by Paulus Nugroho
Dulu waktu remaja, Oom Tjan tinggal di rumah kami.
Oom Tjan itu agak bandel, kalau pergi, pulang kemalaman sampai lompat pagar. Rasanya pergi sama adik-adik mamiku, tante Koba dan tante Diene. Aku masih terlalu kecil untuk mengerti.
Oom Tjan suka godain aku, panggil dng nama AA-tjieee… AA-tjiee
Selalu menjadi kesaksian dari Oom Tjan bahwa dia bertobat karena mamiku yang jadi saksi hidup/percontohan buat Oom Tjan.
Hobby masak dan jiwa seninya sudah tampak menonjol sejak muda.
Ada saja kreatifitasnya. Koran-koran bekas, bunga-bunga di taman, semua bisa disulap jadi hiasan yang indah di gereja.
Sampai akhirnya Oom Tjan sekolah teologi di Jakarta, dan kami jarang bertemu.
Saat mamiku sudah menurun kesehatannya, Oom Tjan selalu setia menelpon, guyonan dan saling menghibur.
Ooom Tjan… you are a very special and unique person.Very kind hearted
Your legacy and memory …. Make me miss you 🥰
AA keponakan yang mbeling
Tinggalkan komentar