by Harun Laban
Kami sekeluarga mengenal Bpk. Pdt. Em. TS Iskandar sejak pertama kedatangannya di Bandung setelah tugas pelayanan beliau dikota Cirebon selesai.
Pdt. Iskandar, yang dulu kami sapa sebagai Boksu Tjioe Tjien Tjoan, sempat tinggal beberapa hari dirumah orangtua saya, sebelum beliau membawa keluarganya pindah ke Bandung. Beliau menjadi gambala kami di GKI Juanda setelah didewasakan dari sebuah Post GKI Kebonjati, dan yang akhirnya berubah menjadi GKI Maulana Yusuf.
Pada tahun 1971, Pdt.Iskandar sempat memberkati pertunangan saya dengan Kiem, dalam sebuah acara sederhana dirumah mertua saya, sebelum kami berangkat ke Jerman untuk studi disana.
Sekembalinya dari studi, kami tinggal di Jakarta, namun anak kami yang pertama, Johan, yang lahir di Bandung pada tahun 1977, sempat dibaptis oleh Pdt.Iskandar di GKI Juanda.
Kami, bersama ibu saya yang waktu itu masih hidup, sempat bertemu dengan beliau dirumah Davy & Rosmala di Singapura pada waktu beliau menjalani operasi tulang belakang sekitar tahun 2011.
Terakhir kali kami berjumpa dengan Pdt.Iskandar adalah pada peringatan pernikahan emas kakak / ipar kami, Jakub & Susana Zakaria pada tahun 2017 yang lalu di Jakarta.
Kesan yang ditinggalkan Pdt.Em.Iskandar sebagai seorang Hamba Tuhan adalah sosok pribadi yang ramah, rendah hati, dengan intelektualitas tinggi serta talenta seni yang dimiliknya.
Kami bersyukur pada Tuhan untuk kesempatan yang Dia berikan pada kami sekeluarga untuk turut mengalami / menikmati pelayanan dan penggembalaan beliau semasa hidupnya, Amin.
Keluarga Harun Laban & Kiem.

Foto saat ibu saya mengunjungi Pdt Iskandar
selepas menjalankan operasi di Singapura
Tinggalkan komentar