Pemimpin yang Dikasihi dan Direspek Jemaatnya

by Johny & Rossy Wowor

Tahun 1981, saya pindah ke Bandung untuk mulai kuliah di Bandung, dan memilih bergereja di GKI Juanda, dimana Bapak Pdt.Iskandar merupakan pendetanya.

Di saat awal, memang kontak dengan Bapak Pdt.Iskandar belum terjadi secara khusus. Tetapi ketika kemudian saya terlibat dalam berbagai kegiatan, seperti paduan suara, PA wilayah, kelompok kecil semasa kuliah, maka kesempatan kontak dengan Bapak Pdt. Iskandar menjadi terbuka. Kesempatan kontak bahkan semakin banyak setelah saya sudah berkeluarga, dan ketika saya diberi kesempatan melayani sebagai anggota majelis.

Bapak Pdt.Iskandar adalah pendeta yang memberkati pernikahan kami di tahun 1989, dan membaptis anak pertama kami, Priskila.

Istri saya, Rosy, masih mengingat kunjungan pelawatan yang dilakukan oleh beliau ke rumah kami. Kamar yang berantakan membuat kami malu menerima kedatangan beliau. Tetapi ada perkataan beliau yang sangat berkesan, dan selalu diingat oleh Rosy, yaitu, bahwa beliau datang mau menengok kami dan anak kami yang baru lahir, bukan mau menengok rumah kami.

Pelawatan itulah yang menjadi salah satu kesan kuat kami tentang Bapak Pdt. Iskandar. Beliau adalah gembala jemaat yang rajin dan setia melawat anggota jemaatnya. Hal ini bukan saja terjadi kepada kami, tetapi juga kepada teman-teman, serta saudara-saudara yang lain. Rosy sendiri punya latar belakang keluarga yang bukan kristen, tetapi sebelum kami menikah, dia mengikuti katekisasi, dan kemudian juga dibaptis oleh Bapak Pdt.Iskandar.

Kesan kuat lainnya tentang Bapak Pdt.Iskandar adalah khotbah-khotbahnya. Khotbah-khotbah beliau selalu sistematis, latar belakang alkitab disampaikan dengan jelas, dan pemaparannya selalu ada dalam konteks dari bagian firmannya.

Pengamatan pribadi saya, dalam mengerjakan sesuatu beliau sangat detail.

Sampai dengan awal tahun 2005, ada banyak kesempatan berinteraksi dengan beliau baik dalam kebaktian, rapat-rapat majelis, ataupun berbagai kegiatan yang lain. Ada beberapa kegiatan yang besar yang saya ingat di masa itu. Yaitu pertambahan pengerja-pengerja baru yang secara kontinu dilakukan, pendirian bangunan baru gereja di jalan Maulana Yusuf, dan pendirian Yayasan Manula Dorkas. Semua itu belum ada di tahun 1981, tetapi di akhir tahun 2005 semuanya sudah terwujud. Saya percaya Tuhan bekerja di balik semua itu. Saya juga percaya bahwa Tuhan bekerja bersama dengan hamba-hamba-Nya yang taat kepada-Nya.

Tentu itu semua bukan hanya hasil kerja Bapak Pdt.Iskandar sendiri, memang banyak pribadi-pribadi yang terlibat..

Tetapi satu hal yang nyata di sini, tanpa seorang pemimpin yang dikasihi dan direspek oleh jemaatnya, sukar semua itu terwujud. Bapak Pdt. Iskandar dikasihi dan direspek oleh jemaatnya, seperti halnya beliau yang dengan setia menggembalakan dan mengasihi jemaatnya, jemaat yang dipercayakan Tuhan Yesus kepadanya.

Johny dan Rosy Wowor

Hamburg, 13.02.2022

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai