Mengenang Pdt. Em. TS Iskandar

by Pdt. Em. Budiono Adi Wibowo & Santi Wibowo

Pdt. Em. Budiono Adi Wibowo

Saya mengenal Om Tjan sejak saya masih melayani di GKI Malang pada sekitar akhir tahun 1980an. Panggilan Om Tjan, dari Nama: Tjioe Tjien Tjwan, adalah panggilan yang dipakai semua keponakan-2 nya di Malang. Saya dan istri mengikuti cara memanggil itu karena kami sangat akrab dengan semua anggota keluarga Om Tjan yang ada di Malang. Bahkan Oma Lo Biet Nio (Maduwati), ibu dari Om Tjan, yang waktu itu adalah jemaat tertua di GKI Malang, masih sempat saya layani/lawat setiap ada Perayaan Perjamuan Kudus di rumahnya, sampai akhir hayatnya. Jadi saya merasa sangat dekat dengan keluarga Om Tjan, seperti keluarga sendiri.

Mungkin dari pengenalan dan kedekatan itulah, pada tahun 1990 Om Tjan meminta saya untuk pindah pelayanan ke Bandung guna menggantikan/meneruskan pelayanan Om Tjan, yang saat itu sedang mempersiapkan emeritasinya pada thn.1992. Sayangnya, pada waktu itu saya sedang mempersiapkan diri untuk study lanjut di STT Jkt (1991-1994), sehingga permintaan Om Tjan tidak dapat saya penuhi.  Tetapi setelah saya selesai study lanjut, rupanya Om Tjan kembali mengusulkan nama saya kepada Majelis Jemaat GKI Maulana Yusuf untuk dipanggil. Dan setelah melalui proses pemanggilan, maka pada bulan Juli 1997 kami sekeluarga pindah ke Bandung.

Sejak kehadiran kami di Bandung, ada beberapa orang mengatakan bahwa saya ini anak kesayangan boksu Iskandar. Dan memang kami sekeluarga selalu merasakan perhatian dan kasih sayang Om Tjan. Walau pun sudah berstatus emeritus dan sudah jarang berkhotbah, Om Tjan masih bersedia melayani Pemberkatan Nikah anak kami yang pertama: Tirza Nugraheni dan Christian Xenophanes pada bulan Juni 2005. Om Tjan juga selalu memanggil saya dengan nama kecil saya: Liep (Oei Boen Liep), sebagai tanda keakraban dan rasa sayang. Ia sering mengunjungi kami dan hampir selalu membawa makanan bikinannya sendiri atau membelikannya. Bahkan pada HUT saya di akhir tahun 2021 kemaren ia masih sempat mengirimkan pudding sebagai tanda kasihnya.

Bila kami mengenang semua kebaikan dan cinta-kasih Om Tjan, ada rasa penyesalan karena saya kurang mengimbangi perhatian dan kasih sayangnya pada kami. Sama seperti banyak anak yang merasa belum membalas segala kebaikan orang-tuanya.

Tetapi ada satu hal yang sangat saya syukuri. Pada hari ulang tahun terakhirnya di usia 89 tahun, Om Tjan dengan sangat tegas berkata kepada saya: “Saya tidak mau didoakan “Panjang Umur”!  Dan saya menjawab: “Memang Om, saya selalu mendoakan agar Om tetap sehat dan menikmati hidup yang bahagia sampai saatnya Tuhan memanggil, tanpa rasa sakit atau menderita”.  Dan Puji Tuhan, doa itu telah dikabulkan oleh Tuhan. Karena itu saya yakin Om Tjan sudah berada dalam kebahagiaan kekal bersama Tuhan Yesus yang ia kasihi dan layani sepanjang kehidupannya. Amin.

Santi Wibowo

  1. Saya sangat bersyukur mengenal Om Tjan yang menurut saya adalah hamba Tuhan Yesus yang setia. Contohnya: melayani dengan sungguh-sungguh, tidak cari pujian, suka melawat, menolong orang tanpa membeda-bedakan status, suku dan lain-lain.
  2. Setelah berusia sekitar 80 tahunan, Om Tjan kalau diminta pimpin PA, Persekutuan, baik di GKI MY atau di tempat lain, Om Tjan pasti datang ke saya dan bilang: Pinjam buku tafsirannya ya. Terus saya suka ngeledekin: Lho buku-bukunya Om di mana?  Om Tjan menjawab: Mbuh … wis tak buang.
  3. Saya sangat menikmati masakan-masakan karya Om Tjan, baik yang dimakan bersama pada ulang tahun om, atau yang diantar ke rumah kami.   Ada kenangan manis dari Tirza, putri kami, soal makanan ini. Tirza bilang: dulu wakti masih di Bandung, kalau aku pingin Macaroni Schootel, terus bilang ke Opa Tjan, eh, dibikinin dan diantar ke pastori.
  4. Om Tjan kalau ke rumah dan melihat rangkaian bunga-bunga rumput kering, atau rangkaian kerang-kerang yang saya buat, akan mengatakan: Aku mau lho yang kayak gitu.  Jadi dengan senang hati saya membuatkannya dan mengirim ke rumah Om Tjan. Tetapi suatu hari, kalau tidak salah sekitar 2 bulan sebelum ultahnya yang ke 89, Om Tjan datang ke rumah diantar Sakiyo. Om Tjan mengembalikan rangkaian bunga rumput dan 2 buah rangkaian pasir-kerang. Om Tjan bilang, ini tak balikin.  Saya bingung dan bertanya: Kenapa Om?  Jawabnya: Sudah ngga ada yang ngerawat lagi.

Inilah beberapa kenangan saya tentang Om Tjan.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai