by Flora Susilo
Keluarga saya mengenal boksu (panggilan kami untuk pdt TS Iskandar alm) sebagai pribadi yang berhati emas, walaupun dari mulutnya tidak selalu keluar kata-kata yang manis. “Ceplas-ceplos” istilahnya.
Kalau ada yang tidak berkenan di hatinya, boksu tidak akan diam atau pura-pura suka, tetapi dia akan menyampaikannya langsung kepada kami. Tetapi kami tidak sakit hati, karena kami tahu dia menegur tidak dengan maksud buruk.
Saya dan almarhum suami sering berkunjung ke rumah boksu dan kami ngobrol berempat (waktu itu istri boksu, alm ibu Luisa masih ada)
Suami saya sangat menghormati boksu, karena ketulusannya dalam menolong siapapun yang membutuhkan.
Sepeninggal pasangan kami masing-masing, saya dan boksu tetap bersahabat baik sebagai sesama lansia.
2 tahun terakhir, dengan adanya pandemi Covid 19, kami lebih sering saling menyapa, saling bertukar cerita, saling menyemangati lewat WA
Satu hal yang membuat saya hormat kepada boksu adalah karena sebagai laki-laki, boksu menjunjung tinggi etika dalam bergaul dengan wanita. Dia suka bercanda, tapi tahu waktu, tempat dan situasi.
Tinggalkan komentar