by Indriati Sihombing
Keluarga kami mengenal oom Is sejak saya masih duduk di bangku SD.
Walaupun kedua orangtua saya adalah anggota GKI Kebonjati, tapi kami empat bersaudara bersekolah minggu di GKI Juanda. Selain karena jaraknya yang memang lebih dekat dari rumah kami, kami diajak pertama kali oleh ci Grace Salim ke sekolah minggu di GKI Juanda.
Oom Is suka datang ke rumah kami, bawa sup merah atau huzarensla yang dimasak sendiri. Dan kami tentu merasa senang, karena masakannya enak.
Oom Is juga mengikuti suka duka keluarga kami dan menjadi sosok Pendeta yang baik bagi saya dan keluarga saya.
Kornel yang akhirnya menjadi suami saya, adalah salah satu anak kesayangan Oom Is. Onye, panggilannya untuk Kornel.
Ketika Oom Is mulai belajar bagaimana mengoperasikan komputer, Kornel salah seorang yang sering ditanya jika Oom Is menemui masalah dengan komputernya. Mungkin karena tidak setiap masalah tentang komputer bisa dipecahkan oleh Kornel, Kornel akhirnya memberikan buku tentang pengoperasian komputer untuk Oom Is.
Ketika Lily, anak sulungnya menikah dengan Andi. Oom Is meminta supaya Kornel menjadi ketua panitia pesta pernikahan Lily dan Andito.
Satu hal yang saya ingat sekali ..Waktu saya dan Kornel mau berbulan madu ke puncak, Oom Is dan Tante mengantarkan kami ke hotel tempat kami menginap. Selesai bulan madu, baru kami berpikir mau pulang dengan naik kendaraan umum, tiba-tiba Oom Is menelpon Kornel dan bilang mau menjemput kami untuk sama-sama pulang ke Bandung.
Saya ingat sekali, untuk mengatasi ngantuk, dengan cengek, yang tersedia dekat setir.
Kebaikan hati oom Is pada kami sebagai keluarga baru, merupakan kenangan berkesan bagi dan tidak pernah dapat saya dilupakan.
Ketika Kornel meninggal Mei 2012, Oom hadir di rumah kami dan juga pada kebaktian penghiburan di PT DI. Oom Is membacakan doa dalam kesempatan itu. Saya merasa, Oom Is merasa kehilangan salah satu anak kesayangannya.
Setelah Kornel tidak ada, Oom Is dan tante masih sering datang ke rumah. Membawa hasil masakannya, dan selalu cari Korin dan Luhut. Pada satu kesempatan di masa paskah, Oom Is datang ke rumah membawa pudding kelinci lengkap dengan pudding telur dan agar-agar rumput hijaunya. Tentu saja anak-anak senang sekali dapat pudding kelinci yang lucu dan enak kata mereka. Oom Is memang sangat kreatif, bukan hanya pandai memasak, tapi juga melukis.
Saat buku Indonesia Mengantarmu Pulang sudah rampung, saya mengantarkan bukunya ke rumah Oom Is di ciumbuleuit. Saya bawakan juga carott cake buatan saya untuk Oom Is, dan pada kesempatan itu menceritakan kalau saya sedang memulai usaha makanan. Oom Is kelihatan senang mendengarnya dan mendukungnya.
Begitu banyak kebaikan Oom Is yang kami sekeluarga rasakan. Seperti tak pernah habis kasih sayang yang Oom Is tuangkan kepada kami.
Dan ketika mendengar cerita banyak teman di saat persemayaman jenazahnya di gereja dan juga membaca chat-chat yang masuk saat Zoom, saya dibuat terkagum-kagum. Ternyata begitu banyak orang yang merasakan kasih Tuhan Yesus lewat kebaikan, perhatian dan kasih sayang yang Oom Is bagikan kepada mereka.
Seperti tak pernah habis kasih sayang dan perhatiannya…..
Terimakasih Tuhan Yesus, kalau kami boleh mengenal sosok seorang Pdt TS. Iskandar.


Tinggalkan komentar