My Happy-Go-Lucky Grandpa

by Andrea Nathania (Ade)

Waktu saya masih kecil, kalau ke Bandung kami biasanya menginap di rumah Opa di Jl. Ciung. Saya tidak ingat terlalu banyak tentang masa itu namun saya ingat tidak lama setelah Oma meninggal, Opa pindah ke Ciumbuleuit, tinggal bersama keluarga tante Lili dan om Andi.

Disitu pertama kali saya lihat Opa main Rummikub – permainan yang mengkombinasikan rummy dan mahjong. Sampai kunjungan-kunjungan terakhir kami ke Bandung, Opa masih sering main game tersebut. Seharusnya ada 4 pemain, kadang kita diajak main, tapi kadang semua dimainkan sendiri oleh Opa. Opa juga pintar bermain, sehingga dia sering “curang” saat melawan diri sendiri. (Tukar-tukaran tile antar pemain, atau mengambil tile dari tengah 😀)

Opa mengajarkan kami main Rummikub

Lulus SD, saya pindah ke Singapura dan kemudian ke Amerika untuk melanjutkan studi, sehingga jarang sekali bertemu Opa. Mungkin saya hanya ke Bandung waktu libur sekolah atau libur Natal. Justru saat pandemi covid-19 ini, saya jadi lebih sering berkunjung karena sempat beberapa kali Work from Home dari Bandung. Pada saat itulah saya baru mulai memerhatikan beberapa hal yang dilakukan oleh Opa.

1. Opa memiliki rutin yang tidak bisa diganggu. Ada jadwal untuk semua aktivitasnya: mandi, makan, kopi/snack, tidur siang, dll. Jika kami datang ke rumahnya bahkan lewat 15 menit saja dari waktu makan beliau, pasti Opa sudah makan duluan dan kami ditinggal.

2. Opa selalu masak dalam jumlah yang berlebihan. Waktu Natal 2021, yang ternyata merupakan pertemuan terakhir saya dengan Opa, Opa masih menyediakan signature dish : bubur untuk kami sekeluarga dan seperti biasa, walaupun kami sudah mencoba semaksimal mungkin, bubur itu tidak bisa habis. Tapi Opa tetap masak berlebihan walaupun dia sudah tau akan sisa, karena menurut beliau makanan itu bisa dan akan dibagikan ke yang lain. 


3. Masih berhubungan dengan masakan yang berlebihan, hal yang saya pelajari dari Opa adalah bahwa Opa itu generous, kalau beli makanan dari luarpun harus dalam jumlah banyak, karena beliau selalu memperhitungkan Asisten Rumah Tangga. Tidak peduli harga atau jenis makanannya,  ART pasti kebagian.

Sebagai contoh Opa kalau beli sate ayam jumlahnya 100 tusuk, untuk kami makan berempat, Opa, saya, mama dan papa. Kalau ada sisa, Opa bilang buat ART (Opa tidak pernah bilang untuk kita makan lagi besok).. Bahkan anjing saya, Milly, hampir diberikan ayam goreng dari piringnya karena menurut Opa, “kasihan”.  


4. Opa adalah orang yang happy-go-lucky. Contohnya, waktu saya mengajak anjing beagle saya, Leia datang ke rumah Ciumbuleuit, seperti biasa saya tidak pernah membawa Leia tanpa tali tuntun, karena secara historis Leia sering mengacak-acak barang dan merusak tanaman. Namun Opa merasa “kasihan” sehingga berkali-kali menyuruh saya untuk melepas Leia di halaman belakang.
Kurang lebih pembicaraannya seperti ini : 


“Anjingnya gak di lepas aja? Kasihan.” 


“Nanti tanamannya dirusakin sama dia, Opa.” 


“Belum tentu! Kamu belum coba! Lepas aja..” 


Opa tidak peduli kalau tanaman (punya om Andi) rusak, dia hanya mau lihat Leia bahagia, lari-lari di kebun.

Mungkin setelah ini saya akan jarang ke Bandung karena di Bandung sudah tidak ada Opa.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai