by Julius B. Dewanto
Saya punya banyak pengalaman dengan oom Is (begitu saya memanggil pdt. TS Iskandar) .. saya benar-benar kagum akan kemampuan beliau di bidang kuliner (saya masih menyimpan resep sosis Hongkongnya), melukis, membuat kostum panggung, pendalaman Alkitab, tetapi kali ini saya mau bercerita mengenai kerendahan hati beliau.
Sebelum saya menceritakan kesan saya mengenai kerendahan hati oom Is, saya harus menceritakan sedikit mengenai latar belakang keluarga saya, khususnya ayah saya. Ayah saya, walaupun pada saat-saat terakhir hidupnya menjadi orang percaya, tidak pernah menginjakkan kaki di gereja, kecuali pada hari pemberkatan pernikahan anak-anaknya. Ayah juga sangat cuek dengan orang yang tidak dikenalnya, sehingga praktis ayah itu jarang sekali, kalau tidak mau disebut tidak pernah, bersosialisasi dengan kawan-kawan istri dan anak-anaknya, sehingga ada kesan bahwa ayah adalah seseorang yang sombong/tinggi hati.
Jadi kalau oom Is berkunjung ke rumah kami (cukup sering juga), beliau hanya ditemani oleh ibu dan saya saja. Ayah, walaupun pada saat itu sedang ada di rumah, akan terus melakukan pekerjaan yang sedang dikerjakannya saat itu tanpa mempedulikan kami. Tetapi walaupun diacuhkan oleh ayah, om Is tetap berinisiatif menyapa dan berusaha mengajak ayah saya berbincang-bincang…
Suatu hari saya kebetulan ada di rumah, Ayah sedang berkebun menyiangi rumput-rumput liar di halaman depan rumah dan tiba-tiba saya dengar ayah ngobrol dengan seseorang … Hal yang aneh buat saya. Segera saya melongok … Ternyata yang ngobrol dengan ayah itu adalah oom Is. Saat itu ayah duduk memakai dingklik, oom Is berjongkok di sebelahnya. Suprise, karena seingat saya belum ada seorang tamupun yang pernah menemani ayah di halaman rumah, apalagi mengajaknya ngobrol sambil jongkok.
Kalau si A diacuhkan oleh si B, maka menurut logika saya wajar saja kalau si A ini juga menjadi acuh dan menjaga jarak dengan si B, tetapi saya tidak melihat ini dilakukan oleh oom Is.Dengan segala kerendahan hatinya, oom Is tetap mau berusaha membuka pembicaraan dengan ayah, sehingga akhirnya ayah luluh dan menanggapi obrolannya.
Kerendahan hati om Is saya coba terus teladani seumur hidup saya.
Tinggalkan komentar