by David Hermanus
Pdt. T.S Iskandar … Saya biasa memanggilnya Oom Tjioe … Kesan saya selama ini hatinya baik, murah hati, meskipun terkadang bicaranya seperti agak keras, namun ini menunjukkan ketegasannya.
Bila sempat ngobrol, Oom lebih sering cerita yang dulu-dulu dan juga pengalaman hidupnya yang dituntun dan dipenuhi berkat Tuhan, terutama dia sangat bersyukur melihat bagaimana Tuhan memberkati anak-anaknya.

Kalau saya mau tanya apa saja tentang gereja, Oom Tjioe pasti tahu, kalau ada pandangan atau pendapat yang salah akan diluruskannya.
Oom Tjioe sangat senang bilamana kita mau menyimak apa yg sedang dibicarakannya, walaupun adakalanya itu sudah pernah diceritakannya.
Oom Tjioe sering berkunjung kerumah kami, baik waktu masih di Siliwangi maupun setelah kami pindah ke Airbus.
Beberapa kali kalau Oom punya barang rusak dan yang diperkirakan bisa saya perbaiki, Oom datang membawanya dan minta tolong saya perbaiki.
Kadangkala mengajak makan keluar kalau saya bisa, namun saya merasa sungkan karena maunya Oom yang bayar.
Paling sering mengirim makanan ke rumah dan ternyata katanya memang kalau masak selalu banyak.
Dan bahkan tidak lupa membawakan makanan apa saja atau oleh-oleh dari mana saja bila datang berkunjung ke rumah.

Saya senang mendengar Oom bercerita. Saking asiknya cerita sana sini … waktu pulang kadang ada saja yang ketinggalan … topi … HP blackberry.
Pernah ketinggalan tongkat juga … mungkin karena kalo mau pulang, jalan ke mobilnya selalu pegangan pundakku … jadi lupa tongkatnya … 😂
Oom Tjioe menjalani kehidupan pribadinya dengan penuh kesederhanaan. Oom gampang tersentuh. Waktu saya bilang usaha saya sudah tutup, Oom keliatan sedih … aku rasa banget itu… Akhirnya aku disuruh bikin rangka besi di rumah Davy di Surya Setra. Aku tau, Oom ga tega melihat aku ga punya kerjaan …
Terimakasih Tuhan bahwa saya boleh mengenal Oom Tjioe yang semasa hidupnya sudah menjadi teladan yang tak akan terlupakan buat kami semua.

Oom Tjioe memberkati pernikahan saya dan Sunny, istri saya.
Sedikit bernostalgia, kami mulai dekat dan akhirnya “jadian”, karena kami berdua sama-sama terlibat sebagai pemain dalam sandiwara “Kereta Api Hantu” dimana Oom Tjioe sebagai penyadur skenarionya
Tinggalkan komentar