by Yakobus Setyoko
Di bawah kepemimpinan Oom Iskandar sebagai pendeta, kami para pemuda merasa mendapat kepercayaan untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan.
Adalah hal yang umum terjadi, saat itu para pemuda yang belum menikah diberi kesempatan untuk menjadi Majelis
Demikianlah yang terjadi dengan saya. Tahun 1987, dalam rapat Majelis, saya diusulkan oleh Oom Iskandar untuk mejadi wakil GKI Maulana Yusuf di Rumah Duka Bumi Baru. Saat itu, saya masih berusia 28 tahun, sementara sebagian besar rekan-rekan sepelayanan saya di Bumi Baru sudah berumur di atas 50 tahun.
Dengan modal kepercayaan yang diberikan Oom Iskandar, dan karena sebelumnya, Oom Iskandar sudah menceritakan tentang visi misi dari Bumi Baru itu sendiri, saya berani menerima tanggung jawab tersebut.
Di Bumi Baru saya mendapat tugas mengecek dan memastikan ketersediaan peti-peti mati. Tugas yang sepintas kelihatan tidak berarti, tetapi saya lakukan dengan sungguh-sungguh. Satu pengalaman berkesan, saat suatu malam jam 22.30 saya mendapat kabar, ada seorang bayi meninggal, dan kami tidak mempunyai stok peti mati ukuran kecil. Tapi keesokan paginya saya mengecek lagi, ternyata peti mati ukuran kecil itu ada, tersembunyi di antara peti-peti mati ukuran besar.
Harus saya akui, kadang ada rasa takut saat masuk ke gudang penyimpanan peti-peti mati tersebut. Tapi saya selalu pesan Oom Iskandar, ini adalah pelayanan bagi mereka yang sedang berduka.
Oom Iskandar juga pernah menyampaikan kepada saya, bahwa beliau pinginnya Bumi Baru tidak hanya melayani mereka yang kaya, tetapi dapat terjangkau juga oleh orang-orang tidak mampu.
“Kalau yang kaya yang meninggal dunia mau pakai peti jenazah yang mahal ya nggak apa apa silahkan saja. Tapi yang miskin tetap harus dilayani tidak boleh tidak dilayani gara gara tidak punya duit” begitu kata Oom Iskandar.
Walaupun beliau tidak mengungkapkan secara eksplisit, tetapi saya menangkap Oom Iskandar ingin Bumi Baru menerapkan subsidi silang, agar mereka yang tidak mampupun dapat memberikan penghormatan terakhir yang layak bagi anggota keluarga mereka yang meninggal.
Sebagai salah satu penggagas Bumi Baru, Oom Iskandar tidak pernah bosan memberikan masukan-masukan yang beliau anggap baik. Kalau ada yang tidak berkenan, beliau juga tidak segan-segan menegur kami.
Pernah suatu saat Oom Iskandar memanggil saya dan bertanya mengapa saat besannya meninggal dunia, keluarga yang ingin bawa guci abu jenazah sendiri nggak boleh.
“Jangan memaksakan keluarga untuk membeli guci abu jenazah di Bumi Baru. Mereka sedang berduka, tidak perlu ditambah masalahnya”.
Melalui teguran itu, saya mengerti Oom Iskandar mengingatkan agar Bumi Baru meningkatkan pelayanannya dan lebih berempati kepada mereka yang sedang berduka, karena kehilangan anggota keluarga yang dikasihi.
Sebenarnya hal tsb bukan wewenang saya, tapi saya katakan kepada Oom Iskandar, bahwa concern Oom Iskandar akan saya sampaikan ke mereka yang berwenang.
Oom Iskandar itu suka membantu orang yang membutuhkan, memang tidak selalu dilihat oleh orang lain dan mungkin tidak spektakuler jumlahnya tapi pengorbanan yang diberikan ke jemaatnya (antara lain para mahasiswa yang punya masalah biaya) oleh seorang pendeta yang baik dan tulus hatinya patut dicontoh siapapun juga.
Mengikuti teladan Oom Iskandar, saya menyumbang 10 peti jenazah dan pernah beli tanah kuburan di Pandu, untuk membantu keluarga-keluarga yang tidak mampu. Saya juga membelikan sebuah piano untuk ruangan yang baru selesai dibangun tapi belum ada pianonya. Puji TUHAN.
Saya bilang kepada oom Iskandar, saya lakukan itu, bukan untuk pamer, tapi agar menginspirasi orang lain, bahwa siapapun juga bisa memberi. Bukan jumlahnya, tetapi kerelaan untuk berbagi, seperti yang oom Iskandar contohkan kepada kami.
Oom Iskandar telah memberikan teladan yang baik. Pelayanannya kami acungi jempol. Saya juga melihat anak-anak beliau, Lili dan Davy dengan keluarga diberkati Tuhan.
Sekarang Pdt Iskandar sudah ada di surga bersama Tuhan Yesus dalam peristirahatan abadi.
Tinggalkan komentar