by Novarius Gayus
“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku”
(Yohanes 10:14)
Saya pertama kali mengenal Pdt. Em. T.S. Iskandar ketika mengikuti katekisasi di tahun 1985. Tentu saja saat itu belum emiritus alias masih sebagai pendeta aktif di GKI Juanda. Selama katekisasi tidak ada kedekatan khusus selain selayaknya kedekatan seorang “guru dan murid”. Maklum Ketika itu saya belum ikut terlibat aktif dalam kegiatan gereja selain hanya rutin kebaktian minggu. Sehingga bertemu dengan Pdt. Iskandar hanya sekali seminggu saat pelajaran katekisasi. Meskipun demikian, bukan berarti Pdt. Iskandar tidak ingin mengenal para katekisan secara lebih dekat, tetapi memang saya sendiri yang saat itu masih tidak melibatkan diri lebih jauh dalam kegiatan gereja. Hal ini nampak dari ajakan beliau kepada kami beberapa katekisan untuk makan bersama atau lebih tepatnya ditraktir jajan. Dalam kesempatan itulah Pdt. Iskandar mengajak kami ngobrol ringan yang terlepas dari materi katekisasi. Belakang hari saya baru memahami bahwa ini adalah salah satu cara yang dipakai Pdt. Iskandar untuk lebih mengenal jemaatnya.
Gembala yang baik mengenal domba-dombanya
Salah satu tugas panggilan seorang pendeta adalah menggembalakan jemaat (anggota gereja) yang dipercayakan kepadanya. Sebagai pendeta pertama GKI Juanda sosok seorang gembala jemaat sangat jelas pada kehidupan pelayanan Pdt. Iskandar. Apalagi beliau bukan saja pendeta pertama, tetapi pendeta yang ditugaskan sejak GKI Junada masih berstatus sebagai pos pelayanan sampai akhirnya menjadi dewasa.
Dalam injil Yohanes 10: 14 Yesus sang Gembala Agung berkata: “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku”.
Salah satu ciri yang menunjukkan kualitas seorang gembala yang baik adalah mengenal domba-dombanya. Dalam hal ini seorang pendeta harus mengenali jemaat yang digembalakannya. Untuk satu hal ini Pdt. Iskandar mempunyai cara-cara yang khas dalam upaya mengenali karakter jemaat. Saya tidak tahu berapa banyak cara yang beliau pakai, karena saya percaya bahwa kepada tiap-tiap jemaat pasti beliau menggunakan cara yang sesuai dengan situasi dan kondisi jemaat tersebut. Dari apa yang saya alami ataupun saya dengar dari penyampaian Pdt. Iskandar sendiri dan rekan-rekan dekat ada beberapa cara yang masih membekas dalam ingatan saya.
Pdt. Iskandar menjalin hubungan yang dekat dengan jemaat semua lapis usia, bahkan sangat dekat dengan anak-anak muda. Maka tidak heran kalau saya dan beberapa rekan pemuda pernah mengalami diajak ngobrol-ngobrol sambal ditraktir makan. Pada waktu itu yang cukup terkenal adalah makan mie Shen Lie. Sambil makan santai ngobrol tentang banyak hal seperti latar belakang keluarga, studi, aktivitas luar gereja dan tentu juga hal-hal yang terkait dengan pelayanan di gereja. Beberapa rekan bahkan ada yang pernah mengalami diajak menemani perjalanan ke luar kota dalam tugas pelayanannya.
Suatu hari Pdt. Iskandar beserta ibu harus pergi ke luar kota dan menginap. Saya berdua dengan rekan pemuda diminta untuk menginap di rumah pastori jalan jl. Ciung selama beliau pergi. Kami berdua tahu bahwa beliau sangat menyukai kebersihan dan kerapihan, karena itu walaupun hanya tinggal sebentar kami berduapun berusaha untuk menjaga rumah pastori tetap bersih dan rapi. Bahkan berusaha untuk tidak menyentuh atau merubah posisi barang/perabot yang ada bila tidak perlu. Tentu saja dengan kapasitas kerapihan dan kebersihan anak-anak kost. Saat Pdt. Iskandar kembali, tidak ada komentar dan kami merasa “aman”.
Bahkan kalau kita perhatikan arsitektur penataan ruang ibadah Gedung gereja juga diwarnai cara pandang Pdt. Iskandar. Kita akan melihat bahwa pemilihan penempatan mimbar dan tempat duduk jemaat memperhatikan aspek kedekatan pengkotbah dengan jemaat. Dengan posisi setengah lingkaran, pengkotbah menjadi lebih dekat dengan jemaat sehingga dapat mengenali wajah setiap jemaat yang hadir dengan baik. Sangat berbeda dengan posisi tempat duduk di Aula Lyceum (GKI Juanda) waktu itu. Jemaat yang duduk di paling belakang terasa sangat jauh.
Dalam suatu kesempatan ngobrol-ngobrol, Pdt. Iskandar pernah menyampaikan bahwa: “Kalau ingin tahu karakter seseorang, lihatlah kamar tidurnya”. Dari kondisi kamar tidur seseorang beliau bisa mengenali lebih dalam tentang karakter orang tersebut. Karena itu beliau menyampaikan bahwa apabila sedang melawat jemaatnya, beliau sering meminta ijin apakah boleh melihat tempat tidurnya. Cara-cara ini memang unik, tetapi itulah salah satu upaya Pdt. Iskandar untuk dapat menjadi gembala yang baik, yaitu mengenal domba-dombanya.
Pendeta dengan banyak talenta
Menjadi pendeta pertama dalam suatu jemaat memang biasanya dituntut untuk dapat melakukan banyak hal. Apalagi pada jaman itu gereja masih sangat pendeta sentris. Sehingga banyak hal harus dilakukan atau minimal diputuskan atau disetujui oleh pendetanya.
Dalam hal ini hampir semua jemaat tahu dan mengenal bahwa Pdt. Iskandar mampu melakukan banyak hal. Kreatifitasnya membuat rekan-rekan pemuda kagum dan sangat antusias untuk ikut terlibat dalam setiap kegiatan yang diusulkan Pdt. Iskandar. Terutama dalam perayaan-perayaan gerejawi. Membuat naskah drama singkat atau fragmen dalam ibadah. Kreatifitas membuat kostum-kostum menarik sesuai dengan jalan cerita yang dibuat. Dekorasi dan tata ruang dalam kegiatan ataupun pesta.
Bahkan boleh ditanya, siapa yang belum pernah merasakan masakan Pdt. Iskandar. Saya masih teringat bila ada kegiatan perjamuan kasih, rekan-rekan pemuda pasti mencari makanan yang merupakan masakan beliau.
Ibadah minggu dan pendukungnya merupakan salah satu bidang pelayanan yang ditekuni oleh Pdt. Iskandar. Hal ini tertuang dalam karyanya Buku Tata Kebaktian Hari Minggu (Umum). Dimana didalamnya berisi panduan dalam Menyusun ibadah dengan berbagai contoh, yang tetntunya sangat menolong bagi penatua dan bahkan pendeta. Sampai saat ini saya masih memiliki buku tersebut yang merupakan cetakan ke 2 tahun 1994. Selain buku karyanya bagi GKI Maulana Yusuf adalah ornamen-ornamen pelengkap kebaktian minggu dan juga kantong kolekte serta kotak persembahan. Hal-hal yang sering terluput dari perhatian orang lain, tetapi dengan cermat Pdt. Iskandar memperhatikan kekurangannya dan lalu memperbaikinya.
Sekarang Pt. Em. T.S. Iskandar telah meninggalkan dunia untuk Kembali kepada Sang Empunya Kehidupan, Allah Bapa di Sorga. Selamat jalan om Is. Terima kasih engkau telah menjadi contoh dan mnginspirasi kami bagaimana melayani jemaat Tuhan yang dipercayakan kepada GKI Maulana Yusuf.
Karyamu takkan terlupakan, bahkan telah menyatu dalam kehidupan berjemaat di GKI Maulana Yusuf.
Sampai kelak kita berjumpa kembali.
Tinggalkan komentar