by Hendri Halim
Saya mengenal Pdt. T.S. Iskandar sebagai pendeta yang melayani di GKI Juanda (Aula Lyceum) sewaktu masih duduk dibangku sekolah SMAK Dago. Sesekali pernah ikut ibadah hari Minggu di GKI Juanda dan mendengar kotbah dari pdt. Iskandar karena saat itu saya belum menjadi orang Kristen atau belum mengenal dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi. Memasuki masa kuliah tahun 1984, saya baru menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat tetapi belum di baptis.
Tahun 1985 an saya mulai mengikuti kegiatan di GKI Juanda yakni Persekutuan Pemuda, Persekutuan Doa Pagi, dan beberapa waktu kemudian saya terpanggil untuk ikut melayani di Komisi Pemuda. Dan saat itulah saya mulai mengikuti Katekisasi yang dipimpin oleh pdt. Iskandar untuk mempersiapkan diri dan hati untuk di baptis pada tahun 1987. Dari sinilah saya mulai berinteraksi dengan pdt. Iskandar baik pada waktu pelajaran Katekisasi maupun pada saat pelayanan di Komisi Pemuda.
Saya mulai mengenal pdt. Iskandar, yang juga selalu saya sapa dengan Om Is sebagai seorang pendeta dan gembala jemaat yang sangat memperhatikan pertumbuhan iman jemaat yang digembalakannya. Selain menyampaikan khotbah2 di mimbar, di acara persekutuan dan pembinaan, beliau juga aktif dalam pelayanan pribadi dengan cara melawat anggota jemaat yang baru yang ada di rumah maupun ditempat kost2 mereka. Dan juga selalu mengunjungi rumah2 pasangan muda yang baru menikah, termasuk saya dan Vera Manurung, istri saya yang setelah menerima pemberkatan nikah oleh Om Is pada bulan Maret 1992, beberapa waktu kemudian sudah langsung dikunjungin oleh Om Is untuk menanyakan keaadaan kami, menguatkan dan membagikan perhatian seperti orang tua kepada anak2nya

Saya banyak mendapat cerita dari teman2 pemuda yang sangat terkesan dengan kunjungan Om Is kepada mereka selaku keluarga muda, walaupun rumahnya ada di dalam jalan2 kecil (gang), mereka terharu, sukacita dan sangat dikuatkan oleh pelayanan Om Is, dan juga cerita dari teman2 yang didatangin oleh Om Is di tempat2 kost mereka untuk menanyakan keadaan mereka dan juga studi mereka. Inilah kesan yang mendalam yang kami rasakan oleh pelayanan pribadi Om Is kepada kami saat itu dan tetap kami ingat sampai sekarang.
Om is juga dikenal sebagai seorang pendeta yang sangat teliti dan sistematis di dalam menyusun liturgi2 kebaktian dan juga sangat memperhatikan assesoris2 penataan mimbar dalam memperingati hari-hari raya acara gerejawi. Satu lagi hobi Om Is yang semua orang pasti mengetahuinya yaitu hobi memasak, tentu masakannya enak2. Setiap even acara kebersamaan di gereja yang ada acara makan2nya, selalu ada kontribusi makanan dan minuman dan Om Is.
Setelah memasuki masa pensiun (emeritasi), dan setelah Om Is juga memutuskan untuk tidak lagi melayani kotbah di hari minggu, dengan alasan supaya rekan2 pendeta yang lebih muda bisa berperan lebih melayani jemaat, interaksi saya dengan Om Is semakin jarang. Pertemuan dengan Om Is terjadi saat bersama-sama mengikuti kebaktian hari minggu baik di Maulana Yusuf maupun di Bahureksa, sebelum atau sesudah ibadah, saya pakai waktu untuk mengobrol dan menanyakan keadaan beliau. Atau pertemuan terjadi di acara2 yang dilaksanakan di Wisma Manula Dorkas, yang merupakan buah karya Om Is untuk melayani mereka yang sudah memasuki usia lansia dan butuh wadah untuk berinteraksi dan berkumpul serta bertumbuh bersama dalam komunitas lansia. Om Is selalu memberikan masukan2 dan ide2 untuk pengembangan di Wisma Dorkas setiap ketemu dengan kami para Pengurus di wisma Dorkas.
Beberapa kali saya berkunjung ke rumah Om Is di jl. Ciumbuluit Bandung, sekedar ngobrol dan menikmati makanan khas yang dimasak oleh beliau dan tentunya enak-enak. Penulis ingat beberapa tahun yang lalu sebelum masa pandemi covid 19 berkunjung kerumah beliau, dan saat itu sore hari, kita minum teh bersama, ngobrol dan menikmati snack buatan Om Is dan sampai waktu sekitar magrib, Om Is berkata : “Hendri..kita keluar makan malam yuk !”
Langsung saya iyakan, kemudian kita keluar mencari makan malam di resto yang ditunjuk oleh Om Is. Saya ingat beliau memesan satu burger steak dan satu piring salad sayuran, dan saya sempat berpikir apa bisa habis ya, karena porsi makanannya cukup besar, dan mengingat usia beliau yang sudah senja saat itu. Ternyata semua makanan tersebut habis dan beberapa saat kemudian saya antar beliau pulang kerumah dan saya juga pamit untuk pulang juga.
Setelah pandemi virus covid 19 melanda indonesia, saya sudah tidak pernah berkunjung lagi kerumah Om Is, dan sesekali pernah komunikasi lewat WA dan mendapat kabar beliau dari teman2. Terakhir mendapat kabar, bahwa beliau telah dipanggil pulang ke rumah Bapa di Sorga, hati sempat sedih karena selama pandemi belum pernah berjumpa secara langsung dengan beliau.
Selamat beristirahat kekal bersama Tuhan Yesus…Om Is, karya pelayananmu sudah mewarnai seluruh kehidupan jemaat GKI jl. Maulana Yusuf 20 Bandung.
Kiranya kami diberikan kekuatan dari Tuhan untuk dapat meneruskan cita-cita Om Is untuk melayani dan menjadi berkat bagi sesama manusia, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan penghiburan dari Tuhan kita Yesus Kristus, amin.

Saya dan Pdt TS. Iskandar pada acara peringatan 50 tahun GKI Maulana Yusuf
Tinggalkan komentar