Opa

by Andrew Jonathan (Edo)

Selain hobby memasaknya, satu hal yang saya ingat dengan jelas tentang Opa adalah beliau orang yang selalu tampil rapih. Tanpa bermaksud genit atau centil, di mata saya Opa selalu terlihat iconic dalam kesederhanaannya. Kemeja batik, celana bahan dan sepatu kulit mengkilap untuk ke gereja atau ke pesta dan topi flat cap saat berpergian ke acara-acara yang tidak resmi. Opa memiliki belasan, bahkan mungkin puluhan topi flat cap dengan berbagai warna dan pattern, mungkin orang-orang sekitarnya juga familiar dengan gaya dan topi-topi nya.

Selain penampilannya, Opa juga punya wangi cologne yang sangat khas, bahkan setiap kali Opa menginap di rumah keluarga saya di Jakarta, setelah beliau pulangpun, wangi cologne Opa masih membekas di kamar yang bekas ditempatinya.

Sayapun mengenang Opa sebagai orang yang realistis dan pikirannya lurus.

Suatu kali, ketika saya sedang berjalan dengan Papa dan Opa, kami berjumpa dengan seorang jemaat lama Opa, yang mengenal Papa saat Papa masih kecil. Beliau bilang : “Wah Davy sudah besar ya. Dulu waktu di Bandung masih kecil”, dan Opa dengan serius tapi santai menjawab: “Kalau kecil terus, ya abnormal” 😀.

Saya bersyukur, Opa masih sempat hadir di acara pernikahan saya. Saya juga bersyukur, anak saya Toby sempat mengenal sosok Opa, yang dipanggilnya dengan panggilan sayang Co-Can (kongcoh Tjin Tjwan)

Februari 2019
Pertemuan pertama Opa dan Toby
Nov 2020, Toby ke Bandung dalam rangka HUT Opa yang ke 88 … HUT pertama Opa di era pandemi.
Agustus 2020

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai