Menjalankan Amanat Papiku

by Winny Djohan

Orang tua saya berasal dari GKI Kebonjati.

Karena kami tinggal di jalan Dipati Ukur yang lebih dekat ke Lyceum, maka waktu ada gereja di Lyceum, kami beribadah disana.

Keluargaku bukan orang berada.

Kami tinggal di sebuah rumah kecil masuk gang dan hidup pas-pasan

Saat aku remaja, kalau ada sumbangan baju dari orang kaya, Tante Is selalu memilihkan yang bagus-bagus untuk aku dan adik-adikku.

Dalam bergereja kesan aku buat Oom Is, beliau adalah pendeta yang benar-benar melayani dengan hati, terutama kepada keluarga kami, dimana papiku (Hengky Suardi) pernah undur dari Gereja,  dengan sabar oom Is menjenguk dan melayani papi sampai akhirnya papi mau ikut aktif lagi di gereja.

Karena itu aku bertekad, aku pasti menjalankan amanat Papieku : “Winny kita tidak boleh lupa akan kerja pak Is untuk  menyelamatkan papi yang undur, beliau sangat sabar membesuk dan melayani agar papi kembali ke Gereja”.

Saat aku menjadi perangkai bunga untuk gereja, Oom Is ajak aku duduk di bangku Gereja. Oom Is mengingatkan dan mengajarku untuk selalu melibatkan Tuhan sebelum merangkai.

Setelah menikah dan pindah lokasi rumah ke Kopo, Oom Is kunjungan kerumah kami, untuk ibadah keluarga.

Saat aku diminta untuk aktif di Gereja aku bimbang, karena aku masih harus mengurus mertuaku yang sakit.

Ketika aku utarakan hal itu ke Oom Is, beliau menasihatiku: “Winny di mata Tuhan urus keluarga itu sama dengan kamu melakukan pelayanan. Sekarang kamu konsentrasi ngurus mertua laki yang sakit dulu”

Ketika anak kami Arlene mau sekolah ke Tarakanita di Jakarta kami dinner bareng Oom Is, resto aku lupa, Oom menasehati Arlene, yang intinya di Jakarta nanti, agar tetap bisa kuat dan tidak terbawa arus Arlene harus terus dekat dan bersandar pada Tuhan.

Saat kami pulang, Arlene bilang: “Mama aku akan selalu ingat pesan pa Is !”

Aku jawab: “Ya lakukanlah”

Dan aku senang, karena Arlene menepati janjinya. 

Saat ini Arlene melayani sebagai pastor di ECC Church dan setelah suaminya meninggal, dengan bekal nasihat dari Oom Is, Arlene terus berjuang untuk hidup sebagai single parent dengan 2 anak, Ralph & Ben.

Ketika Oom Is emeritus, Oom tanya :  “Winny apakah nanti kamu mampir kalau Oom sudah pensiun ?”

Aku bilang “Oom, Winny pasti datang. Oom begitu care sama keluarga Winny”.

Dan juga dalam hati aku kan sudah berjanji akan menjalankan amanat papieku, untuk tidak lupa sama jasa oom.

Setelah tante Is selesai di kremasi , Oom Is kerumahku bawain soup kesukaanku dan satu bingkisan ada tulisan pakai pinsil “Untuk Winny dari tante Iskandar”. Isinya sebuah daster berwarna pink … waaah tante siapkan sebelum beliau ke RS.

Ketika aku tinggal di Korawa , di seberang rumahku Oom Aang

Ketika Oom Aang sakit, aku lihat Oom Is juga sering datang menghibur. Kadang aku juga dipanggil untuk ikut menemani mereka.

Suatu kenangan luar biasa ketika Mamieku sakit dan dirawat home care, Oom Is sering menanyakan kondisi mamieku.

Sampai suatu saat, aku kaget … Oom Is yang sudah lanjut usia itu bezoek mamieku. Padahal rumah Mamieku masuk gang, dan Oom Is harus jalan kaki cukup jauh dengan memakai tongkat.

Itulah cinta seorang pendeta untuk jemaatnya, dilakukan dari hati yang tulus.

Kenangan lainnya : Suatu saat aku sedang merangkai bunga di gereja, di luar hujan lebat. Jarwo panggil aku: “Buuu … di bawah ada babe !”

Aku turun menemui Oom Is. Ternyata Oom Is bawain lilin dan berpesan: “Winny, kalau ibadah lilin mesti baru yaaa. ini aku beli. Ingat berkat Tuhan, setelah ibadah ke 1, untuk ibadah ke 2 lilinnya ganti yang baru “🤭

Oom Is selalu buatkan pudding Natal kesukaan Ralph & Ben cucuku

Oom Is sering ke Korawa untuk ngobrol dan berdoa di teras rumahku.

Suatu saat Oom Is cerita kuku kakinya luka. Aku ajak utk Meni Pedi … waaah banyak sekali yang ditanyain Oom, aku ingat lucu sekali Oom 😀

Oom Is tidak datang-datang ke rumahku sejak pandemi, katanya karena ngak boleh pergi-pergi sama anak-anak, tapi kami masih berhubungan lewat WA, dan waktu suamiku meninggal, Oom Is datang melayat.

Hari Rabu tanggal 12 Januari 2022, aku terima berita itu. Oom Is sudah dipanggil Tuhan. Aku bergegas bersiap-siap memesan bunga untuk  mendekor gereja, dimana Oom Is akan disemayamkan.

Beberapa pelayat bertanya kepadaku, kok tangga gereja didekor seperti acara pernikahan. Aku jelaskan alasannya., bahwa itu sesuai dengan yang diamanatkan Oom Is kepadaku “Winny kalau nanti saatnya tiba, jiy bikin bunga, jangan lupa ini rel di tangga harus  dibungain juga ya !” Makanya tangga Gereja aku bungain.

Thanks Oom & Tante Is yang sudah hadir dalam kehidupan keluarga besar Hengky Suardi , kini Oom & Tante Is dalam pelukan Kristus di Surga , terima kasih buat semua edukasi yg menguatkan perjalanan ziarah kehidupan Winny 🙏🙏🌹🌹

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai