Pendeta TS Iskandar :

“Makin kenal, makin sayang.” “Pendetaku – teladanku – sahabatku”

by Hermanto Kosasih

Bagian Pertama:

Pendeta Iskandar saya kenal sebagai orang yang sederhana, rapi, konsisten, sabar, peduli, senang mengajar, senang pada seni drama, seni lukis dan suka menyanyi. Kok tau? Apa buktinya?

Banyak pengalaman yang saya alami saat berjumpa dan berinteraksi sangat intensive dengan beliau sejak 1975 sampai 1986. Ketika itu saya kuliah di Bandung dan mulai aktif anggota paduan suara, ketua komisi pemuda, anggota majelis jemaat, sekum majelis jemaat, ketua bidang pembinaan, ketua bidang oikmas dan terakhir sebagai ketua komisi anak dan guru sekolah minggu. Tahun 1987 saya pindah ke Jakarta.

Berikut adalah beberapa pengalaman yang sangat berkesan bagi saya.

  • Saat mau pelantikan majelis jemaat, saya tidak punya jas, beliau memberikan jas-nya kepada saya. Itu jas saya yang pertama.
  • Saat Evita Kristi, anak pertama saya berulang tahun, beliau datang mengantarkan kue tart! Itu kue tart pertama untuk anak saya.
  • Waktu Ezra Satria, anak kedua saya lahir, beliau bertanya namanya. Begitu mendengar nama “Ezra”, langsung beliau berkata, “wah nanti akan membangun gereja”, Dan benar, anak saya Ezra menjadi tim inti pendirian sebuah gereja di Jakarta (rupanya ucapan beliau dulu merupakan doa untuk Ezra).
  • Pernah saya berselisih cukup keras dengan beliau soal prinsip pelayanan. Eh, beliau bukannya marah, malah ngajak saya makan ayam goreng, berduaan. Bahkan di saat lain, beliau juga memberi pujian kepada saya atas suatu acara dimana saya terlibat.

Masih banyak lagi “sentuhan-sentuhan rohani dan keteladanan” yang saya dapat dari beliau yang saya makin sadari dan hargai setelah tahun 2000!

Tahun 2000 saya belajar tentang kecerdasan emosional (EQ) di Amerika, dan disitulah saya makin paham akan betapa luar biasanya karakter beliau itu, dan saya sadar, saya harus banyak belajar dari beliau. EQ mencakup keterampilan dalam pengendalian diri, kepekaan kepada orang lain dan kemampuan menjalin hubungan baik dengan orang lain, untuk hasil kerja yang optimal dan positif.

Bagian Kedua:

Hampir 30 tahun saya tidak berjumpa dan tidak berkomunikasi lagi dengan beliau, sampai sekitar tahun 2015 saya bertamu ke tempat tinggal beliau di kawasan Ciumbuleuit. Saya merasakan keramahan beliau yang tetap konsisten seperti yang saya alami saat masih aktif di GKI Juanda (sekarang GKI Maulana Yusuf) Bandung.

Beliau bercerita tentang alm. istrinya yang selalu mendukungnya, anak-anak yang membanggakannya. Juga beliau berkata, kalau saya dan Hesther ke Bandung lagi, tinggal saja di rumahnya itu. Wow, istimewa sekali, diajak nginap bersama dengan Pendeta yang sejak saya muda selalu memberi saya bimbingan dan keteladanan.

Lalu saat kami akan pulang, beliau menawarkan kami untuk minum white coffee dulu. Wah, itu pertama kali saya dengar ada “kopi putih”. Saya mau. Saya kira ada yang membuatkan. Ternyata beliau sendiri yang membuatkan dan menyajikannya. Luar biasa. HambaNYA yang melayani.

Terima kasih banyak Pendeta Iskandar. Gembala yang terus melayani domba-dombanya. Ke air yang sejuk ku dihantarnya … bahkan dikasih White Coffee!

Bagian Ketiga:

19 Januari 2021 saya berusaha kontak lagi via wa dan ternyata bersambut. Setiap beberapa hari kami pasti bertukar kabar. Kadang saya kirimkan juga foto-foto saya dan keluarga. Kalau saya lama tidak kasih kabar karena sibuk, maka beliau akan mengirim pesan pendek yang khas, “howdy”? Wah, langsung saya semangat lagi, karena tahu ada seseorang yang selalu ingat saya dan saya juga bisa memberi perhatian kepada beliau.

Awalnya saat saya mulai kirim wa plus foto keluarga, tapi beliau lupa, Hermanto itu yang mana ya? Saya kirim foto pernikahan saya. Langsung beliau ingat, dan menyapa saya dengan nama lama saya, yang saya pikir hanya beliau yang tahu! Nama itu pernah diberitahu oleh Alm. Pdt. MAM Sasabone.

Bahkan beliau ingat dan katakan, “Saya datang ke pernikahan Hermanto di Cirebon, di Gedung Nirmala!.” Puji Tuhan. Daya ingat beliau masih sangat baik.

Pdt. Iskandar mengirimkan saya artikel tentang hidup sehat, mengingatkan hati-hati kalau di jalan tol, cerita humor, tebak-tebakan dan kadang kalimatnya pendek tapi bikin saya tertawa. Pernah saya tanya, “lagi apa Om?” Jawabnya, “Nganggur.” Jawaban yang polos. Saya senang melihat dari berita yang diposting beliau terlihat bahwa beliau tetap beraktivitas, mengikuti kejadian yang ada di sekitarnya, walau terbatas melalui whats app atau google di internet.

Bagian Terakhir:

Tanggal 6 Agustus 2021. “Saat ini ga mau ketemu org. Badan kurang sehat.” “Saya sudah usia 88 th, siap untuk pulang.”

Tanggal 7 Agustus 2021. Saya memberi kekuatan dan doa kepada beliau. Juga minta maaf atas segala hal yang saya lakukan yang kurang berkenan kepadanya. Saya juga sebutkan banyak hal yang saya rasakan tentang betapa besar perhatian beliau kepada saya. Juga saya kirimkan foto-foto liburan saya di Bali. Jawaban beliau, “Oh saya salut. Kok ingat masa lalu. Saya sendiri lupa. Gbu.”

Tanggal 10 Januari 2022 subuh, saat saya baca ulang wa beliau, tidak sengaja terpencet tombol call. Langsung saya matikan karena itu sudah tengah malam.

Besoknya 10 Januari 2022 pk 11:55 beliau tulis, “Hallo! Tadi tlp sy? Ada kabar apa Hok? Saya jawab, “Maaf, kepencet Om.” Lalu saya ceritakan aktivitas saya minggu itu.

Selasa 11 Januari 2022 beliau wa lagi, “Saya sedang sakit perut sejak tadi malam.” Saya jawab, “Saya ikut doakan spy cepat sembuh ya Om.” “Kenapa sakit perutnya?” “Kalau diare, saya minum tek pekat dan hangat.”

WA saya terakhir diatas tidak sempat dibalas…

Rabu 12 Januari 2022 Pk, 15:20 beliau kembali kepada Sang Pencipta yang maha baik dan maha kuasa.

Selamat jalan Om Iskandar, pendetaku – teladanku – sahabatku.

Hermanto Kosasih – Jakarta.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai