by Charlie Lukman
Pak Is adalah pribadi yang hangat, sehingga saya yang pada dasarnya tidak mudah dekat dengan orang lain, bisa nyaman berada di dekatnya, seperti dengan orangtua saya sendiri.
Dalam posisinya sebagai seorang hamba Tuhan, saya menghormatinya sebagai pendeta dengan komitmen pelayanan yang tinggi, dan tidak mementingkan materi.
Selain itu, menurut saya Pak Is adalah orang yang selaras antara perkataan dan perbuatannya.
Saya juga selalu senang mendengar beliau menceritakan pengalaman hidupnya, bagaimana beliau menceritakan kehidupan keluarga anak-anaknya. Semua itu yang membuat saya bisa melihat, bagaimana Tuhan memberkati hamba-Nya yang setia melayani-Nya.
Dari hubungan kami yang sudah terjalin lebih dari 30 tahun, banyak sekali pelajaran yang saya dapat, yang tanpa saya sadari ikut mempengaruhi pola pikir dan cara-cara saya menjalani kehidupan.
Baru-baru ini di tengah adanya tugas pelayanan urgent yang harus saya kerjakan, saya dihadapkan pada satu masalah pribadi yang sangat pelik.
Saya berusaha jangan sampai masalah saya menghalangi pelayanan saya, dan setelah semua selesai, saya baru sadar masalah sayapun teratasi dengan cara yang samasekali di luar pemikiran saya, mau diputar balik dari sudut yang manapun, tetap tidak ada celah untuk saya bisa menolak / tidak mengakui kalau itu murni karena campur tangan Tuhan.
Saat merenungkan itu, saya teringat akan salah satu kesaksian Pak Is, yang mirip dengan apa yang baru saja saya alami. Bagaimana di tengah berbagai tugas pelayanan yang harus dikerjakan, beliau dihadapkan pada masalah pembiayaan pendidikan putranya David, dan dengan cara yang ajaib, Tuhan menyelesaikan masalah tersebut.
Sungguh mirip dengan apa yang saya juga alami, apa yang kerap diceritakan om Is terbukti juga dalam hidup saya. Kita tidak perlu mengejar berkat, karena Tuhan sendiri sudah menyiapkan berkat itu untuk kita.
Pengaruh positif lainnya yang saya dapatkan dari kedekatan saya dengan Pak Is adalah, dalam hal penggunaan logika. Terutama dalam kapasitas saya sebagai pengusaha. Segala sesuatu saya perhitungkan baik-baik mengandalkan logika saya. Dengan modal sekian rupiah, apa yang saya harus lakukan, supaya modal betkembang menjadi sekian rupiah, dalam waktu sekian tahun. Ketika kemudian target tidak tercapai, saya kecewa. Tetapi pergaulan saya dengan pak Is, mendengarkan kisah-kisah pengalaman hidupnya, melihat bagaimana beliau menjalani hidup, membuat saya sedikit demi sedikit mengerti, di atas segalanya, termasuk di atas logika saya, ada Tuhan yang mengatur hidup saya. Rencana saya mungkin tidak sama dengan rencana Tuhan, tapi rencana Tuhan itu pasti yang terbaik. Sekarang saya tentu saja masih menggunakan logika secara optimal, tapi kalaupun perhitungan-perhitungan yang saya buat dengan logika itu meleset, saya tidak frustrasi.
Let it go ! Itulah hal positif kedua yang saya pelajari dari kedekatan saya dengan pak Is.
Hal ketiga, … baru terasa kemarin ini, saat saya mendapat kiriman sebuah video melalui WA, dimana ada seorang anak muda, yang sedang di puncak kegembiraan, tiba-tiba terperosok masuk ke sebuah lubang, lalu meninggal, sorenya sudah dikremasi. Sedemikian tipisnya batas antara kehidupan dan kematian. Tiba-tiba saya teringat kepada pak Is, yang seringkali membicarakan kematian dengan ringan. Sepertinya saat itu dipanggil Tuhanpun, beliau sudah siap. Tapi apakah kalau kematian bisa datang dalam waktu yang lebih cepat dari satu kejapan mata, artinya kita tidak perlu melakukan apa-apa ? Nah inilah pelajaran berharga yang saya dapat dari pak Is, kematian memang adalah misteri, kita tidak akan pernah bisa tau, kapan dan dengan cara apa, kematian akan menjemput kita, tapi kita bisa mengisi hidup kita dengan hal-hal positif. Lakukan apa yang kita bisa lakukan hari ini, karena esok mungkin sudah bukan milik kita lagi.
Terimakasih pak Is untuk pelajaran-pelajaran berharga yang bapak berikan, baik melalui nasehat yang saya dengar dari mulut bapak, , maupun dari teladan hidup yang bapak tunjukkan.

Terimakasih sudah menganggap saya seperti anakmu sendiri.
Charlie & Ellen.
Tinggalkan komentar