Lego & Rumah Mimpi

by David Gemilang

Hari itu saya berulangtahun, entah yang keberapa, masih sangat kecil.

Dengan mengendarai Vespa, papi mengajak saya ke toko Gow & Gow di jalan Alketeri. Di sana papi membelikan saya sekotak kecil mainan lego, katanya buat hadiah ulang tahun saya.

Ini tidak akan terlupa karena setelah sekian kali berulangtahun, rasanya itulah pertamakalinya saya dapat hadiah seistimewa ini.

Sampai di rumah, saya berusaha menyusun lego sesuai gambar di kotaknya – sebuah rumah mungil, ada semacam carport dan ada mobil truk/pickup kecil di depannya.

Berulangkali saya membongkar dan kemudian menyusun lagi sesuai gambar tersebut, hingga suatu ketika kami berkumpul dan papi/mami bilang bahwa saya berbakat jadi arsitek dan kalau sudah besar nanti bisa bikinin rumah untuk mereka …

Kilas balik sedikit, sekitar 1970 saat saya masih kelas nol/TK – papi pergi sekitar setahun belajar di Aussie. Mungkin karena keterbatasan komunikasi, terpisah oleh jarak sejauh itu, efeknya cukup berat buat anak seumur saya, sehingga ketika papi pulang setahun kemudian – awalnya – saya merasa canggung, papi seperti orang asing…

Kartu ucapan HUT yang dikirim papi dari Australia

Saya menjadi lebih dekat dengan mami. Rupanya ini terus berpengaruh bahkan sampai dewasa, kedekatan dengan mami selalu “mengalahkan” hubungan saya dengan papi.

Kembali ke Lego.

Saya masih sangat ingat bahwa setiap kali menyusun Lego itu, saya selalu bilang saya bikin rumah ini untuk mami..

Papi (sambil bercanda tentunya) bertanya “… loh papi ngga dibikinkan rumah tah ?”

“Papi ini aja ..”  kata saya sambil menunjuk truck yang terparkir di carport.

Papi dan mami tertawa-tawa, dan papi sering mengulang-ulang kisah ini – bahwa mami akan dibikinkan rumah, sementars dia “cuma” akan dibelikan truk .. sambil terkadang menghibur dirinya sendiri : “ngga papa papi dibelikan truk . Nanti ta’ karyaken” (maksudnya truck dari saya akan disewakan untuk menghasilkan uang)

Lanjut – ketika saya dewasa dan mau menikah, malah papi dan mami yang memberikan DP untuk rumah pertama kami, yang untuk selanjutnya kami angsur beberapa tahun sesuai kemampuan.

Mimpi membangun “rumah untuk mami” belum terwujud – bahkan sampai mami wafat tahun 2002.

Bersyukur sebagai pengganti truck, Tuhan memberikan saya kesempatan untuk membelikan mobil bagi papi.

Sekitar tahun 2008, papi sudah lama ditinggal mami dan mulai susah berjalan. 

Di Bandung papi tinggal bersama Andi dan Lili di sebuah rumah luas, nyaman, dengan kebun yang asri. Sayangnya akses ke dapur di rumah itu kurang bersahabat untuk papi yang walaupun sudah mulai susah berjalan, tapi semangatnya untuk memasak tidak pernah padam.

Kami kuatir papi jatuh waktu naik turun tangga menuju dapur. Apalagi tidak lama kemudian, keluarga Andi dan Lili juga harus pindah ke Jakarta meninggalkan papi sendiri di Bandung. Papi selalu menolak pindah ke Jakarta – walaupun kami (saya dan kakak saya) sudah menyediakan tempat untuknya.

Akhirnya saya terpikir untuk membangun rumah di Bandung yang nyaman dan aman buat sirkulasi jalan papi – lantai yang rata dan tidak naik turun tangga, kamar tidur di lantai dasar, dan tentunya dapur yg aksesible utk papi menyalurkan hobby masak-memasaknya.

Saya sengaja mengajak papi ikut memilih beberapa alternatif lahan, hingga akhirnya mengerucut ke 2 pilihan.

Saya meminta papi yg memilih ( tanpa terlalu jelas menyatakan bahwa rumah ini nanti dibangun untuk papi tinggal), komentar papi waktu itu adalah : “Pilih yang ini aja (Suryasetra) karena daerahnya lebih sepi, tenang – ngga banyak mobil lewat”

Akhirnya jadilah lahan dibeli dan dibangun sesuai rencana awal – dan tiba saatnya saya mengajak papi menginap disitu (sebelum mengajak tinggal menetap).

Seingat saya papi akhirnya hanya sempat dua kali menginap di rumah itu, tidur di kamar yang memang direncanakan untuknya.

Ketika diajak menginap bahkan dibujuk untuk pindah kesitu, komentarnya : “disini sepi seperti kuburan… papi ngga betah ..”

Begitulah akhir cerita dari masa kecil, mimpi membangun “rumah untuk mami” yang tidak pernah kesampaian .. papi yang menghibur diri dengan “truk” nya – dan rumah yang dibangun untuk papi, tapi akhirnya sepi tanpa penghuni.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai