Partner Urusan Jahit Menjahit Kostum

by Roosmala

Oma Debora yang sudah berusia 94 tahun ini, adalah seorang penjahit ulung di zamannya. Menurut tante Lili, beliau adalah sosok penting yang membantu Opa, menyediakan kostum-kostum yang diperlukan Opa untuk mendukung bermacam-macam pementasan di gereja, karena Opa kan gak bisa menjahit pakai mesin (inget ga, mas Aan pernah cerita, Opa bikin kain mimbar, semua dijahit pake tangan).

Sayang karena faktor usia, oma Debora udah banyak lupa. Waktu ditanyain sama keponakannya (tante Lita), oma Debora cuma inget pernah bantu menjahitkan baju seragam anggota koor, padahal kata tante Lili, kostum-kostum yang dijahit pakai mesin itu pasti hasil kolaborasi Opa dan oma Debora dan jenisnya sangat banyak (katanya ,,, oh katanya …)

Nah sore tadi, mama dapet kiriman voice note dari tante Lita(ponakan oma Debora). Luar biasa banget nih tante Lita, demi memenuhi rasa penasaran mama, dia interview oma Debora, supaya bisa inget lebih banyak, sambil merekam hasil interviewnya.
Mendengar hasil rekaman yang dikirim tante Lita, perasaan mama campur aduk, antara ga tega bayangin oma Debora “dipaksa” harus mengingat apa yang dia udah ga inget dan geli mendengar tante Lita terus berusaha memeras-meras memory oma Debora, supaya dia mengucapkan apa yang kita pengen denger … aduh … ampun deh mama ketawa sampai sakit perut.
Tapi lumayan sih, lewat rekaman dengan durasi 8 menit 28 detik itu, ada juga kenangan tentang Opa yang diceritain oma Debora, yang mama belum pernah denger dari orang lain

Oma Debora tidak menikah dan waktu muda tinggal seorang diri di sebuah rumah yang sempat kemasukan pencuri sampai 2 kali.

Opa yang concern dan menaruh perhatian kepada oma Debora, membawa permasalahan oma Debora di rapat Majelis, dan mengajukan usul kepada Majelis, supaya oma Debora diizinkan tinggal di Geusanulun (pastori yang lama dan dalam keadaan kosong).

Singkat cerita Majelis menyetujui usulan Opa, dan akhirnya oma Debora boleh tinggal di Geusanulun, dan dikasih pekerjaan sebagai koster.

Mama kagum lho, di umur 93 tahun, oma Debora masih bisa cerita dengan susunan kalimat tertata rapih dan bahasanya bagus ..sempurna : “Ooh (ini panggilan tante Lita ke oma Debora) sungguh bersyukur kepada Tuhan, melalui hamba-Nya yang setia, Pdt Iskandar, ooh boleh diberikan kesempatan ikut melayani Tuhan sebagai koster di pastori Geusanulun. Sungguh Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup. Ooh juga bersykur Tuhan kasih kita gembala yang baik seperti Pdt Iskandar” gitu kata oma Debora dengan suara bergetar.

Oma Debora juga bilang, selama oma Debora tinggal di pastori Geusanulun, oma Debora jadi bisa mempunyai penghasilan tambahan, karena banyak jemaat yang menjahitkan baju pada oma Debora, sehingga beberapa tahun kemudian, ketika pastori Geusanulun mau dijual, oma Deborapun sudah bisa membeli rumah sendiri, di daerah Kopo. “Semua karena kemurahan Tuhan, melalui Pdt Iskandar dan para majelis waktu itu” kata oma Debora.

Sementara itu tante Lita, tetap usaha, memancing-mancing supaya oma Debora cerita tentang kegiatan jahit menjahit kostum : “terus, kalau Lita ga salah dulu ooh suka bantu-bantu om boksu jahit kostum ya … bener ngga …”, dan mau tau apa jawaban oma Debora ??? “hmm iya ada .. tapi udahlah itu mah ga usah diinget-inget” ha..ha..ha ..  umpan tidak mengena, ternyata buat oma Debora kegiatan menjahit kostum bukanlah sesuatu yang berharga untuk dibagikan, malahan oma Debora lanjut cerita : “Ooh tidak akan lupa, yang pdt Iskandar pernah bilang, bahwa dia tidak akan meninggalkan pos Juanda, sebelum pos Juanda menjadi gereja, dan ternyata Tuhan menjawab doa hamba-Nya yang setia. Ooh bersyukur, saat peresmian GKI Maulana Yusuf ooh boleh ikut melayani sebagai perangkai bunga, padahal Lita kan tau, ooh ga bisa merangkai bunga. Mami yang bisa”

Interview berakhir sampai disitu.
Terimakasih oma Debora sudah berkenan berbagi kenangan  tentang Opanya Edo dan Ade.


Sehat-sehat terus ya oma Debora. Tuhan berkati oma

Di masa tuanya, Oma Debora tinggal
di Jakarta bersama keponakannya,
Lita (tengah) yang kirim voice note
hasil peres memory oma Debora.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai