by Rayner Ambat Santoso
Menyambut Natal 2006 saya dan beberapa teman di GKI Maulana Yusuf terlibat dalam kegiatan untuk mendekor gereja seperti tradisi sebelumnya. Kali ini kami mencoba mengajak jemaat untuk ikut berpartisipasi menyumbang hiasan Natal, yang akan dipakai untuk menghias pohon Natal. Kebetulan yang dicantumkan di Warta Jemaat sebagai nomor kontak adalah nomor HP saya. Selang beberapa hari kemudian, ada telepon masuk dari nomor yang tidak dikenal dan menanyakan perlu apa saja untuk hiasan/dekorasi di gereja. Beliau memperkenalkan diri sebagai “Iskandar”, dan beliau menyatakan kesediaan untuk menyiapkannya.
Dengan semangat saya dan seorang teman memenuhi undangan “Iskandar” untuk mampir ke rumahnya di Jalan Ciung, untuk melihat hiasan Natal yang katanya sudah bisa kami ambil.
Pintu dibuka, ternyata “Iskandar” adalah seorang opa-opa. Sampai disini saya masih belum sadar siapa Opa Iskandar ini. Hanya ada perasaan, sepertinya wajahnya familiar, entah saya pernah bertemu dimana.
Saat itu sudah agak malam, sekitar jam 19:30, beliau menyambut kami dengan teh hangat dan kue, sambil bercerita soal akuarium air tawar yang ada di ruangan tempat kami ngobrol.
Waktu beliau menunjukkan hiasan Natalnya, kami kaget karena ternyata hiasan yang telah disiapkan cukup banyak dan ukurannya cukup besar, kira-kira diameter 20 cm-an.
Jenisnyapun bervariasi, ada yang seperti bola-bola, ada juga yang untuk di dinding/pintu (spt mistletoe), yang ternyata semuanya itu beliau buat sendiri, dibantu asistennya, yang bernama Aan.
Kami kemudian menceritakan, kalau kami belum tahu untuk hiasan-hiasan sebanyak itu, pohon natalnya nanti akan sebesar apa karena memang saat itu kami belum mendapatkan pohon natalnya.. Akhirnya kami pun pulang karena sudah malam, sambil berpikir bahwa tugas kami selanjutnya adalah mencari pohon Natal dengan ukuran besar agar bisa mengimbangi hiasan yang ada.
Sementara itu dalam perjalanan pulang, saya mencoba terus mengingat-ingat dimana pernah bertemu Opa, wajah dan namanya seperti familiar buat saya.
Tiba-tiba saya ingat, sepertinya muka beliau sama dengan salah satu foto yang ada di Ruang Pendeta GKI Maulana Yusuf. Saya pun mengkonfirmasi dengan karyawan gereja, apa betul rumah Pdt Iskandar di Jalan Ciung dan ternyata memang benar.
Beberapa hari kemudian, beliau kembali menelepon saya untuk memberitahu bahwa ada pohon cemara di rumah pendeta Bombong yang mau ditebang dan kebetulan pohon itu tinggi sekali. Di sini saya terkesan, ternyata dengan kami menceritakan tentang pohon natal yang belum siap, beliau mengerti kebingungan kami dan beliau ikut mencarikan solusinya. Luar biasa Opa.
Inilah awal mula persahabatan kami.
Dan pada pertemuan berikutnya, saat saya mengkonfirmasi, apakah benar beliau adalah Pdt Em. T.S. Iskandar, beliau membenarkan sambil tersenyum. Saya tidak pernah berjumpa dengannya di gereja, ternyata karena setiap hari Minggu, Opa Iskandar lebih banyak beribadah di Bahureksa (pos GKI Maulana Yusuf)
Mengenai pohon Natal raksasa, pada akhirnya jadi kami pasang. Dengan tingginya yang melebihi arc, pohon Natal dengan hiasan-hiasan hasil karya Opa Iskandar itu menjulang tinggi memeriahkan suasana Natal tahun 2006 di GKI Maulana Yusuf (sayang saya tidak punya foto-fotonya).
Dan ketika momen Natal sudah berlalu, pohon Natal itupun diturunkan dan hiasan-hiasannya dibereskan, namun persahabatan saya dengan Opa Iskandar tetap berlanjut. Kami masih sering berdiskusi dengan berbagai topik kehidupan. Saya masih ingat bagaimana beliau mengajak berdiskusi sambil bermain Rumikub.
Tahun 2008 saya mendapat penugasan dari kantor ke daerah yang cukup jauh, sehingga tidak dapat banyak bertemu untuk berdiskusi dan bercerita lagi dengan Opa. Barulah di tahun 2012-2013 setelah saya berkantor di Jakarta, saya kembali berkesempatan untuk mengunjungi Opa di rumahnya setiap saya pulang ke Bandung.
Setiap saya tanya “Opa mau dibawakan apa dari Jakarta ?”. Jawabannya selalu sama “Nggak usah lah, barang juga buat apa, makanan juga nanti nggak kemakan”. Beberapa kunjungan saya ke rumah Opa diakhiri dengan jalan-jalan kuliner. Karena saya yang sudah lama tidak tinggal di Bandung, saya kalah update dengan Opa untuk tempat-tempat makan baru. Saya juga ingat ada beberapa tempat makan yang dipilih Opa setiap kali saya ajak makan di luar, yaitu Cakwe Jalan Pajajaran, Puri Bambu, dan nasi Hainam di salah satu swalayan di Jalan Setiabudi. Seringkali juga beliau sudah menyiapkan beberapa makanan yang beliau masak sendiri. Menu masakan yang saya paling ingat adalah bistik lidah sapi dengan dessert pudding coklat.
Di kunjungan saya pada tahun 2013, Opa bercerita tentang keluarga dan anak-anaknya. Opa bilang anaknya yang kedua bekerja di perusahaan A. Wah, pacar saya, Stephanie (yang sekarang sudah jadi istri saya) juga bekerja di perusahaan A. Ketika saya ceritakan hal itu kepada pacar saya, dia tanya, siapa nama anaknya Opa. Jujur saat itu saya lupa, tapi pacar saya pakai ilmu cocoklogi dengan nama belakang Opa. Baru saya tahu, ternyata anaknya Opa merupakan salah satu petinggi di perusahaan A dan dari beberapa anak perusahaan yang beliau pimpin, salah satunya adalah perusahaan dimana pacar saya bekerja.
Tahun 2017 sekitar sebulan sebelum hari pernikahan kami, saya dan Stephanie diundang Opa untuk datang ke rumahnya. Ternyata Opa mau mengajak kami makan siang karena beliau tidak bisa menghadiri acara pernikahan kami di Jakarta. Opa juga sudah menyiapkan bingkisan sebagai hadiah pernikahan kami.
Saya bersyukur, sesaat sebelum pandemi, tepatnya tanggal 18 Januari 2020, saya dan Stephanie masih sempat mengunjungi Opa Iskandar.
Itulah pertemuan terakhir kami, karena tidak lama kemudian pandemi datang dan kami tidak bisa lagi bertemu langsung, tetapi masih tetap bertukar pesan lewat WA atau berbicara melalui telepon. Suatu berkat bagi saya memiliki sahabat lintas generasi yang sudah seperti keluarga sendiri untuk berdiskusi banyak topik kehidupan.

(Rayner Ambat)
Catatan Mama:

Yang pertama, jelas mama tertarik dengan tulisan indahnya. Kelihatannya ini tulisan anak muda. Lebih tertarik lagi, karena ternyata tulisan indah ini, hadir sampai 4X di buku tamu Opa. Penasaran, kira-kira anak muda ini punya cerita apa ya tentang Opa ? Iseng mama coba hubungi no HP yang tercantum disana. Dijawab… dan waktu mama minta kakak Rayner menulis tentang Opa, permintaan mama disambut dengan baik.
Tinggalkan komentar