by Sri Widiyantoro
Saya mengenal Bp Pdt Iskandar sejak saya mulai kuliah di ITB tahun 1981, sebagai gembala jemaat di GKI SMAK Dago, gereja di mana saya beribadah.
Saat mengikuti kelas katekisasi, saya semakin mengenal beliau secara lebih dekat. Kesan saya, beliau sangat memperhatikan setiap murid katekisasinya. Sebagai contoh, suatu sore beliau secara mendadak berkunjung ke tempat kos saya yang berada di Gang Cisitu Lama I yang lokasinya cukup jauh dari jalan utama, di mana beliau memarkir mobilnya. Di luar dugaan, beliau bilang bahwa kamar kos saya yang sangat sempit itu cukup rapi, meskipun tentu kondisinya sangat sederhana.
Sejak saat itu, beliau sering mengajak saya untuk makan bersama. Yang paling saya ingat waktu itu makan di PKL di dekat Klinik Elim, Jl. Sudirman. Saya juga pernah diajak pelayanan ke Jakarta.
Beliau yang menyetir mobil Suzuki pick up kecil (1000 cc) dan saya duduk di sampingnya menemani ngobrol di sepanjang jalan, karena saat itu saya belum bisa mengemudikan mobil. Beliau menraktir saya makan sate di Pancoran, Pasar Minggu.
Setelah saya lulus kuliah di awal tahun 1986 beliau mengajak makan malam saya dan meminta untuk menjadi calon majelis jemaat di GKI SMAK Dago. Saya sempat bergumul apakah menerima tugas ini atau tidak, sebab usia saya masih muda dan ingin berkarir dulu.
Namun, puji Tuhan, akhirnya saya bersedia mengemban tugas tersebut, meskipun tidak sampai satu periode penuh, sebab harus berangkat ke Jepang untuk melanjutkan studi di awal tahun 1989.
Ringkas cerita, sampai sebelum beliau dipanggil pulang ke Surga, kami masih sering bertemu terutama di acara keluarga, sebab beliau adalah Bapak mertua dari kakak ipar saya. Terakhir adalah sewaktu merayakan Natal 2021 kemarin. Saya duduk semeja dan berhadapan dengan beliau yang menikmati makan minum dalam kondisi sehat walafiat.
Dari perkenalan selama lebih dari 40 tahun tersebut yang paling mengesankan buat saya adalah bahwa Pdt. Iskandar adalah sosok yang penuh perhatian dan senang berbagi.
Beliau selalu ingat tanggal lahir saya dan selalu mengirimkan makanan yang beliau masak sendiri sebagai hadiah ulang tahun.
Saya yakin banyak rekan yang merasakan hal yang sama sebagai buah pelayanan dan kasih beliau semasa hidupnya.
Suatu teladan yang sangat baik untuk kita tiru, yaitu: penuh perhatian dan suka berbagi.
Puji Tuhan, kita sekarang dapat menjadi saksi dari buah pelayanan dan kerja keras dengan determinasi tinggi Pdt. Iskandar yang beraneka ragam di ladang Tuhan, dan salah satunya adalah wujud bangunan GKI Maulana Yusuf yang telah menjadi salah satu gereja besar di Bandung dengan jemaat yang terus bertumbuh.
Tuhan Yesus memberkati.
Shalom,
Sri Widiyantoro (Ilik)
Tinggalkan komentar