by Julita D

Beliau membaptis saya dan 3 kakak saya (Gemma, Lanny, Pia) dan memperkenalkan Tuhan Yesus kepada kami sekeluarga.
Dari sanalah awal iman kami dibentuk dan terus bertumbuh sampai saat ini.
Seingatan saya beliau adalah hamba Tuhan yang sangat kreatif, menjadi Sinterklaas disaat Natal, mendandani piet hitamnya, meng-ide-kan souvenir2 natal dan perayaan lainnya yang unik-unik, semuanya masih lekat dalam ingatan saya sampai sekarang.
Dalam satu acara beliau mendandani saya, yang saat itu masih SD menjadi seorang nenek, untuk satu acara operet di gereja. beliau juga membuat topeng-topeng 7 kurcaci dan bilang kepada saya : “nanti kamu jadi dopey ya” (meski akhirnya ga kesampaian) tapi saya inget semua itu.
Kata Lili saya pernah juga didandani Oom boksu jadi kelinci, bersama Davy yang jadi kelinci. Nah kalau itu saya malah ga inget 😀
Tahun 1979 kami sekeluarga pindah ke Jakarta. Tidak lama kemudian, bertepatan dengan hari ulang tahun mami, keluarga Oom boksu datang berkunjung. Saat itu Oom boksu membawa sebuah kotak berhiaskan pita merah, hadiah untuk mami.
Waktu kotak dibuka, wah suprise … ternyata mami dapat hadiah anak anjing, yang kemudian kami namai Chicco.
Chicco menjadi anjing pertama yang kami miliki, dan sejak itu sampai sekarang saya selalu punya anjing di rumah.
Beranjak saya dewasa kami jadi jarang bertemu, meski masih selalu saling berkabar. Terakhir bertemu juli 2019, saat beliau sedang check up di Jakarta. Tetap terlihat sebagai sosok yang ramah dengan sapaan khasnya. Dan tetap setia melayani Tuhan.

Bagi saya, beliau adalah sosok yang sangat mencintai Tuhan, setia melayani dan selalu semangat. Sangat bersyukur sudah mengenal Oom boksu, alm. Tante boksu, Lili, Davy dan keluarganya dan sangat bersukacita karena hubungan kami sekeluarga tetap terjalin dengan baik, dari masa kami masih tinggal di Bandung, dan saya serta kakak-kakak saya sering menginap di rumah meteka, sampai saat ini dan seterusnya.
Selamat Jalan Oom Boksu. Terima kasih untuk teladan hidupnya bagi saya.
Tinggalkan komentar