mungkin mas Aan balik ke Opa), tante Lili mengusulkan agar mas Aan membereskan dulu masalah kesalahpahaman soal bantal kursi dengan Opa dan mas Aan setuju.

Sebelum ke Jakarta, dia mampir dulu menemui Opa di Bandung.

Mama maupun tante Lili  gak tau apa yang dibicakan mas Aan dan Opa. Tapi satu hal yang mama lihat, walaupun Opa kecewa terhadap “ketidakjujuran mas Aan”, tapi di sisi lain, seperti sosok ayah dalam kisah “Anak Yang Hilang”, tetap Opa menyambut kembalinya mas Aan dengan penuh sukacita.

Melalui WA nya, tante Lili mengabarkan kepada mama …

Mama lupa kata-katanya tapi ya intinya itu, “katanya papi kesel, tapi itu papi pergi-pergi, udah langsung maunya disetirin Aan” 🤣. Opa benci tapi rindu sama mas Aan.

Kepada mama, Opa juga kadang menanyakan, “Aan sedang disuruh kerja apa”, “Harga barang-barang di Jakarta lebih tinggi daripada di Bandung .. kamu kasih gaji Aan cukup nggak”.

Semoga mas Aan (dan juga Ade sama Edo) selalu ingat akan nasihat Opa untuk menjunjung tinggi kejujuran.

“KEJUJURAN ADALAH MATA UANG YANG BERLAKU DIMANA-MANA” (kalo ini kata-kata mutiara yang sering ditulis di Album Kenangan zaman mama masih SD 🤣🤣).

November 2017. Di hari ulang tahunnya yang ke 85, Opa kasih potongan kue pertamanya untuk Mas . “Ini yang cape masak” kata Opa

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai