Pdt Em. TS Iskandar dalam Kenangan Seorang Swattje

by Pdt Em. Suatami Sutedja

Menulis pengalaman masa lampau sebagai kenangan bersama Almarhum Pdt. Em. Timotius Setiawan Iskandar, adalah sebuah kesempatan indah yang saya syukuri.

Almarhum yang biasa saya panggil Ko Tjien Tjwan, mengawali pelayanan bersama saya di Jemaat GKI Kebonjati, Bandung di tahun 1965. Di mata Ko Tjien Tjwan, saya adalah rekan yang bukan hanya lebih muda secara usia, namun juga kecil secara fisik. Kecil dibandingkan dengan diri beliau. Kenyataan tersebut diungkapkan secara terbuka dengan memanggil saya dengan panggilan khusus, yaitu Swattje. Panggilan yang hanya Ko Tjin Tjwan yang menyebutkannya. Nama lama saya, Swat, ditambah akhiran ‘tje’, istilah dalam bahasa Belanda yang berarti kecil. Jadi panggilan Swattje dipakai untuk menyebutkan Swat Kecil.

Buat Swattje atau Swat Kecil, Ko Tjien Tjwan adalah teman dan penasihat besar. Selama pelayanan bersama di GKI Kebonjati, dengan kesadaran akan keseniorannya, Ko Tjien Tjwan tidak pernah segan menegur dan mengingatkan saya, apabila ada tindakan dan pelayanan saya yang kurang pas di mata beliau. Sebaliknya, saya pun tidak segan dan berani meminta pendapat beliau, apabila ada kebutuhan atau sesuatu yang meragukan. Pertemanan yang sempat menjauh, bukan dalam arti kualitas, tetapi karena jarak, setelah saya mutasi ke Jakarta di tahun 1972, kembali mendekat ketika kami berdua sama-sama sudah berstatus emeritus. Beberapa kali kami bertemu dengan sengaja. Pertemuan terakhir terjadi sebelum pandemi Covid-19. Bersama kakak saya Ibu Suwita Salim, yang juga berteman baik dengan Ko Tjien Tjwan, kami berkunjung ke rumah Ko Tjien Tjwan di Jl. Cimbuluit.

Dari pergaulan kami yang panjang dan cukup akrab, ada tiga hal yang tak akan saya lupakan. Yang pertama, keterbukaan dan kejujuran Ko Tjien Tjwan dalam menegur, mengingatkan, dan menasehati saya dalam urusan yang menyangkut pelayanan, juga dalam urusan pribadi saya yang menurut  beliau tidak dan kurang tepat. Yang kedua, setelah emeritus, bila berkunjung ke rumah Ko Tjien Tjwan, pertemuan pasti diakhiri dengan makan bersama. Bukan makan dengan makanan yang dibeli di restoran tapi makanan yang beliau masak sendiri. Makanan yang lezat menurut selera saya. Selalu saya katakan pada beliau bahwa saya kagum untuk keterampilan masaknya. Yang ketiga, pengalaman istimewa yang terjadi di rumah beliau yang akan saya ceritakan di bawah judul : “Gurauan yang Mengagetkan”.

Pertemanan yang panjang dan indah, sungguh amat saya syukuri. Sayang, saat beliau berpulang, saya tidak dapat menghadiri upacara tutup peti sampai kremasi.

Bukan alasan covid yang membuat ketidakhadiran saya, tapi kesehatan saya yang tidak memungkinkan untuk menempuh perjalanan ke Bandung. Saya hanya dapat memohon agar keluarga memahami keadaan saya. Dengan Keluarga tetap melibatkan saya dalam penulisan Buku Kenangan ini tak ada kata lain yang dapat saya sampaikan kecuali terima kasih yang tak berhingga untuk pengertian keluarga.

Terima kasih juga untuk foto-foto yang dikirimkan keluarga, yang merupakan kenangan berharga bagi saya. Semoga Buku Kenangan yang disiapkan ini dapat menjadi berkat seperti yang diharapkan Keluarga.

Jakarta, akhir Januari 2022

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai